STC

Smart Traffic Controller: Terobosan Baru Untuk Atasi Kemacetan?

Sudah saatnya di zaman sekarang semuanya serba smart. Dari hanphone, TV, rumah, semuanya serba smart. Smart yang dimaksud di sini adalah smart dengan segala macam automatisasi yang membuat pekerjaan bisa dilakukan tanpa harus ada manusia yang menjalankan. Manusia hanya perlu menciptakan sekali, dan segala hal terprogram yang berlabel smart akan melakukan sisanya.

Nah bisakah yang smart-smart ini juga mengatur lalu-lintas? Mana kita tahu kalau belum dicoba. Di Indonesia yang kita tinggali bersama di mana kita berdiri di atasnya ini yang namanya kemacetan sudah mengakar, sudah mendarah-daging. Di Ibukota Indonesia, Jakarta, jangan ditanya. Kemacetan sudah parah. Di kota besar lain juga sudah jadi pemandangan biasa terutama di jam-jam sibuk.

Kemacetan inilah yang menciptakan lahan pekerjaan baru. Mereka yang bekerja di bidang ini sering dinamai Pak Ogah. Bukan, bukan karena mereka botak mirip tokoh Pak Ogah di Unyil. Tapi lebih kepada kemiripan mereka meminta receh atas jasa yang mereka rasa mereka berikan. Jasa Pak Ogah ini berupa mengatur lalu lintas untuk mendapat pundi-pundi rupiah. Ini jadi cerminan dari berantakannya lalu-lintas di tanah air ini. Seakan pihak yang bertanggung-jawab tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Bukan begitu? Profesi Pak Ogah muncul juga karena adanya permintaan akan lalu lintas yang lancar, bukan?

Ya kalau pihak yang bertanggung-jawab sudah tergantikan seperti itu, perlu terobosan baru, to?

Ada satu hal utama yang saya rasa penting untuk smart traffic controller diaplikasikan. Dan ada juga satu hal tambahan. Akan saya terangkan secara garis besar.

Pertama, smart traffic light. Tidak semua simpang di jalanan di kota-kota punya traffic light. Masih banyak yang kosong melompong di pinggiran simpang. Di jalanan yang tidak berlampu lalu lintas inilah biasanya jadi ladang untuk Pak Ogah mencari pundi-pundi rupiah. Adalagi simpang yang lampu lalu lntasnya bisa dibilang tidak jelas. Saya pernah ingin belok ke kanan di sebuah pertigaan, lampu sudah berwarna hijau, tapi dari arah berlawanan, arus kendaraan tiada berhenti. Ini maksudnya apa ya? Kalau bukan orang asli daerah situ yang biasa lewat jalanan tersebut, bisa saja sudah dihantam kendaraan yang melaju kencang dari arah berlawanan.

Saya kurang tahu-menahu bagaimana mereka yang bertanggung-jawab menentukan dan menyinkronisasi tiap lampu lalu lintas di setiap simpang. Sudah saatnya lampu-lampu ini fleksibel sesuai keadaan. Di sinilah peran smart traffic controller.

Smart traffic controller yang diaplikasikan pada lampu lalu lintas harus bisa mengatur jalannya arus kendaraan dari masing-masing arah sesuai dengan kepadatan kendaraan. Misal di jam 8 pagi kendaraan dari arah A volumenya sangat banyak, maka arus kendaraan dari A akan diprioritaskan dibanding kendaraan dari B atau C. Ketika jam 5 sore misalnya volume kendaraan dari arah B lebih besar, maka akan berlaku juga prioritas untuk kendaraan dari arah B. Begitu seterusnya. Sehingga kemacetan yang disebabkan oleh persimpangan tidak akan terlalu parah.

Yang kedua adalah smart traffic controller untuk palang pintu kereta. Kereta memang sangat diprioritaskan saat ingin melintas di persimpangan antara rel dengan jalan raya. Hingga para pengendara kendaraan bermotor harus berhenti sampai kereta tersebut lewat. Tapi yang jadi masalah, di kebanyakan tempat para pengendara bermotor harus menunggu terlalu lama untuk kereta api tersebut lewat. Saya kurang tahu apa itu alasannya karena sudah standar dari sananya atau memang dibuat lama saja. Efek domino dari hal ini sudah pasti kemacetan yang sangat panjang. Buang-buang waktu.

Instalasi smart traffic controller di palang pintu kereta bisa menekan kemacetan yang disebabkan kereta lewat. Dengan smart traffic controller ini akan bisa diprediksi secara presisi kapan kereta akan lewat di palang pintu tersebut. Tentu saja dengan jarak aman dan estimasi sehingga tidak memungkinkan para pengendara bermotor terjebak di tengah rel kereta. Yang dibutuhkan untuk hal ini adalah data kecepatan kereta dan data jarak. Sehingga para pengendara kendaraan bermotor tidak akan kehilangan banyak waktu untuk menunggu kereta lewat yang sebenarnya masih sangat jauh tetapi palang pintu sudah ditutup. Belum lagi beragam kerugian lainnya akibat kemacetan yang ditimbulkan.

Memang segala hal yang bernama diawali dengan kata smart akan menghilangkan bergam profesi. Dari profesi Pak Ogah hingga pejaga palang pintu kereta. Tapi apakah kerugian itu akan sebanding dengan kerugian yang ditanggung banyak orang karena kemacetan. Kemacetan akan menghambat setiap perputaran uang.

Sudah saatnya kota-kota besar di Indonesia terbebas dari kemacetan.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae