senja pekerja

Senja Lelaki Suka Kerja

Ada satu kota tempat berkumpulnya anak dari semua bangsa. Di sana bisa kau temui ratusan orang di setiap jalan yang akan kau lalui. Lalu ada juga warung-warung yang memberikanmu sepiring nasi tentu saja dengan imbalan berupa uang. Hilir mudik mobil-mobil tua berasap hitam pekat hendak meracunimu tapi bagaimana lagi. Tak ada mobil-mobil tua berarti kota berkumpulnya anak dari semua bangsa akan mati. Kan aneh, kenapa kota ini bisa dijadikan tempat berkumpulnya anak dari semua bangsa. Kenapa anak-anak itu mau jauh-jauh meninggalkan bangsanya dan bahkan beranak-pinak di tempat ini. Mereka rela meninggalkan senja merah yang ada di pantai bangsanya untuk pergi ke kota itu yang senjanya disebut senja para pekerja. Jangan kau tanya lelaki suka kerja. Lelaki suka kerja tinggal di kota tempat berkumpulnya anak dari semua bangsa. Dan dia sama sekali tak tahu jawabnya.

Lelaki suka kerja lahir dan tumbuh besar di kota yang senja ada di setiap pantainya. Saat tumbuh dewasa dia terbiasa mengakhiri harinya dengan berjalan ke pantai di kota ombak penari melihat matahari merah menyala dan tenggelam di cakrawala. Lelaki itu kerap menuliskan puisi dengan ditemani ombak penari. Lautan, debur ombak, pasir putih hitam, kapal nelayan, pohon kelapa, anak kecil berlarian, dan ikan-ikan jadi bahan puisinya. Sesekali lelaki itu ambil gambar dari buih yang menyentuh kakinya. Di lain kesempatan diambil pula gambar anak kecil menceburkan diri bersama dua atau tiga anak kecil lainnya. Suatu hari lelaki itu panjat pohon kelapa dan diambilnya buah berwarna hijau lalu dijatuhkannya ke bawah. Disruputnya air dan dimakannya kelapa itu.

Lelaki suka kerja sudah tumbuh dewasa. Dirinya siap menjalani kehidupan dengan segala ilmu yang dimilikinya. Banyak manusia yang tinggal di kota ombak penari begitu terpesona dengan senja di sana. Hidup sederhana tak masalah asal bisa menikmati senja merah menyala dan matahari terbenam di cakrawala. Lelaki suka kerja tidak begitu. Dia tidak mau hidup sederhana. Ideologinya mengharuskan dia mendapatkan semuanya. Tidak ada kata tapi baginya saat semua manusia di kota ombak penari justru menggunakan kata “tapi”. “Lebih baik hidup sederhana tapi tetap menikmati senja daripada hidup kaya tapi senja tak pernah disaksikan” menjadi acuan hidup ideal di kota ombak penari. Otak lelaki senja berbeda. Baginya kata “dan” adalah kata paling bermakna. Dia ingin hidup kaya dan tetap menikmati senja. Tanpa perlu berpikir lama, tekadnya bulat. Pelabuhan tempat dia berlabuh selanjutnya adalah kota tempat berkumpulnya anak dari semua bangsa.

Terpesona mata sang lelaki suka kerja. Dia dimanjakan dengan kecantikan dunia yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Saat dia tiba di waktu sore, lelaki suka kerja langsung naik ke atas gedung tertinggi di kota tempat berkumpulnya anak dari semua bangsa. Dipandangnya matahari dari kejauhan. Tampak sinarnya yang merah membuat gedung lainnya mengeluarkan bayang yang lebih panjang dari aslinya. Lalu lalang mobil-mobil tua dengan sinar lampunya yang kekuningan mulai bersaing menyambut datangnya petang. Lelaki suka kerja beranjak pulang ke gubuk sementaranya setelah senja hilang disambut malam. Dia tidak akan lupa, esok hari pertamanya bekerja.

Sungguh bekerja itu melelahkan. Lelaki suka kerja merasakannya sendiri di hari pertamanya bekerja. Tapi itu tak menurunkan semangatnya untuk kembali naik ke gedung tinggi yang sekarang jadi favoritnya. Dilihatnya kembali senja merah. Lampu-lampu jalan terang membentuk garis tertata sesuai jalannya. Dia mengalihkan pandangannya dari arah barat dimana matahari akan tenggelam di cakrawala ke arah barat laut tidak jauh dari tempatnya. Kepulan asap hitam membentuk awan buruk rupa mengalihkan perhatiaannya. Lelaki suka kerja tidak suka itu. Mengganggu pandangannya. Seakan menumpahkan tinta hitam di atas lukisan sang kuasa. Apa daya. Tinta hitam itu dari pabrik tempatnya bekerja.

Hari berikutnya lelaki suka kerja sibuk dibuat oleh pekerjaannya. Dia memaksakan pekerjaannya selesai sebelum senja tiba. Dia berlarian menuju gedung favoritnya. Terengah-engah sampai ke puncak. Di barat matahari sudah tiga perempat hilang dari cakrawala. Bulan sudah mulai terlihat di sisi lainnya. Yang dilihatnya semakin terang justru lampu-lampu sepeda motor yang mengantre menembus jalan yang luasnya tak seberapa. Didengarnya suara azan di Masjid arah barat daya yang merdu tapi seketika rusak dengan klakson-klakson tak berirama dari arah selatan. Di arah utara ada. Di belakangnya arah timur juga terdengar suara yang sama.

Lelaki suka kerja terlalu lelah untuk menikmati senja yang ternyata tak seberapa. Di hari-hari berikutnya, pekerjaannya semakin menyita. Kenaikan harta yang tak seberapa mengharuskan lelaki suka kerja menjual waktunya. Jangankan membayangkan senja yang buruk di kota tempat berkumpulnya anak dari semua bangsa, meluangkan waktunya pun di tidak bisa.

Di bulan-bulan berikutnya, lelaki suka kerja berubah kepalanya. Semula bentuk kepalanya segitiga. Tapi kali ini segiempat bentuknya. Terpikir olehnya untuk melihat senja seperti yang dulu ada di kota ombak penari. Dia buang semua urusan dunia untuk naik ke gedung favoritnya. Dia memang melihat matahari terbenam di cakrawala. Asap di tiga ratus enam puluh derajat sekelilingnya. Masjid di barat daya. Bunyi klakson tak berirama juga terdengar seperti biasa. Dilihatnya dengan teliti kepala semua orang sama bentuknya. Segiempat seperti yang dia punya. Tapi di kejauhan di ujung kota tempat para pendatang tiba, perhatiannya teralihkan. Lelaki suka kerja perhatikan dengan seksama beragam manusia dengan bentuk kepala berbeda-beda. Ada segitiga, ada lingkaran, ada yang tak beraturan, dan yang lainnya, lelaki suka kerja hanya bisa tertawa.

“Nanti kalian juga akan kotak sepertiku.”

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae