perpus kecil

PERPUSTAKAAN KECIL

Seperti yang saya ceritakan di post saya di sini, hobi baca buku baru saya mulai sejak setahun ke belakang. Berangkat dari hobi baru yang paling konsisten selama hidup saya biasanya satu hobi tidak akan lebih dari tiga bulan, akhirnya saya putuskan untuk membuat sebuah perpustakaan pribadi. Ya, pribadi dulu karena mungkin ke depannya saya ingin membuat perpustakaan untuk anak-anak di desa saya hidup. Saya tempatkan perpustakaan kecil ini di rumah bapak saya untuk sekarang ini sambil menunggu rumah saya selesai dibuat. Rencana akan saya pindahkan nanti jikalau rumah saya sudah jadi.

Perpustakaan kecil yang sudah mulai saya buat tidak serta-merta mengumpulkan semua buku yang ada untuk kemudian ditumpuk di sebuah lemari besar, baru kemudian dibaca. Tidak, tidak seperti itu yang saya cita-citakan. Saya berharap seluruh buku di perpustakaan saya nantinya adalah buku-buku yang pernah saya baca. Jadi saya harus membaca satu demi satu, baru kemudian saya tempatkan di sebuah lemari kecil.

Lemari yang saya pakai memang masih kecil. Sebab buku-buku saya memang belum banyak. Kurang lebih baru empat puluh buah. Jadi masih bisa menggunakan lemari ukuran kecil. Nanti seiring bertambahnya ilmu di kepala saya maka akan bertambah juga koleksi buku saya dan juga pasti bertambah besar pula ukuran tempat untuk menyimpan semua buku itu.

Ada kisah unik dibalik lemari kecil yang kini saya jadikan tempat menyimpan buku-buku. Pada awalnya buku-buku saya itu tidak saya simpan dan saya susun sedemikian rupa. Hanya saya susun dengan model tumpukan ke atas di meja kamar. Karena awalnya tidak terpikirkan, jadinya hanya saya letakkan saja untuk kemudian saya kembali merantau dan meninggalkan tumpukan buku itu di rumah.

Cuti kerja membuat saya kembali ke rumah. Tentu saya pulang dengan membawa buku-buku baru yang jumlahnya kurang lebih enam buah dan yang sudah saya baca. Ketika saya ingin menaruh buku-buku baru saya, saya kaget karena buku-buku saya sebelumnya sudah tidak ada. Saya ingat betul kalau saya memang menaruh buku di meja kamar. Tetapi waktu saya lihat sekali lagi, bagian atas meja sudah kosong. Saya cari di kolong meja juga tidak ada. Di kamar  saya juga sudah tidak ada. Ibu yang melihat saya kebingungan mencari sesuatu akhirnya menghampiri saya dan memberikan solusi. Sepertinya semua orang sudah tahu bahwa Ibu adalah manusia paling hebat untuk menemukan sesuatu apapun di rumah. Jadi singkat cerita Ibu menunjukkan saya dimana beliau menyimpan buku-buku saya.

Ternyata oh ternyata buku-buku saya ditaruh di lemari bersama dengan buku-buku Bapak dan Ibu. Dari situ saya baru tahu ternyata Bapak dan Ibu saya punya banyak buku. Dan kesemua buku mereka bagi saya itu begitu asing. Buku-buku itu adalah buku yang mendukung profesi mereka berdua sebagai guru. Ah, tidak terlalu menarik bagi saya. Toh saya juga tidak akan menjadi guru.

Buku-buku baru saya akhirnya juga saya masukkan ke dalam lemari yang berpintukan kaca itu. Tidak ada pilihan lain bagi saya, sebab jika saya keluarkan lagi dan saya taruh di meja kamar, Ibu saya pasti akan ngomel. Ah, ciri khas ibu-ibu. Untung saya nanti jadi bapak-bapak.

Di liburan kerja selanjutnya saya kembali membawa buku-buku baru. Dan setiap bawa buku ke rumah artinya butuh tempat untuk penyimpanan. Saya langsung beranjak ke lemari berpintu kaca untuk menata buku-buku saya. Ternyata sudah tidak ada tempat lagi. Penuh sesak. Lemarinya memang besar, tapi ya seperti kebanyakan lemari, isinya tidak hanya buku. Ada cangkir-cangkir hiasan yang saya tidak tahu fungsinya apa, ada juga piala-piala, juga bingkai-bingkai foto. Ah sial benar. Mau ditaruh dimana buku-buku ini.

Ide saya mengerucut ke proyek pribadi untuk membuat rak sederhana. Rak rancangan saya ini nantinya berwujud papan-papan yang disangga rangka untuk bisa menempel di dinding. Setelah saya membuat blueprint di otak saya, saya akhirnya meminta petunjuk bapak ibu saya, dimana saya bisa membeli papan-papan itu, juga rangka-rangkanya. Mereka justru menanyakan maksud saya mengapa saya mencari papan. Saya katakan saja saya butuh untuk membuat rak buku.

Ide membuat rak langsung ditolak mentah-mentah. Mereka tidak setuju. Ah beginilah birokrasi, cenderung tidak menghargai inovasi. Mereka lebih setuju membelikan saya sebuah lemari khusus untuk buku-buku saya. Wah, begini ini namanya kejatuhan durian. Langsung saya mengiyakan. Kapanlagi dibelikan. Tidak harus repot buat rak ala-ala DIY lagi. Selanjutnya kami berangkat ke toko furnitur. Di toko itu langsung saya pilih lemari kecil yang tidak terlalu mahal. Sebab saya tahu, buku-buku saya juga tidak terlalu banyak. Lagipula kalau terlalu besar, rumah jadi terlalu sumpek untuk ditinggali.

Saya memilih sebuah lemari dengan empat tingkat colorful. Saya sebenarnya suka dengan warna-warna yang monoton. Kalau hitam ya hitam saja, coklat ya coklat saja, kalau putih ya putih saja. Ah tapi pilihan di toko furnitur dekat rumah saya ya hanya ini. Tidak ada lagi yang lain. Kalaupun ada terlalu mahal dan terlalu besar.

Lemari sudah dibeli, dan sekarang saatnya menata buku-buku saya ke dalamnya. Tingkat pertama alias tingkat paling atas saya isi dengan buku-buku dari penerbit favorit saya. Buku-buku terbitan Mojok. Kalau sedang suntuk dengan dunia perpolitikan persilatan, saya biasanya baca-baca buku Mojok yang terkenal ringan dan menceritakan kehidupan sehari-hari.

Di tingkat pertama tidak hanya buku mojok tapi juga buku-buku puisi mulai dari Chairil Anwar sampai Joko Pinurbo. Buku-buku puisi saya tempatkan di paling atas sebab memudahkan saya mengambilnya. Biasanya buku-buku puisi ini saya jadikan inspirasi untuk menulis caption ataupun berdiskusi di sebuah komunitas puisi. Benar-benar beliau para penyair puisi ini sangat istimewa bagaimana seolah kata-kata menurut pada mereka. Hujan, senja, daun-daun yang berguguran dan juga kopi selalu bisa jadi sebuah inspirasi.

Turun ke tingkat selanjutnya dihuni oleh buku-buku self-improvement dan buku-buku best seller penulis kekinian. Iya, saya mengkoleksi buku self-improvement karena saya percaya softskill itu perlu ditingkatkan. Rasa-rasanya percuma juga kalau yang saya baca hanyalah buku-buku fiksi saja. Di samping buku self-improvement ada buku milik para penulis best seller kekinian seperti Fiersa Besari, Boy Candra, dan lainnya.

Nah untuk di tingkat terbawah ada buku-buku yang tebal-tebal yang jarang saya baca. Memang jarang saya baca, tapi pernah saya baca setidaknya sekali. Sebab untuk menyelesaikan satu buku tebal itu butuh waktu yang lama bagi saya. Kurang lebih sebulan hanya satu buku. Tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer saja hingga saat ini saya baru sampai di judul Jejak Langkah. Iya, Rumah Kaca saya belum baca. Di samping itu ada Madilog yang hingga saat ini masih saya usahakan untuk memahami arah pemikiran Tan Malaka.

Saat saya menata kesemua buku saya itu tiba-tiba Bapak saya memerintahkan untuk menurunkan semua buku saya setingkat. Yang mulanya ada di tingkat pertama paling atas, harus turun ke tingkat dua. Begitu juga dengan buku di tingkat bawahnya. Saya bertanya mengapa harus seperti itu. Mengapa tingkat atas harus kosong. Kemudian beliau membawa buku-buku agama dan kitab-kitab suci. Beliau berkata sebanyak apapun buku saya, tidak boleh ada yang sejajar dengan kitab suci.

Saya hanya terdiam dan mangut-mangut mengiyakan seraya menurunkan semua buku saya satu tingkat, kemudian mempersilahkan bapak saya menaruh kitab-kitab dan koleksi buku agamanya di tingkat paling atas.

Please follow and like us:

6 thoughts on “PERPUSTAKAAN KECIL

  1. jadi ingat dulu buku saya juga nggak beraturan letaknya, sampai akhirnya suami ngerubah lemari pakaian anak-anak jadi rak buku….hehe

  2. Buku-buku saya dan anak gadis saya berhamburan seisi rumah . mana hobinya beli dan beli lagii. hehe.. trus bapaknya anak-anak sebel lihatnya, dan tak tuk tak tuk dia udah sibuuk aja di teras belakang membuatkan rak buku. dia memang hobinya yang semacam DIY gitu. naah rak itu terus penuh.
    saya iseng nunjukin rak model melayang.. dan besoknya tak tuk tak tuk sudah sibuklah dia bikin rak melayang yang cantiik.

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae