lebaran

YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN PERANTAU SOAL TRANSPORTASI MENJELANG LEBARAN

Ya namanya saja lebaran. Setahun sekali kecuali di tahun 2030 nanti. Pasti orang-orang yang tinggal jauh dari kampung halaman ingin pulang kampung. Entah tujuan pulangnya silaturahmi ataupun pamer hasil kekayaan yang didapatkan di perantauan. Kalau saya sih yang jelas ingin makan masakan ibu saya yang enak dan juga gratis itu.

Momen lebaran itulah yang buat banyak orang berbondong-bondong pulang. Permintaan akan jasa transportasi akhirnya meningkat. Sementara jasa transportasi yang ada terbatas. Siap-siap hukum ekonomi berjalan. Permintaan naik dan supply juga segitu-gitu saja ya sudah pasti bikin harga akan naik.

Harga tiket transportasi yang siap untuk naik yang jadi penyebab orang-orang segera download aplikasi booking tiket. Cepat dan efisien. Siapa cepat dia pulang, siapa lambat siap-siap lebaran di kota perantauan yang sepinya teramat.

Pusing bagi saya kalau sudah menjelang lebaran. Khususnya di perantauan seperti sekarang ini. Saya ini termasuk yang mengandalkan tranportasi kereta api untuk bisa sampai ke stasiun terdekat dari rumah. Sementara H-3 bulan saja tiket kereta sudah ludes. Dua tahun sudah saya mengandalkan tiket kereta tambahan. Untung jalan untuk bertemu keluarga selalu dimudahkan. Memang kalau niat baik, akan selalu diberikan jalan.

Kepusingan tidak hanya berhenti di saya. Teman-teman satu grup WA saya juga merasakan hal yang sama. Mereka mengeluhkan satu hal yang sangat krusial menjelang lebaran. Iya, mengenai transportasi. Kebetulan nasib mereka jauh lebih menyakitkan ketimbang apa yang saya alami.

Kebanyakan dari kami para anggota grup WA berasal dari Pulau Jawa. Tapi kawan-kawan saya ini karena pekerjaan yang menuntut, harus meninggalkan tanah subur di Pulau Jawa untuk mengabdikan diri di pulau seberang.

Keluhan kawan-kawan saya mulai berdatangan menjelang ramadhan tiba. Tema keluhan semua orang itu hampir sama yaitu tiket pesawat yang mahal. Memang sejak awal tahun tiket pesawat nauzubillah mahalnya. Seperti tidak bertoleransi bahwa masih banyak orang Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Kawan-kawan saya mulai sambat bahwa untuk beli tiket mudik dan balik lagi ke perantauan sudah menghabiskan THR lalu bagaimana dengan membeli baju baru dan bagi-bagi angpau untuk kerabat. Bisa-bisa gaji mereka tidak ada sisa. Ya memang, manusia tempatnya sambat dan lupa. Sambat karena tidak ada uang, lupa karena uang untuk ditabung sudah menguap entah kemana.

Tidak etis rasanya kalau terus menyalahkan pihak maskapai karena harga yang mahal. Saya mulai melakukan riset kecil-kecilan. Dari hasil riset saya memang benar kawan-kawan saya ini saja yang merantaunya kejauhan. Harga untuk hari-hari biasa selain lebaran saja mahal, begitu kok minta harga di hari-hari khusus seperti waktu mudik minta lebih murah. Yo ora mashook.

Lagipula selalu ada tranportasi alternatif yang lebih murah. Kawan saya yang lain memilih mudik menggunakan kapal. Inilah contoh orang yang realistis. Ya memang perjalanan jadi lebih lama. Tapi bukannya selalu ada kisah dalam setiap perjalanan? Dalam perjalanan dengan waktu yang lebih lama, tentu kisahnya lebih banyak. Bandingkan dengan naik pesawat yang hanya check-in, naik pesawat, lihat awan, lalu mendarat dan sampai tujuan. Kisah yang bisa diceritakan paling pol ya tentang hampir ketinggalan pesawat.

Selalu ingat sebuah segitiga dengan nyaman, murah, dan cepat di tiap sudutnya. Kita hanya akan bisa memilih dua dari tiga pilihan. Mau nyaman dan murah ya naik kapal saja untuk pulang tapi sayangnya waktu harus dikorbankan. Mau nyaman dan cepat ya siap-siap saja ada harga yang harus dibayar untuk beli tiket pesawat yang astagfirullah mahalnya. Kalau ingin murah dan cepat, naik saja buroq. Langsung ke sidratul muntaha.

Hooh?

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae