smpl

Sampul

Dia yang bangun saat mentari sudah tinggi, belum tentu malamnya begadang berkunjung ke tempat wisata malam seperti yang kalian kira. Bisa jadi tangisan anaknya yang meraung menandakan permintaan akan sebotol susu jadi irama saat dia ingin beranjak tidur. Ingin tidurpun dia tidak tega jika kelaparan anaknya terus menghantuinya. Siapa yang tahu. Sampul belum tentu mencerminkan isi buku.

Dia yang tawanya sekeras mesin kereta belum tentu hatinya lepas dari masalah dan kegelisahan. Bisa jadi beban yang ditanggungnya lebih besar dari gunung everest. Sangat besar hingga dia lelah menitikkan air mata dalam kesendiriannya. Dia tidak ingin terlihat lemah saat di depan khalayak. Mungkin dulu dia dididik oleh orang tuanya jika menangis adalah tanda orang lemah. Akhirnya tertawa jadi pilihannya. Siapa yang tahu. Sampul belum tentu mencerminkan isi buku.

Dia yang sekarang sakit-sakitan belum tentu akibat dia tak pandai jaga badan. Bisa jadi tuhan memberikan dia cobaan karena saat sehat datang padanya, bersyukur tak pernah dilakukannya. Siapa yang tahu. Sampul belum tentu mencerminkan isi buku.

Dia yang menyayangi seorang gadis yang kalian pandang sebelah mata belum tentu dia mencintainya karena tampilan fisik. Bisa jadi baginya ada tempat nyaman dimana omongan orang nyinyir seperti kalian takkan lagi membuatnya terusik. Bersama gadis itu dia temukan kedamaian. Mungkin saja bersama gadis itu dia merasa itu adalah rumahnya. Cinta bukan cuma soal fisik bukan. Siapa yang tahu. Sampul belum tentu mencerminkan isi buku.

Dia yang selalu perfeksionis dalam setiap pekerjaan dan jadi merepotkan kalian belum tentu jati dirinya ingin mencari kesempurnaan. Bisa jadi ada satu atau dua anak yang jadi tanggungan dan yang harus ia beri makan. Dia terlalu tertekan untuk memberikan yang terbaik di setiap pekerjaan agar nafkah tetap terpenuhi. Siapa yang tahu. Sampul belum tentu mencerminkan isi buku.

Apa yang terlihat layaknya sampul. Selalu menarik perhatian untuk dikomentari. Apa yang sebenarnya ada dibaliknya ibarat isi buku. Mungkin sampul bisa jelek, bisa bagus. Mungkin juga isi buku tidak karuan, penuh drama dan konflik, ataupun penuh dengan kedamaian. Tapi setelah membaca buku, selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Tidak peduli sekotor apapun sampul dan isi buku. Tidak peduli sekotor apapun penampilan dan latar belakang seseorang, selalu ada yang bisa diambil pelajaran dari kisah hidupnya. Dan di sini Tuhan berperan sebagai penjual. Menawarkan berbagai kisah yang bisa dipelajari. Kisah yang buruk untuk tidak kita ulangi sedangkan kisah yang baik untuk kita resapi.

Please follow and like us:

2 thoughts on “Sampul

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae