cashless

Profesi yang Akan Hilang Tergerus Cashless

Namanya juga era digital. Semuanya serba digital. Belanja sekarang sudah dengan cara digital. Buku-buku sekarang sudah berganti jadi e-book. Dibacanya dengan cara digital juga. Tapi untuk baca buku, saya tetap baca buku fisik. Mau beli makan juga digital. Untung makanannya tetap makanan bentuk fisik. Tidak bentuk digital juga. Pokoknya semuanya sekarang serba digital.

Dunia per-digital-an dipengaruhi oleh berkembangnya perangkatnya. Coba handphone sekarang dibandingkan ponsel-ponsel beberapa tahun lalu. Dulu saya punya nokia asha yang sering saya gunakan untuk twitter-an. Sekarang saya twitter-an menggunakan smartphone yang bisa dibilang lumayan canggih. Ponsel yang semakin canggih juga berbanding lurus dengan kebiasaan pengguna yang juga semakin canggih. Salah satunya adalah kebiasaan cashless.

Cashless secara harfiah artinya tanpa uang. Setiap pembayaran atau transaksi dilakukan tanpa uang. Loh kok bisa? Kalau begitu rugi dong penjualnya? Ya tidak begitu juga. Maksudnya cashless ini pembayaran tanpa uang fisik. Uangnya tidak ada secara nyata tapi ada di dunia maya berupa data-data dan angka-angka. Nah loh. Tapi santai, orang kaya tetap akan terlihat kaya meskipun uangnya tidak nyata.

Lucunya sistem cashless mulai merebak kemana-mana. Semuanya mulai menerapkan cashless. Mulai dari pembayaran pintu tol, bayar belanjaan, hingga pembayaran transportasi umum. Peluang ini dimanfaatkan dengan baik. Salah satunya perusahaan transportasi online. Mereka juga tidak mau ketinggalan di pasar yang satu ini. Memang menyimpang jauh dari yang tadinya perusahaan transportasi online melenceng ke pengembang fasilitas cashless. Ya namanya peluang bisnis, harus dimanfaatkan. Ya tho?

Setiap kemajuan jaman, pasti akan ada yang tergilas. Tidak terkecuali dengan adanya kebiasaan cashless ini. Akan ada mereka yang meronta-ronta karena kehilangan sumber pencaharian. Mereka yang tergilas ini biasanya yang masih mengandalkan uang fisik untuk bertahan hidup. Inilah mereka.

Pertama, pengemis. Apa yang terjadi jika cashless benar-benar diterapkan? Tidak ada lagi yang akan punya uang receh ataupun uang fisik jenis apapun. Ini tentunya menguntungkan orang yang bertransaksi. Tidak perlu repot-repot mencari kembalian. Tapi ini mimpi buruk bagi para pengemis. Tidak ada uang fisik sama saja tidak bisa mengemis. Target pasar para pengemis adalah uang receh para manusia yang ingin masuk surga. Kalau orang yang ingin masuk surga tidak punya uang receh, ya wasalam.

Bukan tidak mungkin para pengemis juga akan berkembang sesuai dengan zaman dalam misi mereka memfasilitasi mereka yang ingin masuk surga. Bisa saja mereka akan menyediakan pembayaran via OVO ataupun Go-Pay. Kemudian untuk pengemis yang tidak punya smartphone bisa juga menyediakan EDC agar urusan gesek-menggesek menjadi semakin lancar.

Kedua, pencopet. Setelah pengemis yang tergilas, di daftar selanjutnya ada pencopet. Umumnya para pencopet ini adalah orang yang lihai dan cekatan secara fisik. Cepat dan tangkas hingga bisa mengambil barang-barang kepunyaan korban bahkan sebelum korban menyadarinya. Tapi sialnya bagi para pencopet, kemampuan ini sudah tidak akan menghasilkan di era digital. Mau mencuri uang wong uangnya tidak ada. Apa yang mau dicuri. Kalau tetap memaksa merogoh kantong hingga mengorek-ngorek, besar kemungkinan akan ketahuan dan dihakimi warga yang murka.

Jika para pencopet ingin berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman ya belajar. Selalu ingat bahwa belajar adalah koentji. Belajar ilmu curi-mencuri di dunia maya. Belajar coding. Jadi hacker. Hacker yang sukses yang bisa membobol sistem keamanan para penyedia layanan keuangan online. Semua itu butuh latihan. Semua butuh proses. Kalau ingin instan saja ya makan mie saja sana. Selalu ingat wahai para pencopet. Dulu kalian belajar mencopet uang fisik juga butuh kesabaran dan latihan berkali-kali. Sama halnya dengan uang elektronik. Kalian juga harus belajar jika tidak ingin tergilas zaman.

Ketiga, tukang parkir ilegal. Namanya juga tukang parkir ilegal. Berarti tukang parkir yang tidak resmi. Tidak resmi berarti tukang parkir yang kehadirannya tidak berizin alias ilegal. Karena ke-ilegal-an itulah tarif parkir ilegal ini biasanya lebih murah ketimbang parkir-parkir resmi yang ada. Biasanya parkir resmi menyediakan fasilitas mulai dari keamanan, lahan yang luas hingga kemudahan transaksi. Beda dengan yang ilegal. Terutama pada bagian transaksi.

Transaksi pembayaran tarif parkir ilegal mutlak membutuhkan uang receh. Mulai dari lima ratus rupiah hingga lima ribu rupiah sesuai dengan kendaraan yang diparkir. Bagian paling menjengkelkan dari tarif parkir ilegal adalah tidak adanya uang kembalian. Kalau uang terlalu besar biasanya para tukang parkir ini akan mengikhlaskan mereka tidak dibayar. Apabila tidak terlalu besar dan kebetulan tukang parkirnya menjengkelkan maka tidak akan dikembalikan alias raib semua.

Tentu ini menjadi dilema tersendiri bagi tukang parkir ilegal. Lama-lama mereka akan tergerus dengan zaman karena metode pembayaran yang masih konvensional. Terkesan ribet. Sementara dapur harus tetap mengepul. Mau tidak mau mereka harus memberikan alternatif pembayaran cashless pada para pelanggan jika tidak mau tergerus zaman dan juga agar tetap kompetitif menghadapi saingan mereka, parkir resmi.

Keempat, produsen celengan fisik. Entah sudah berapa lama saya tidak menemui wadah plastik berbentuk ayam ataupun kodok yang dijadikan celengan. Biasanya ada lubang untuk memasukkan koin atau uang kertas di punggung. Saya tidak tahu kenapa wadah plastik ini disebut celengan. Sebab jika ditelaah lebih lanjut celengan mempunyai kata dasar celeng yang berimbuhan “-an”. Celeng dalam bahasa jawa berarti sejenis babi hutan. Warnanya hitam. Tapi berbeda dengan kebanyakan celengan yang saya temui waktu masih kecil dulu. Biasanya bentuknya katak atau kodok dan juga ayam. Kalau begitu namanya harusnya kodokan ataupun ayaman.

Celengan hanya punya satu fungsi dan kegunaan. Menabung. Tapi dengan cara yang konvensional. Alias harus punya uang fisik untuk ditabung. Tentu ini jadi tidak berguna kalau uang fisik sudah mulai ditinggalkan. Ya tentu tidak berguna, wong celengan ini hanya bisa diisi oleh uang. Menyimpan barang berharga lain seperti emas ataupun surat tanah juga tidak bisa.

Produsen celengan harus segera berinovasi. Mereka tidak boleh tergilas. Pemasukan harus tetap ada meskipun sistem cashless mulai merebak dimana-mana. Alternatif yang saya tawarkan adalah beralih target pasar. Karena sangat tidak mungkin celengan akan bersaing dengan deposito, reksadana, apalagi saham. Lebih baik produsen celengan menyasar para pengurus masjid. Di masjid masih dibutuhkan kotak-kotak infaq. Kotak infaq di masjid tidak akan pernah tergerus cashless. Sensasi beramal secara langsung memang berbeda dibanding beramal cashless. Kotak infak yang bentuknya itu-itu saja bisa diganti dengan kodok-kodokan atau ayam-ayaman agar semakin menarik.

Tentunya masih banyak lagi profesi yang akan tergerus zaman. Saya tidak bisa menyebutkan satu-satu. Karena itu di luar kemalasan dan kemageran kemampuan saya.

 

Please follow and like us:

4 thoughts on “Profesi yang Akan Hilang Tergerus Cashless

  1. Kocak hihi betul juga, ada satu lagi Dik, jasa tukar uang kertas pas lebaran, angpaunya udah diganti gesek atau transfer hihihi

    1. haha bisa aja mba Dewi. Kalau yang itu sulit mba untuk ilang. Kecuali ponakan-ponakan kita yang krucil-krucil sudah pada punya rekening…

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae