ulang tahun

ROMANTISME KEJUTAN ULANG TAHUN YANG PENUH KEPURA-PURAAN

Siapa sih yang sekarang ini tidak punya Instagram? Bahkan saya yang sudah pernah menghapus aplikasi yang satu ini kini menginstalnya lagi. Tidak, saya tidak memasang aplikasi instagram untuk riya, pamer, atau apalah itu sebutannya bagi orang-orang. Saya memasang kembali aplikasi ini karena keperluan salah satu lomba blog yang pernah saya ikuti yang ndilalalah asu saya kalah.

Setelah lomba selesai, saya berniat menghapus instagram seperti sedia kala. Tetapi apa daya semesta berkata lain. Dengan adanya instagram saya menemukan berbagai akun informasi lomba menulis. Jeleknya, hampir semua lomba mengharuskan peserta untuk mengikuti akun IG penyelenggara. Wadalah ini tidak bisa dibiarkan. Kalau begitu saya tidak boleh menghapus aplikasi ini dari smartphone android saya. Kalau tidak potensi terbesar saya sebagai penulis serabutan akan terhambat.

Akhirnya aplikasi berwarna merah muda itu tetap ada di dekstop ponsel saya. Tepat berada di antara Twitter dan juga Whatsapp.

Sepertinya saya sudah terkena candu smartphone. Suka scroll-scroll timeline, menjelajahi apps satu ke apps lain tanpa ada tujuan jelas. Betapa saya sangat tidak produktif. Padahal masih banyak buku-buku yang menunggu untuk dibaca. Mengumpulkan, membeli, untuk kemudian mengantri untuk dibaca. Sial.

Sebenarnya membuka IG tanpa tujuan yang jelas bisa berakibat tidak baik. Contohnya seperti saya ketika membuka story kawan yang sedang berulang tahun. Saya ingat betul bagaimana unyu-nya wajahnya yang sedang tutup mata sambil memoncongkan bibir tipisnya untuk mengeluarkan abab agar api yang menyala pada lilin mati. Dari story yang diunggah itu saya langsung ber-suuzon.

Dasar manusia, sukanya memang julid dan sambat. Yang ulang tahun dia, yang berpikiran jelek saya, yang sambat saya. Tapi seperti pepatah bilang do not judge the book by its cover. Jangan terburu-buru menghakimi saya kalau belum tahu alasannya.

Begini-begini saya sering menghadiri acara susurpis ulang tahun. Yang paling sering saya ikuti tentu kejutan antar teman, dan yang paling menjijikan adalah kejutan teman saya yang hendak memberi kejutan bagi pacarnya ataupun pacar teman saya yang ingin memberikan kejutan ke teman saya. Kejutan yang penuh dengan kepura-puraan.

Peran saya dalam acara kejutan ini adalah penggembira alias tim hore. Biasanya yang meminta saya datang adalah mereka yang ingin memberi kejutan pada kekasih dengan membawa banyak orang agar orang menilai banyak yang peduli dengan ulang tahun kekasihnya itu.. Nah saya ini mirip penonton bayaran di acara-acara lawak dan musik di dunia pertelevisian Indonesia. Saya bukanlah konseptor acara yang pandai mengatur waktu, alur pemberian kejutan, dan sebagainya. Saya juga tidak bisa menjadi donatur sebab saya jarang sekali ikut patungan untuk membeli kue ulang tahun. Saya termasuk orang yang visioner dengan masa depan. Sebab menghambur-hamburkan uang untuk acara seperti ini sangatlah tidak pantas.

Peran seperti saya inilah yang tidak terlalu sentral, namun sangat penting bagi keberlangsungan acara surprise ulang tahun. Pertama tentu saja kehadiran. Semakin ramai maka orang yang diberi kejutan akan merasa bahwa dia diperhatikan. Dia merasa banyak orang yang peduli dengannya. Padahal kenyataannya tidak bisa dibilang seperti itu. Alasan saya datang biasanya karena ingin menikmati donat J.Co gratis atau kue tart gratis, dan bahkan kalau bisa ditraktir makan oleh yang ulang tahun setelah pemberian kejutan selesai.

Selain itu kehadiran tim penggembira bisa membanggakan bagi yang sedang berulang tahun terutama untuk unggahan media sosialnya. Kehadiran kami di dalam frame foto yang diunggah ke dalam IG-story bisa memberikan pencitraan tersendiri bagi yang sedang berulang tahun. Netizen akan menganggap bahwa banyak orang yang peduli dengan orang yang sedang ulang tahun. Padahal sama saja dengan paragraf sebelumnya, tidak semudah itu.

Kepura-puraan paling konyol terjadi ketika sang kekasih, yang saya yakin pasti tahu akan ada pesta kejutan di hari ulang tahunnya, terlihat sok terkejut. Ini yang menurut saya tingkat kepura-puraannya melebihi bapak-bapak yang menabrak tiang untuk menghindari suatu kasus. Keyakinan saya ini bisa menjadi nyata sebab saya rasa sangat sedikit sekali orang yang tidak pernah melihat kalender, apalagi di era digital seperti sekarang dan lupa akan hari ulang tahunnya. Dan ditambah lagi sangat jarang sekali seorang kekasih melupakan hari ulang tahun pasangannya. Di facebook ada pengingat ulang tahun, di twitter juga ada. Masa semudah itu lupa.

Kalaupun ada kekasih yang lupa akan hari ulang tahun pacarnya, itu hanyalah pura-pura. Lucunya kepura-puraan itu didukung oleh romantisme yang menurut saya ambyar lan ramashok. Anggap saja sepasang kekasih itu selalu intense dalam hal chatting. Tiba-tiba di hari H atau menjelang hari H ada perubahan sikap yang luar biasa 180 derajat. Misal tiba-tiba menghilang dari chat, atau malah menjadi sering marah-marah, atau mungkin hanya memberikan centang biru di WA. Dari situ seharusnya pihak yang akan diberi kejutan sadar. Apalagi jika mereka sudah pacaran bertahun-tahun dan di tiap tahunnya berlaku trik yang sama. Ah benar-benar ramashook.

Lucunya pihak yang diberi kejutan tetap saja terkejut walaupun pura-pura. Memberikan senyum simpul dan tetap meniup lilin sebagaimana mestinya. Padahal saya yakin di lubuk hatinya terdalam terdapat gagasan, “Betul kan, aku dikasih kejutan. Hihihi”.

Kepura-puraan tidak hanya ditunjukkan oleh sepasang kekasih yang sedang merayakan. Penonton penggembira juga tidak kalah pura-puranya.

Sering terjadi dalam kejutan-kejutan ulang tahun, terjadi peniupan lilin kedua. Orang yang diberi kejutan juga senang hati melakukan dua kali peniupan lilin. Peniupan lilin kedua ini terjadi karena pada saat peniupan pertama belum diabadikan di instagram story. Yang sebenarnya tidak abadi-abadi amat karena akan hilang dalam waktu 24 jam.

Pada saat masuk ke tempat dimana target akan diberikan kejutan, yang terpikirkan hanyalah cara bagaimana agar bisa memberikan kejutan sesempurna mungkin hingga target terkejut. Lalu target akan dinyanyikan lagu ulang tahun dan kemudian disuruh meniup lilin kemudian berdoa. Setelah semua beres ternyata banyak orang yang karena terlalu fokus memberikan kejutan, akan protes sebab story IG mereka belum terisi. Hasilnya lilin harus dinyalakan lagi, dan kemudian ditiup untuk yang kedua kalinya. Tapi yang kedua kalinya ini harus direkam, untuk kemudian diedit dulu baru dimasukkan ke dalam story ataupun feed instagram demi eksistensi.

Perayaan ulang tahun di kalangan anak muda sepertinya sudah mengalami pergeseran. Dulu sebelum instagram populer seperti sekarang, saya merupakan orang yang antusias mengikuti segala jenis kejutan ulang tahun terutama untuk genre BDSM. Kejutan sebelum IG populer biasanya dilakukan oleh tiap tim penggembira dengan telur yang dipegangnya. Satu orang mengawali untuk menceplokkan telur di kepala target. Kemudian yang lainnya akan mengikuti.

Tidak berhenti sampai disitu, gelombang kedua berupa tepung dan air akan mengikuti. Target sudah mirip adonan bakwan. Kemudian target yang sedang terpecah fokusnya akan dengan mudahnya diikat ke sebuah tiang listrik untuk kemudian dipotong rambutnya. Nah kalau sudah puas menggunduli, barulah target di lepas. Dan drama kejar-kejaran dimulai.

Target yang tidak terima telah diperlakukan demikian akan mengejar semua orang yang bisa ia kejar. Biasanya yang kena akan sekotor dan sebau target. Akhirnya target dan orang yang memberi kejutan sama-sama kotor. Tidak sempat mengabadikan momen. Sebab di akhir pemberian kejutan semua sudah bubar masing-masing menyelamatkan diri takut kena sasaran balas dendam si target. Memang sepertinya jahat, tapi tidak ada yang baper. Karena tiap orang pasti punya hari ulang tahun. Dan setiap orang akan punya “hari pembalasan” masing-masing.

Ah, saya merindukan masa-masa romantisme kejutan ulang tahun tidak dilakukan demi eksistensi di dunia maya.

Please follow and like us:

5 thoughts on “ROMANTISME KEJUTAN ULANG TAHUN YANG PENUH KEPURA-PURAAN

  1. Hmmm efek media sosial kejam yah, demi eksistensi jd kehilangan romantisme dari moment itu sendiri TT

  2. Mending merayakan kek dulu ya yg tanpa dijepret2 gt, tp ga pake telur aja deh, kuapoook bgt rasane diceplok endog ki, ya Allah mambune ora ilang2 nganti seminggu

  3. Pernah jadi saksi reka adegan peniupan lilin demi instastory haha saya yang lihat aja rasanya awkward banget, ndanio yg melakukan hahaha
    Tapi ngerasa nggak sih, semakin dewasa perayaan ulang tahun jadi nggak sebegitu penting lagi. Itu kalau menurutku sih. Kalau menurut masnya gimana?

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae