kolam wudhu

Problematika Kolam Wudhu Di Masjid-Masjid Indonesia

Sebelum menunaikan sholat, mau itu sholat fardu ataupun sholat sunah, diwajibkan membersihkan diri. Ajaibnya tidak perlu mandi. Tidak perlu juga memakai sabun yang mahal. Sabun-sabun yang dipakai artis misalnya. Cukup wudhu.

Wudhu wajib hukumnya untuk umat islam yang ingin mengikuti reuni 212 menunaikan sholat. Fungsi wudhu ini bukan untuk mensucikan diri tapi untuk menyucikan diri. Sebab huruf s luluh ketika bertemu awalan “me-“. Tata cara wudhu cukup simpel, mudah, dan tidak ribet. Hanya dengan membasuh beberapa bagian tubuh dengan disertai niat, maka sholat sudah bisa dilaksanakan.

Wajibnya wudhu sebelum sholat membuat banyak pengurus masjid berusaha menyediakan tempat wudhu terbaik. Kalau masjid, yang digunakan sebagai tempat ibadah, sudah wajib hukumnya untuk dibuat lebih bagus dibanding rumah-rumah penduduk di sekitaran masjid itu. Nah kalau tempat wudhu? Apakah sama hukumnya? Entahlah, saya juga kurang tahu. Yang jelas menurut saya tempat wudhu di masjid yang bagus itu tidak perlu muluk-muluk. Cukup ada toilet untuk buang air besar sudah dapat nilai plus.

Kembali ke topik utama. Saya tidak ingin membahas tentang toilet di masjid. Karena kalau saya bahas yang satu ini, nanti ketahuan orang Indonesia-nya yang mampir ke masjid hanya untuk buang hajat. Bukan mencari pahala.

Gagasan para pengurus masjid untuk membuat kolam wudhu yang bersih nan indah melahirkan ide untuk membuat kolam wudhu. Bagi anda yang tidak tahu kolam wudhu saya jelaskan lebih detail. Jadi kolam ini biasanya terdapat di belakang tulisan “batas suci” sebelum anda memasuki tempat wudhu di masjid-masjid.

Kolam wudhu mempunyai kedalaman sekitar 10-20 cm. Itupun saya hanya mengira-ngira karena saya tidak pernah mengukurnya secara langsung. Ya kurang lebih dalamnya satu jengkal orang dewasa. Tentu kalau dalamnya hanya satu jengkal tidak cocok untuk berenang. Karena memang fungsinya bukan untuk berenang. Namanya saja kolam wudhu bukan kolam renang.

Saya tidak bisa memastikan apa fungsi dari kolam wudhu ini. Dugaan saya kolam wudhu ini ada untuk membersihkan kaki-kaki yang akan masuk ke tempat wudhu. Jadi orang yang datang dan ingin mengambil air untuk membersihkan diri akan melalui kolam ini. Kaki-kaki mereka yang beda-beda kondisinya dan membawa berbagai macam zat yang berbeda pula akan bersih bahkan sebelum dibasuh air wudhu. Gunanya tentu saja agar ibadah semakin khusyuk dan diterima oleh yang di atas.

Dengan lewatnya para manusia dengan beragam problematika kaki di kolam wudhu ini sudah pasti air di dalamnya akan sedikit ataupun banyak terkontaminasi. Ada kaki yang ditempeli dengan debu-debu atau bakan gebal. Kaki-kaki ini biasanya dimiliki oleh manusia dengan hobi nyeker. Alias tidak bersepatu. Mungkin bisa saja bersendal. Tapi bisa saja karena hujan kakinya penuh dengan kotoran.

Ada juga kaki orang-orang yang berkaos kaki. Kebanyakan seminggu tidak diganti. Ini juga bercampur jadi satu di kolam wudhu. Ditambah mungkin juga ada orang yang punya kutu air. Kita tidak pernah tahu. Terlalu banyak kaki yang bercampur di kolam wudhu.

Kesangsian saya muncul karena kolam yang sama dipakai sebelum dan sesudah wudhu. Masuk melalui kolam, segala kotoran yang menempel di kaki larut dalam kolam. Kemudian wudhu untuk menunaikan kewajiban. Tentu saja agar suci. Tapi kemudian melewati lagi kolam yang sama. Apa wudhunya masih sah? Ah tentu saja masih. Nyatanya masih banyak masjid yang membangun kolam wudhu dengan desain seperti ini kok.

Kesangsian saya tidak berhenti sampai di situ. Air yang dipakai untuk mengisi kolam tidak jarang adalah air yang sama digunakan untuk berhari-hari dan bahkan berminggu-minggu. Yang satu ini saya bisa berani mengatakan berminggu-minggu karena saya pernah melihat kolam wudhu yang dipenuhi dengan kecebong. Iya kecebong anak katak. Bayangkan berapa lama proses telur yang menetas menjadi kecebong. Untuk yang merasa cebong dilarang tersinggung. Awalnya saya kira kolam itu sekalian untuk memelihara ikan. Tapi pas diamati lebih dekat, ternyata kecebong. Kalau masih telur saya masih bisa berpikir positif kalau itu biji selasih yang jatuh.

Saya sebagai golongan yang menghindari kolam wudhu saat panggilan sholat tiba hanya bisa tawakal. Berusaha semaksimal saya. Saya naikkan celana tinggi-tinggi. Saya lipat juga bagian bawah celana agar tidak terkena air yang terkontaminasi berbagai hal yang tidak diketahui. Jika kolam tidak terlalu besar, maka saya akan langsung melompati kolam. Sebaiknya hal ini jangan ditiru karena lantai tempat wudhu licin. Saya pernah jatuh sekali akibat pethakilan seperti ini.

Sungguh nasib apabila kolam yang dilalui cukup besar. Tapi biasanya masih ada celah. Biasanya di bagian pinggir kolam masih bisa dipijak. Atau kalau beruntung ada tembok yang bisa saya jadikan tempat untuk berpegangan.

Tapi terkadang di beberapa masjid besar (yang biasanya ada di pinggir alun-alun) terdapat juga kolam wudhu yang saya ceritakan ini tapi dalam versi lebih besar. Kolam yang penuh tantangan yang harus dilalui sebelum dan sesudah wudhu. Biasanya airnya juga tidak mengalir. Karena masjidnya besar maka kolamnya juga besar. Kadang apes-nya tidak ada pegangan, dan juga tidak bisa dilompati karena saking besarnya. Kalau sudah begini yang saya bisa lakukan hanya satu. Berdoa kepada-Nya tepat setelah sholat agar sholat saya diterima.

Mungkin bagi para pengurus masjid bisa memikirkan ulang desain yang tepat. Ya tentu saja agar orang yang datang dengan membawa segala macam pernak-pernik di kakinya tidak melewati kolam yang sama dengan mereka yang sudah melaksanakan wudhu. Masa kaki-kaki yang kotor masuk ke kolam yang sama dengan kaki-kaki yang sudah suci karena air wudhu.

Setidaknya biarlah air di kolam wudhu mengalir. Tapi tentu saja kalau air mengalir akan jadi pemborosan. Umat islam dilarang melakukan sesuatu yang mubazir. Serba salah juga akhirnya. Saya rasa wudhu saja sudah cukup. Yang penting kan sudah melaksanakan wudhu dengan benar. Tidak perlu benar-benar bersih. Kalau perlu sampai benar-benar bersih tentu akan ada perintah untuk melaksanakan mandi dan sikat gigi sebelum sholat.

Mungkin daripada repot-repot merubah desain kolam, bisa saja ditaruh ikan sapu-sapu agar kolam tetap bersih bening seperti tanpa kaca?

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae