lomba blog

Speech Singkat Menanggapi Lomba Blog yang Saya Menangkan

Pertengahan Desember saya berhasil menjadi salah satu pemenang dalam lomba blog yang diadakan oleh Majalah Infokomputer.com. Lomba blog yang dimaksud itu bertemakan smart city alias kota pintar. Bagi saya yang merupakan seseorang yang tidak pintar-pintar amat tapi memenangkan lomba blog yang bertemakan kota pintar, sungguh bertolak belakang. Tapi tak mengapa. Toh ini pertama kalinya tulisan saya mendapatkan penghargaan. Hadiahnya lumayan lagi.

Saya terdorong mengikuti lomba blog kota pintar karena saya yang mulai aktif menulis di blog. Tulisan saya harus berguna. Saya menulis di blog memang tidak punya alasan ndakik-ndakik. Kebanyakan orang yang nge-blog ingin terkenal. Sebagian juga ingin mendapatkan penghasilan atas adsense. Saya tahu adsense memang menggiurkan wong saya juga pasang iklan itu di blog saya ini. Dan saya juga tahu bahwa banyak orang terkenal berawal dari blog. Sebut saja Raditya Dika ataupun Benazio Rizki Putra. Ah tapi saya rasa terkenal itu bonus. Itu semua bonus. Adsense dan popularitas itu bonus.

Saya menulis di blog bermula di awal 2018. Berawal dari hobi baru yaitu membaca. Iya membaca. Sebenarnya saya di waktu kuliah dan sekolah tidak terlalu suka dengan membaca. Cenderung menghindari. Membosankan.

Semua berawal dari zaman saya kuliah. Saya adalah aktifis. Aktifis game. Menggalakkan setiap mahasiswa lainnya untuk membuat tim game sendiri. Bersatu untuk mengalahkan musuh-musuh yang ada. Membasmi para amatir yang berlagak dewa. Dan pengorbanan waktu dan tenaga di bidang game telah membawa saya menjuarai sebuah turnamen bergengsi (di jurusan saya). Saya yang kebetulan waktu itu menjadi kapten mengangkat trofi yang diberikan panitia. Betul-betul besar kepala saya waktu itu.

Berjam-jam saya habiskan dengan bermain game. Membaca? Mana terpikirkan. Membosankan. Apalagi bacaan saya waktu itu buku-buku kuliah yang penuh dengan data dan angka yang memusingkan. Tapi waktu terus berjalan. Saya lulus duluan meninggalkan para sahabat satu permainan. Tak ada lagi teman main game. Tidak ada lagi. Saya harus dihadapkan pada kenyataan dunia kerja yang membuat saya tidak bisa lagi menyentuh dunia game.

Saya bingung mengisi waktu luang setelah masuk ke dunia kerja. Mau main gitar tidak ada gitar. Mau main game tapi komputer saya ada di rumah sementara saya harus merantau. Sial betul. Sampai pada akhirnya saya bertemu dengan Harbolnas Gramedia yang memberikan diskon setengah harga untuk semua buku. Di situ hobi saya mulai berubah.

Karena murahnya buku yang dijual, saya tergiur membeli. Buku tentang self improvement waktu itu. Saya beli saja karena memang gaji saya turah-turah. Saya mulai membaca dan membaca. Kok ternyata seru juga apa yang dijabarkan dalam buku ini. Saya tidak pernah memikirkan sebelumnya. Kemana saja saya selama ini. Wah benar-benar tidak betul kurikulum sekolah. Siswa digembar-gemborkan untuk gemar membaca tapi pada akhirnya bacaan yang ada hanya buku-buku pelajaran. Satu jenis buku pasti membosankan. Seperti di perpustakaan jurusan yang saya kunjungi saja kebanyakan isinya penelitian-penelitian alias skripsi. Membosankan sekali. Ditambah beberapa buku fiksi. Buku-buku self improvement tidak ada. Buku-buku kiri tidak ada. Siapa yang tidak bosan jika buku-buku yang ada hanya itu-itu saja. Dan akhirnya kebiasaan membaca tidak bisa ditumbuhkan.

Saya mulai rutin membeli buku sejak saat itu. Sampai suatu saat otak saya ini penuh. Penuh sesak dengan beragam ilmu dari buku. Saya merasa semua yang saya tahu harus saya tuangkan. Tapi apa media yang tepat? Saya bukanlah seorang penulis diary yang bertulisan tangan bagus, cenderung mirip seperti menulis dengan cakar ayam. Saya juga bukanlah seorang jurnalis yang tulisannya sanggup untuk dimuat di berbagai media. Yasudahlah blog saja.

Blog saya pilih karena tanggung. Kalau saya menuli di diary yang tahu saya saja. Tulisan saya jadi kurang bermanfaat untuk orang lain. Kalau saya menulis untuk media online terkenal belum tentu terbit dan itu akan sama saja bohong jika orang-orang tidak akan tahu. Mending saya menulis di blog. Kalau memang tulisan saya bermanfaat toh banyak yang baca.

Pada akhirnya saya bisa benar-benar bermanfaat bagi Indonesia melalui tulisan saya lewat lomba blog kota pintar yang alhamdulillah saya jadi salah satu pemenangnya. Tapi sesungguhnya saya tidak tahu tulisan saya yang berhasil menjadi pemenang yang mana. Karena panitia sendiri tidak menyebutkan. Saya mengirim tiga artikel sebagai berikut:

Ingat! Tulisan ini tidak bermaksud menyombongkan diri. Wong saya memang kenyataannya menang ya mau diapakan lagi? Jangan iri, berkarya saja..

Please follow and like us:

6 thoughts on “Speech Singkat Menanggapi Lomba Blog yang Saya Menangkan

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae