personalized billboard

Personalized Billboard, Iklan Tertarget yang Tidak Hanya Caleg dan Rokok

Bosan juga kadang-kadang, apalagi menjelang tahun politik seperti ini. Di jalan-jalan sering menjumpai papan-papan iklan alias billboard yang menampilkan foto-foto caleg dan jargon andalannya dengan segala janji manisnya. Di ruas jalan A, caleg nomor urut 3 berwarna merah terpampang. Di ruas jalan B ada lagi caleg nomor urut 1 berwarna kuning. Di billboard yang lain, ada partai C dengan segala lirik lagu marsnya. Bosan. Bukannya tidak mau peduli tapi siapa sih mereka ini. Kenal tidak, tiba-tiba mempromosikan dirinya. Menggunakan papan iklan yang besar lagi, kemudian terlihat oleh semua orang.

Lucunya lagi, billboard-billboard di negeri ini kebanyakan diisi oleh iklan-iklan rokok yang maha keren. Dituntutnya perusahaan rokok untuk tidak menampilkan produknya, membuat mereka berani membayar mahal content creator hebat untuk membuat iklan keren. Sama saja seperti iklan caleg, beberapa orang juga tidak peduli. Tentu saja karena sebagian orang bukan perokok. Apalagi ditampilkan iklan rokok yang tidak boleh terlihat produknya, mereka juga tidak akan mengerti bagaimana rasa rokok yang nikmat itu.

Iklan tertarget saat ini sudah banyak dikembangkan, di dunia digital tentunya. Hampir di semua media sosial, iklan yang tampil di layar ponsel atau layar komputer kita sudah terpersonalisasi. Artinya iklan yang ditampilkan hanya iklan yang sesuai dengan preferensi masing-masing. Dengan cara seperti ini, kita tidak akan melihat caleg yang mukanya asing muncul di layar. Dan juga tidak akan ada iklan rokok dengan aktor yang sedang selancar jika pengguna ponsel bukan perokok.

Prinsip personalized ads ini diterapkan dengan menggunakan big data sang pengguna. Kebiasaan pengguna dalam menggunakan mesin pencari akan dipakai secara efisien untuk menampilkan iklan-iklan sesuai preferensi. Tidak hanya kebiasaan saat menggunakan mesin pencari, kebiasaan lain seperti berbelanja di online marketplace juga dipakai sebagai referensi.

Apa bisa menerapkan targeted ads di billboard-billboard yang ada di kota-kota di Indonesia? Tentu saja bisa. Setiap warga kota yang akan lewat billboard di lokasi tertentu akan mendapati billboard-nya berubah sesuai dengan preferensinya. Billboard akan menampilkan iklan-iklan yang potensial. Iklan-iklan yang tidak hanya berisi soal politik, bisa saja sesuai hobi pengguna, atau barang yang ingin dibeli pengguna yang terdeteksi lewat history pencariannya di aplikasi marketplace tertentu.

Untuk penerapannya, secara teknis ada dua data yang diperlukan. Yang pertama yaitu big data pengguna. Sama halnya dengan iklan tertarget di media sosial atau jaringan digital, big data diperlukan juga untuk personalized billboard ini. Big data berguna untuk menentukan preferensi pengguna yang akan melihat iklan. Sehingga saat ditampilkan, iklan akan efektif dan efisien karena target pasar mereka tercapai.

Data kedua adalah data lokasi. Data lokasi ini mencakup lokasi billboard dan lokasi pengguna secara real-time. Kedua data ini jika disinkronisasikan akan mendeteksi dan memprediksi lokasi billboard yang akan dilalui pengguna. Tentu saja agar target iklan tercapai. Misal pengguna A dekat dengan jalan B di mana di sana ada billboard C. Peran data lokasi di sini untuk memilih di mana iklan tertarget akan ditampilkan. Untuk kasus ini adalah billboard C karena berdasarkan data lokasi pengguna diprediksi akan melewati billboard C.

Personalized billboard jika berhasil diwujudkan sebagai bentuk dari smart city tentunya akan membawa dampak yang bagus. Pihak yang beriklan akan mendapati target pasar mereka tercapai. Pemasukan negara karena iklan juga akan naik sebab semakin banyaknya para pengiklan yang ingin beriklan karena mendapati keuntungan dari beriklan dengan personalized billboard. Dan warga kota juga tidak akan bosan dengan iklan yang itu-itu saja. Lagi-lagi caleg dan rokok.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae