smartparking

Smart Parking di Kota Semarang, Mungkinkah?

Kesibukan warga kota dengan segala aktivitasnya menuntut mereka untuk selalu cepat dalam segala hal. Bagi warga kota saat ini, waktu adalah uang. Selama ada waktu, bagi warga kota, hal itu berarti produktifitas. Sebagai warga kota tentunya tidak ingin waktunya tersia-siakan karena hal-hal yang tidak produktif tapi sangat menyita waktu. Apalagi kalau bukan kemacetan.

Kemacetan masih menjadi momok bagi sebagian warga kota besar di Indonesia, termasuk kota tempat saya berasal yaitu Kota Semarang. Penyebab utama kemacetan sudah pasti jumlah kendaraan pribadi yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Kendaraan pribadi dirasa lebih efisien dalam beberapa hal. Yang pertama tentunya fleksibilitas. Mau kemanapun dan kapanpun sangat mudah dan praktis. Ditambah lagi transportasi umum (dalam hal ini Kota Semarang) yang belum bisa menjangkau semua sudut-sudut ibukota. Dan yang kedua adalah kenyamanan. Dengan kendaraan pribadi warga kota tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain. Lagi-lagi keterbatasan transportasi umum jadi kendala.

Kemacetan semakin diperparah dengan penyempitan ruas jalan akibat parkir-parkir liar. Sempatkanlah jalan-jalan di emperan toko dan di emperan ruko-ruko. Di sana akan mudah ditemui kendaraan roda empat parkir di bahu jalan dengan santainya. Padahal dengan parkirnya kendaraan di bahu jalan, hal ini sedikit banyak akan berkontribusi dalam memperparah kemacetan. Kontribusi kok ke arah negatif. Belum lagi jika pengendara mobil harus berjalan pelan-pelan sambil mencari lahan kosong untuk memarkir mobilnya. Bisa sampai naik emosi para pengendara di belakangnya. Sungguh keterlaluan.

Parkir liar di bahu jalan terjadi karena minimnya fasilitas parkir. Dimulai dari lahan parkir yang sedikit dan tak terintegrasi hingga susahnya mencari spot yang kosong untuk parkir. Dalam pembangunan infrastruktur seperti ruko-ruko dan bangunan komersil lainnya, tempat parkir sering dianak-tirikan. Seolah-olah lahan parkir terlupakan. Dan akhirnya tidak ada opsi lain selain memakan bahu jalan untuk tempat parkir. Jika ada tempat parkir yang cukup luas, itupun penuh dan sangat sulit untuk mencari spot kosong. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, saya berputar-putar di area parkir paling tidak tiga kali untuk menemukan spot kosong untuk memarkir mobil saya. Tentunya ini bertentangan dengan produktifitas alias buang-buang waktu.

Butuh diberlakukan Internet of Things dan Smart City Concept dalam hal parkir-memarkir. Ya, Smart Parking. Sudah saatnya berbenah. Smart Parking dan parkir terintegrasi akan membuat warga kota semakin produktif. Tidak membuang-buang waktunya di jalan. Tidak harus berputar-putar mencari spot parkir kosong. Harus ada solusi. Dan yang paling tepat adalah Smart Parking.

Solusi dari Smart Parking adalah parkir terintegrasi dengan aplikasi smartphone. Semua orang punya smartphone bukan? IOS ataupun Android. Saya rasa sudah banyak developer aplikasi lokal yang handal. Jadi konsep parkir terintegrasi dengan smartphone ini bisa membantu warga kota untuk menemukan tempat parkirnya bahkan jauh sebelum dia sampai ke tujuannya. Luar biasa bukan jika warga kota tidak harus bingung parkir di mana. Berapa waktu yang bisa digunakan secara efektif jika warga kota tidak harus berputar-putar mencari spot kosong, ataupun berjalan dengan pelan untuk mencari di mana mereka bisa memarkir kendaraannya.

Di setiap spot parkir haruslah dipasang sensor untuk mengetahui spot itu sudah ditempati atau belum. Di setiap spot harus punya indikator yang mudah terlihat bagi para calon pemarkir kendaraan. Bisa jadi angka, ataupun indikator lampu. Yang penting mudah dikenali. Nah dari sana semua data ini dikoleksi oleh pengelola parkir di sebuah penyimpanan cloud. Data di satu lahan parkir, digabungkan dengan data-data di tempat parkir lain. Terbentuklah big data yang akan dipakai oleh calon pemarkir kendaraan.

Big data yang sudah diperoleh kemudian diintegrasikan dengan aplikasi peta dan juga big data calon pemarkir. Fungsi berintegrasi dengan peta adalah agar aplikasi dapat menentukan lokasi parkir terdekat dengan tujuan pengguna. Percuma saja bila sudah menemukan area parkir, pengguna masih harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke tujuannya. Sementara big data pengguna dipergunakan untuk mengetahui kebiasaan pengguna seperti misalnya mobil apa yang dia gunakan serta kemampuannya dalam berkendara. Apakah dia cukup ahli dengan sering ngebut ataukah pengguna merupakan orang yang konservatif.

Smart Parking juga bisa mengakomodir pembayaran ongkos parkir. Dengan menggunakan smartphone yang terintegrasi dengan aplikasi e-money dan aplikasi payment yang lain, warga kota tidak perlu lagi repot-repot mencari uang receh dari dashboard mobil ataupun kantong. Cukup pilih tempat parkir yang diinginkan, lalu sesaat setelah selesai menggunakan jasa parkir, saldo di smartphone bisa terpotong otomatis.

Sungguh betapa nyamannya bila Smart Parking bisa terwujud. Tidak akan ada lagi mobil parkir di bahu jalan dan mengganggu lalu lintas. Lalu tidak akan ada lagi mobil yang berjalan pelan dan kebingungan mencari spot kosong yang membuat puluhan kendaraan antre di belakangnya.

Smart Parking butuh komitmen dari pemerintah kota. Selain untuk pembangunan lahan parkir yang besar dan terintegrasi, juga komitmen untuk memberantas parkir-parkir liar. Parkir liar ini kebanyakan dikelola oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Padahal lahan yang dipakai bukan lahan atas nama kepemilikannya. Malah kadang-kadang jalan raya yang sebenarnya milik bersama, dieksploitasi untuk keuntungan pribadi.

Nah, Kota Semarang bisakah wujudkan Smart Parking?

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae