Putus Lalu Pupus

Akhirnya kita telah usai. Kita masih tetap sama-sama melangkahkan kaki. Tapi kali ini arah yang kita tuju berbeda. Aku dengan arahku dan kamu dengan tujuanmu. Beberapa hal memang harus bubar. Berjalan juga tidak harus berdampingan.

Biar aku usap air matamu untuk yang terakhir kali. Sebab aku tidak mau melepasmu dengan tangisan.

Seperti kebanyakan orang yang memadu kasih, kita pernah punya rencana-rencana hebat. Kita juga pernah membuat janji-janji. Hal-hal yang kita bicarakan dengan menggebu-gebu itu begitu membuat aku dan kamu bersemangat untuk meraihnya. Tapi maaf kalau tidak seperti yang kamu kira. Kita seolah begitu mudah percaya bahwa semua akan berujung indah. Manisnya janji-janji. Silakan salahkan aku untuk semua itu. Tapi sekali lagi maaf, aku tidak bisa lagi berjalan di sampingmu.

Roda kehidupan akan terus berputar walaupun kisah kita sudah bubar. Kamu pasti akan menemukan dia yang memang diciptakan untuk mendampingimu. Dia yang diciptakan untuk menjelaskanmu tentang kebahagiaan. Kamu berhak untuk hidup yang lebih baik, begitu juga aku. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu kembali dengan kisah indah kita masing-masing. Cepat atau lambat kamu akan sadari itu semua setelah kekecewaan telah bisa kamu keluarkan.

Cobalah untuk kembali bangkit. Sambutlah pagi hari dengan embun dan cahaya matahari yang menyilaukan matamu. Perasaan khawatir justru akan menghambat kita untuk menjadi pribadi yang jauh lebih tegar. Yang perlu kamu lakukan hanya melempar senyum dan sedikit bersyukur bahwa kita telah dipertemukan oleh Tuhan, lalu kembali melangkah. Kembali berlari.

Kisah kita begitu mengena. Dan itu akan selalu aku kenang hingga aku tutup usia. Di masa depan pasti akan kamu temukan tempatmu melabuhkan perhatian. Semoga kamu tidak pernah lagi merasakan sakit yang kamu rasakan selama ini saat bersamaku.

Untuk yang terakhir kali, selamat tinggal.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae