Setahun Lulus, Sudah Ngapain Aja?

Masih teringat di otak 30 Agustus 2017 pagi hari. Kala itu sepi di gedung lantai tiga. Hanya aku yang ingin segera lulus dan satu kawan yang ada di teras yang dipenuhi dengan pengumuman seminar hasil penelitian. Sesekali satu staff tata usaha lewat. Lewat bukan sembarang lewat, dialah yang mengurus orang yang sidang akhir skripsi sepertiku hari itu. Beberapa pintu ruangan masih terkunci. Termasuk ruangan dimana dosen pembimbingku bekerja. Tak lupa aku buka Whatsapp dan aku ketik pesan pengingat barangkali sidangku terlupakan oleh mereka.

Sidang berlangsung lancar. Semua pertanyaan terlewati. Meskipun ada beberapa revisi, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan senangnya hati. Aku telah lulus. Sejak saat itu mulai berkurang beban pikiran dari skripsi yang menyita perhatian. Skripsi yang siang dan malam dikerjakan seakan tidak ada habisnya. Padahal kalau ada niatan mungkin akan kelar barang sebulan dua bulan.

Jadi apa setelah lulus? Oke aku ajak sedikit flashback.

1. Kejar revisian di September 2017

Sepenuhnya poin pertama tidak terlalu benar. Lebih banyak hangout tidak jelas di bulan ini daripada memperbaiki skripsi. Perasaan bebas tanpa beban mengajak diri ini main kesana-kemari. Santai, revisi masih bisa dikerjakan esok hari. Selalu begitu gumamku dalam hati. Revisi yang seharusnya bisa diselesaikan dalam seminggu, sampai sebulan baru selesai. Benar-benar kacau. Omelan dosen tak juga berhenti sampai aku mengumpulkan tugas akhir yang direvisi. Terlalu lama katanya untuk revisi yang tidak seberapa. Aku sendiri hanya mengangguk mengiyakan bahwa hal itu tak akan terulang lagi. Bagaimana mau terulang lagi, skripsi ini hanya sekali. Ha… ha…

2. Kerja sambil nunggu wisuda di Oktober 2017

Jadi bulan Oktober adalah bulan yang membuat aku berpikir berat. Di bulan ini after-graduation syndrome kembali menyerang. Setelah sempat sembuh (terlupakan karena skripsi) akhirnya kumat lagi. Kegalauan akan pertanyaan “mau ngapain?” setelah wisuda kembali datang. Siang dan malam terpikirkan. Bercangkir-cangkir kopi terhabiskan. Nongkrong-nongkrong tiap hari untuk nyari referensi sampai akhirnya keputusan didapat. Aku harus cari kerja. Tapi tidak semudah itu. Untuk ikut interview (yang kebanyakan di ibukota) aku harus punya ongkos. Galau kembali menyerang. Kali ini tidak hanya kopi, tapi nasi goreng ikut menemani. Harap maklum, kalau lapar kadang otak tidak berfungsi.

Jawaban datang dari sebuah tawaran untuk ikut proyek kecil dosen. Sebenarnya ya tidak kecil-kecil amat. Lha wong luas area proyeknya ini dua kota di Jateng. Sebenarnya euforia kelulusan masih membekas, malas-malasan masih ada. Tapi gimana lagi, namanya juga butuh. Untung saja lokasi masih di dekat Kota Semarang. Masih bisa ditinggal-tinggal pula untuk interview dan datang ke jobfair. Namanya juga usaha, jadi bolehlah..

3. Wisuda (dan diterima kerja) di November 2017

Akhirnya awal bulan November tiba. Kala itu saatnya pengukuhan sebagai alumni alias wisuda. Normal. Tidak ada yang spesial (ditambah ketidakhadirannya….), sama seperti wisuda kebanyakan. Arak-arakan sebagai mahasiswa teknik, makan-makan dengan keluarga, dan ditambah foto-foto ala selebgram.

Ada satu yang benar-benar buat berkesan di bulan November. Aku diterima kerja untuk salah satu perusahaan konstruksi yang sering pegang proyek-proyek besar. Salah satunya yang dipegang adalah proyek pulau di utara Jakarta itu lho. Kenapa berkesan, ya karena ini benar-benar usaha dari nol. Dari mengirim lamaran sampai berkelana sendirian ke ibukota aku lakukan sendiri. Hebat bukan? Hebat setidaknya untuk diriku sendiri karena sebelumnya belum pernah ke ibukota sendirian. Jadi biarkan aku berbangga barang sebentar.

4. Welcome to the real world dari Desember 2017 sampai sekarang

Kehidupan yang sesungguhnya telah dimulai. Susahnya cari uang (minimal buat beli rumah/modal resepsi) baru terasa. Orang-orang baru dengan sifat-sifat yang tidak bisa ditebak. Kehidupan orang dewasa baru aku mengerti. Tekanan kerja yang baru ini aku rasakan. Langsung klop dengan kehidupan model seperti ini? Tentu saja tidak. Butuh adaptasi. Dari seorang mahasiswa tak tahu apa-apa bertransformasi jadi pencari rizki Illahi. Dan kebetulan masih bertahan sampai saat ini. Desember sampai Agustus, sembilan bulan tak pernah putus.

Menengok satu tahun ke kebelakang rasanya lumayan deg-degan. Dari seorang bocah yang masih sekolah, kini jadi budak upah. Berharap tetap menjadi bodoh agar terus belajar. Selesai sidang merasa paling sukses, ternyata tak seberapa dibanding keringat yang sekarang menetes. Kadangkala flashback tidak semenyenangkan itu. Selalu ada kenangan yang patut dirindu. Dan kali ini, aku merindukan masa-masa itu. Kehidupan mahasiswa dimana absen bisa dititipkan.

Please follow and like us:

One thought on “Setahun Lulus, Sudah Ngapain Aja?

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae