pernikahan

Pernikahan yang Membungkam

Di pagi yang cerah dengan matahari yang mulai meninggi terdengar bunyi dari hengpon jadul saya. Selalu seperti ini. Bunyi-bunyi notifikasi hengpon selalu mengganggu. Tapi entah kenapa saya ogah jika disuruh mematikan notifikasi-notifikasi yang ada. Saya cek juga akhirnya ada apa dibalik notifikasi itu. E lha jancuk jebul undangan pernikahan dari salah satu teman SMA saya.

Melihat nama yang mengundang dan nama yang ada di dalam undangan saya kaget. Kemudian kaget lagi untuk yang kedua kalinya setelah yang pertama tadi kaget karena tahu kalau itu adalah undangan pernikahan. Nama mempelai perempuan yang ada di baris pertama undangan menunjukkan salah satu teman masa SMA yang saya bisa bilang sangat vokal ketika menyampaikan segala pendapatnya. Dia termasuk sosok yang saya kenal sebagai wanita yang berbeda. Sosok yang saya kenal juga begitu aktif dalam mengutarakan berbagai macam pikiran yang dia simpan. Terbukti dari berbagai macam kegiatan berbau aktifis yang dia ikuti. Juga dari salah satu gerakan yang dia ciptakan dan dia pimpin sendiri untuk menuntaskan problematika anak jalanan. Saya termasuk satu di antara mereka yang mengacungkan jempol untuknya. Wanita seumuran saya yang tangguhnya bukan main. Hebat.

Agaknya jika saya sebutkan kegiatan apa yang dia pelopori nanti, anda para pembaca bisa pada tahu siapa yang sedang saya bicarakan ini. Karena dia memang sering masuk koran, majalah, dan sebagainya. Tentu tidak pantas untuk saya yang menulis tulisan yang cenderung ngerasani ini. Tidak pantas untuk menyebutkan sosoknya lebih mendalam. Saya jelaskan secara singkat saja. Dia aktifis, pelopor, vokal, dan sudah menjadi pembicara dimana-mana. Begitu kira-kira singkatnya.

Nah kembali lagi ke masalah pernikahan. Tidak saya sangka asmara begitu cepatnya membelenggu. Saya tidak begitu mengerti alasan cepatnya seseorang menikah. Karena saya sendiri jika saya lihat lebih mendalam saya termasuk golongan yang belum berpikir ke arah sana. Memang beberapa orang berpikir menikah akan menjadi fase selanjutnya setelah studi. Jadi dalam pikiran golongan ini wajib hukumnya buru-buru setelah selesai kuliah, cus maknyus menuju pelaminan.

Beberapa orang yang lain menuju pernikahan sebab diburu gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. Luar biasanya gerakan ini bisa mempropaganda para muda-mudi Indonesia untuk menuju pelaminan secepat mungkin. Makin cepat makin baik. Tidak perlu memikirkan tetek-bengek persiapan menikah. Menikah ya menikah saja. Kalau sudah cukup umur dan sah secara hukum, cus ke KUA dan ijab dan melangsungkan ritual suami-istri.

Nah saya tidak mengerti apa yang menjadi alasan teman saya yang saya bilang sebagai aktifis ini untuk segera menikah. Saya tidak terlalu dekat dengannya. Dan rasanya tidak baik sebagai seorang laki-laki untuk menanyai calon istri orang dengan pertanyaan tentang apa alasannya menikah secepat ini. Tentu ada banyak faktor yang membuat orang melangsungkan pernikahan. Mulai dari orang tua yang menyuruh, pasangan yang meminta, atau dari diri sendiri, atau bahkan yang terburuk married by accident.

Rasa-rasanya sudah tidak penting mencari alasan kenapa seorang teman saya yang kebetulan aktifis ini menikah begitu cepat dan terkesan buru-buru, menurut saya. Toh undangan sudah disebar dan janur akan segera melengkung. Cincin tunangan juga sudah melingkar di jari manis. Kedua orang tua mempelai juga sudah setuju. Dan tidak ada intervensi baik dari pihak ketiga ataupun keempat dan kelima. Semuanya sudah tertata. Mungkin hanya tulisan saya ini yang sedikit menyampaikan komplain.

Baru saja kemarin saya menyelesaikan membaca buku berjudul Jejak Langkah milik Pramoedya Ananta Toer. Buku yang mengisahkan tentang gerak-gerik jurnalisme pada masa pemerintahan kolonial. Buku yang tentu saja harus menjadi kiblat segala macam pemberitaan dan jurnalistik. Dan dari buku itu juga saya petik sebuah pelajaran. Pelajaran tentang kisah seorang gadis Jepara yang saya rasa dengan pasti bahwa gadis itu adalah R.A. Kartini. Tentang bagaimana pernikahan adalah sebuah cara untuk membungkam mulut wanita yang pandai dan berani berbicara.

Sudah menjadi budaya di zaman kolonial dulu bahwa derajat wanita tidak sejajar dengan pria. Wanita hanyalah objek. Tak boleh bicara apalagi mendebat kaum lelaki. Nah inilah kenapa sosok vokal seperti R.A. Kartini ditentang oleh pemerintah kolonial. Tidak lain dan tidak bukan karena kelebihan kartini dalam berbicara dan tentu saja menulis.

Akhirnya pemerintah kolonial bertindak. Untuk membungkam mulut R.A. Kartini diwujudkanlah pernikahan. Pernikahan yang pantas disebut sebagai pernikahan politik. Pernikahan yang tidak dilandasi dengan cinta dan hati. Tapi lebih karena ketakutan pemerintah kolonial akan kebangkitan kaum wanita pribumi yang tentu saja dipelopori oleh R.A. Kartini.

Lalu apa hubungannya dengan teman saya yang akan menikah ini? Tentu saja ada.

Bukan karena pernikahan teman saya ini berbau politik. Ah ya tentu saja tidak. Politik sekarang cuma Jokowi vs Prabowo saja. Bukan juga karena kita ini hidup di zaman kolonial karena dengan jelas kita hidup di zaman milenial. Hubungannya tentu saja ada pada teman saya yang vokal ini seperti sosok R.A. Kartini. Wanita yang berani mengutarakan pendapatnya secara lantang. Mempelopori berbagai gerakan positif yang ditunggu-tunggu banyak orang.

Yang menjadi kegundahan saya kali ini adalah pernikahan yang akan dilangsungkan teman saya ini. Apa mungkin pernikahan ini akan membuatnya tidak menjadi sevokal dan seaktif dulu. Pernikahan akan membunuh segala pemikiran-pemikiran cemerlang yang dia berikan untuk negeri ini. Sama seperti pernikahan yang dilangsungkan kepada R.A. Kartini agar kodratnya sebagai wanita kembali seperti semula. Tapi tentu saja saya yakin pernikahan teman saya tidak berdasarkan paksaan melainkan berlandas cinta dan kasih sayang.

Menjadi seorang istri berarti berbakti pada suami. Tunduk dan patuh adalah syarat menjadi istri yang baik. Tidak hanya punya kewajiban kepada suami, kelak seorang istri akan menjadi seorang ibu. Tanggung jawab bertambah banyak seiring datanya anak. Tentu suami yang baik tak akan membiarkan istrinya mengemban tanggung jawab itu sendirian. Tapi tetap saja dengan pernikahan akan membungkam segala pemikiran-pemikiran. Segalanya akan mulai terbatasi.

Lalu mau dikemanakan semua gerakan yang sudah teman saya bangun? Apakah menikah adalah akhir dari semua gagasan-gagasan cemerlangnya? Ah sial, menikah memang bagaikan garis akhir.

Saya tidak tahu seperti apa kelanjutan dari sepak terjang seorang wanita yang kebetulan saya kenal ini. Begitu aktif dan begitu lantang. Begitu banyak inovasi yang dia berikan. Paling tidak inovasi-inovasi itu sedikit banyak bisa merubah negeri ini. Sebaiknya saya hanya melihat saja dan menilai kedepannya bagaimana pernikahan itu berjalan.

Tentunya akan ada kalimat-kalimat yang mematahkan segala apa yang saya tuangkan di tulisan ini. Kalimat pertama adalah sekarang bukanlah zaman kolonial. Tentu saya tidak bisa menyangkal. Karena memang waktu sudah berubah. Zaman sekarang sudah berbeda dengan dulu. Wanita menuntut disamakan derajatnya dengan pria. Mau menikah atau tidak menikah pendapat wanita harus dihargai. Pernikahan di zaman milenial seperti sekarang bukanlah garis akhir. Ah tapi tetap saja, saya juga ada kenalan yang punya kakak ipar yang melarang istrinya bekerja dan berkarya setelah menikah.

Kedua adalah kalau calon suaminya baik pasti teman saya masih akan tetap menjadi aktifis. Tentu. Inilah yang saya harapkan. Pernikahan tentunya tidak menjadi garis akhir. Justru semua harus dimulai dari sini. Bukankah jika suara-suara kecil yang mendapatkan dukungan akan menjadi besar? Apalagi dari dukungan itu asalnya dari suami sendiri. Ya tentu saja. Inilah yang saya harapkan.

Semoga pernikahan kamu, temanku, sakinah mawadah warahmah dan tiada henti segala tindakan-tidakan besarmu untuk membantu negeriku, negeri kita..

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae