tidak adil dari lahir

TIDAK ADIL DARI LAHIR

Kepada siapakah keadilan Tuhan berikan? Keadlian yang mereka agung-agungkan itu. Keadilan yang nyatanya tak pernah menyentuhku. Aku curiga keadilan Tuhan tidak sampai ke tanganku. Macet di tangan-tangan dengan jari yang besar. Sehingga keadilan yang mereka sebut karunia itu tidak ada setetespun yang berhasil menyentuh telapak tanganku. Ataukah mungkin keadilan dari sudut pandangku berbeda dengan keadilan versi Tuhan? Mungkinkah adil di matanya belum tentu adil di mataku.

Aku terlahir dengan raga yang normal. Tubuh cenderung sehat. Komplit. Kaki ada, tangan ada, kepala ada. Tanpa ada cacat suatu apapun. Sungguh jika menyebut tentang organ, aku akan bersyukur sebab masih banyak saudaraku yang lahir cacat. Dosa apa mereka sehingga harus dilahirkan seperti itu. Bukankah seorang bayi yang lahir di dunia adalah bayi yang suci? Kalaupun itu azab dari ayah dan ibunya mengapakah harus ditimpakan pada anaknya yang tidak tahu apa-apa yang bahkan memilih lubang tempatnya lahirpun ia tidak bisa.

Raga yang normal membuatku tumbuh dewasa juga dengan normal. Sama dengan kebanyakan anak-anak lainnya. Sama ketika bermain, sama ketika tidur. Hanya soal makan yang tidak sama. Keluargaku memang miskin. Tidak berharta. Jangan bicarakan soal tabungan. Untuk makan saja sudah seperti mengorek-ngorek lubang hidung mencari upil yang menyelip. Susah.

Bagiku hidup hanya cukup sandang, pangan, dan papan. Sandang yang kurang layak dan cenderung itu-itu saja. Celana seragam sekolah untuk bermain di sore hari kemudian besoknya dipakai untuk mengikuti upacara bendera. Sarung yang dibuatkan emak dari selendang bekasnya yang sudah sobek. Memang motifnya bagus. Batik dengan lukisan burung. Untuk makan rasa-rasanya aku bisa mematahkan semua teori kesehatan, teori diet, dan beberapa ahli gizi. Yang aku makan nasi dengan kerupuk. Sesekali saja makan enak jika tetangga ada hajatan atau bapak dapat jatah makan dari lemburnya kerja nguli di proyek. Kalau kurang kuah tinggal aku tuangkan air putih. Nyatanya aku tetap tumbuh sehat tak kurang suatu apapun. Cenderung kuat dan bertenaga hingga saat ini umurku yang menyentuh angka dua puluh.

Nyatanya pertumbuhan badanku tak disertai pertumbuhan otakku. Pertumbuhan badan didukung oleh asupan makanan. Pertumbuhan pikiran didukung pendidikan. Untuk yang satu ini aku tidak dapat. Bukan, bukan karena sekolah mahal. Sekolah itu murah. Pemerintahku sudah baik hati. Tidak, aku tidak menyalahkan kalian-kalian yang di atas sana yang membuat aturan. Aku hanya sebal pada diriku sendiri. Rasanya malas sekali sekolah. Sekolah tidak menghasilkan uang. Yang ada hanya bapakku semakin tua dan tidak cocok lagi rasanya untuk kerja jadi kuli proyek seperti sekarang ini. Diam saja melihat orang tua berpeluh keringat rasanya tidak nyaman.

Lebih baik aku ikut bapak bekerja. Kebetulan juga orang-orang dari negeri asing itu sedang membutuhkan orang-orang lokal dengan tenaga kuat namun mau dibayar murah. Tentu saja untuk menyelesaikan proyek pemerintah yang sedang mereka garap. Tentu saja aku dapat dengan mudah masuk. Selain dari rekomendasi bapakku mereka sedang benar-benar membutuhkan tenaga. Apalagi yang mau dibayar murah seperti aku.

Rasa-rasanya menyenangkan membayangkan bisa dapat uang dari hasil bekerja sendiri. Setiap gajian, langsung bisa aku belikan barang-barang yang aku inginkan. Besoknya kerja lagi, dapat uang lagi. Begitu seterusnya. Setidaknya aku tidak bergantung pada bapak lagi.

Pagi berikutnya aku sudah mandi waktu subuh. Baru kali ini aku mandi sepagi ini. Di pagi-pagi lainnya jarang sekali aku bangun sepagi ini. Ya memang buat apalagi bangun pagi. Tidak ada gunanya. Kecuali sekarang ini. Saat aku harus berangkat bersama bapak ke tempat kerja di sebuah proyek konstruksi yang sedang dibangun. Dengan kaos lengan panjang dan juga sepatu boots ditambah rompi dan helm proyek akupun membonceng bapakku.

Orang berpendidikan tinggi dibayar atas hasil, orang berpendidikan rendah dibayar atas waktu. Itulah bedanya kami para kuli dengan para staf di kantor. Kami para kuli harus berangkat pagi tepat pukul tujuh. Harus bekerja delapan jam sehari di luar jam istirahat. Dari pagi sekali hingga senja tiba. Jika ingin uang tambahan, sudah pasti kami harus lebih menyerahkan waktu-waktu kami untuk mereka. Lewat kerja lembur.

Berbeda dengan para staff kantor yang ada. Mereka lebih beruntung. Keadilan Tuhan lebih berpihak pada mereka. Mereka dilahirkan Tuhan dari lubang para ibu yang bermateri. Minuman mereka sedari kecil adalah asi ditambah susu formula yang kaya omega tiga. Mereka bisa kuliah. Mereka dibayar berdasarkan hasil yang mereka raih. Selama hasil yang diharapkan mencapai target, waktu kerja bukanlah masalah. Justru jika jauh melampaui target, mereka akan mendapatkan bonus.

Bekerja sebagai kuli bangunan artinya harus siap dengan pekerjaan apa saja. Dari mulai membersihkan area kerja, angkut-angkut, membantu mekanik membereskan mesin-mesin rusak, dan lain sebagainya.

Pada awal aku bekerja aku ditempatkan di bagian logistik. Tugasku cukup mudah. Menemani sopir memenuhi segala kebutuhan di lokasi proyek. Mengisi solar mesin-mesin, mengangkut air minum untuk kawan sesama kuli, dan tak ketinggalan mengangkut material. Sudah menjadi kebiasaanku untuk menyelesaikan segala pekerjaanku dengan cepat dan tepat agar waktu istirahatku menjadi lebih lama. Agar aku juga bisa punya waktu luang untuk sekedar merokok dan minum es teh manis dan makan gorengan di sebuah warung janda.

Dasar nasib, kami para kuli bangunan dibayar berdasarkan waktu. Setelah mandor melihat pekerjaanku sudah selesai, akupun dipindahkan ke bagian yang ditinggalkan temanku sesama kuli yang sedang tidak masuk. Pekerjaan yang cenderung berat dan akupun kurang tahu teknik mengerjakannya. Benar-benar sial. Tahu begitu aku tidak buru-buru menyelesaikan pekerjaanku kalau tahu akan dapat tugas-tugas baru. Pak mandor, kami ini menyelesaikan tugas kami dengan cepat dan tepat untuk bisa mendapatkan waktu luang lebih. Bukannya untuk mendapatkan tugas-tugas baru. Apalagi tugas yang yang sebenarnya bukan tugas saya melainkan teman saya yang sedang enak-enakan di rumah.

Tapi mau bagaimana lagi. Aku hanyalah seorang buruh. Seseorang yang dibayar berdasarkan waktu. Seorang kuli yang bagi para manager-manager itu hanyalah sebuah angka dalam biaya produksi. Kalau aku banyak tingkah, apalagi tak mau menuruti apa kata mereka, yasudah. Habis sudah karirku yang kecil ini. Masih banyak orang yang senasib sepertiku. Senasib karena tak mendapatkan keadilan bahkan sejak lahir. Dan mereka tentu menginginkan sebuah pekerjaan. Satu kegiatan yang menghasilkan. Benar-benar miris.

Aku menjual waktu dan tenagaku. Tak ada lagi yang bisa menambah penghasilanku kecuali dengan menjual dua barang ini. Jika aku ingin uang tambah lebih, maka aku harus bersiap kerja lembur. Yang berarti memberikan waktu dan tenagaku untuk mereka. Memang melelahkan bekerja dibayar berdasarkan waktu. Setiap hari sepertiga dari dua puluh empat jam habis hanya untuk bekerja.

Terkadang lelah juga jika setiap hari harus bekerja. Apalagi kerja proyek seperti ini sulit sekali untuk libur. Karena jika libur sehari saja maka tidak akan ada penghasilan untukku yang dibayar harian. Berbeda dengan para staf kantor itu yang dibayar bulanan. Mereka bisa izin tidak masuk, tetapi gaji mereka tetap penuh. Bahkan setiap berapa bulan sekali, mereka bisa mendapat cuti.

Ada kalanya aku ingin mencari tambahan lewat kerja lembur, tapi lebih banyak badanku pegal. Lelah bekerja. Rasanya tak cukup gaji harian ini. Harusnya aku terus mencari, tapi apa daya badan tak kuat. Sering lelah. Rasanya setiap jam kerja sudah selesai ingin sekali pulang. Membayangkan kasur di rumah sehabis mandi begitu nikmatnya. Namun terkadang ketidak-adilan kembali melanda. Waktu yang seharusnya sudah kugunakan untuk pulang ke rumah, masih saja mereka-mereka itu ambil. Masih saja mereka memaksa untuk lembur tanpa menunggu persetujuanku. Lagi-lagi alasan kebutuhan membuatku tak kuasa mengiyakannya.

Aku tidak akan menyalahkan Tuhan soal ketidakadilan ini. Aku hanya mau menyalahkan para motivator itu. Mereka selalu berkata hidup ini adalah pilihan. Aku terus mempertanyakan apa yang dimaksud pilihan itu. Bahkan sejak lahir saja kita semua sama-sama tidak bisa memilih lahir lewat lubang ibu yang mana.

Mengapa kiranya ada anak yang lahir dari seorang ibu yang kaya, dan ada orang sepertiku yang lahir dari seorang ibu yang miskin? Bukankah itu tidak adil sejak lahir?

 

 

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae