undangan

Perihal Undangan Pernikahan Yang Membuat Hati Tidak Tenang

Semenjak saya dan (mantan) kekasih saya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan yang kami jalani 7 tahun, saya rasakan terjadi perubahan sikap yang begitu signifikan pada ibu saya. Ibu saya menjadi semakin agresif dan emosional jika membicarakan soal pernikahan. Walaupun begitu beliau tetaplah seorang ibu yang selalu ingin membuat saya pulang. Apalagi sekarang kedua anaknya sudah merantau. Pastilah rumah yang sepi membuat hari-harinya juga sepi. Dan kepulangan anaknya adalah yang beliau tunggu.

Saat beliau mengetahui saya sedang menyandang status single, beliau langsung dengan ketusnya berkata “Umur sakmene kok ora nduwe pacar. Wis tuwo.” yang kalau diterjemahkan beliau menanyakan kenapa umur segini kok tidak punya pacar padahal sudah tua. Iya, beliau berkata seperti itu pada anaknya yang masih berumur 23 tahun.

Lah saya tentu saja menjadi bingung. Lelaki baru berumur 23 tahun kok sudah dibilang tua. Oh iya, kalau usia saya saat ini jika dibanding ibu saya dulu di usia yang sama, maka saya sudah punya anak satu.

Begitu kabar putusnya saya dengan sang mantan terdengar di telinga ibu, beliau langsung gerak cepat. Tidak sampai seminggu beliau sudah memberikan satu nama kandidat untuk saya dekati. Tidak lain dan tidak bukan dari kawan ibu saya. Bukannya fokus pada calon yang ingin beliau kenalkan, saya malah bingung bagaimana ibu saya bisa secepat itu mendapatkan satu nama.

Sayapun hanya menebak-nebak metode apa yang ibu saya gunakan. Saya tidak berani menanyakan langsung sebab jika saya terlihat tertarik, maka pergerakan ibu saya bisa semakin menjadi-jadi. Apakah ibu saya menggunakan fitur broadcast di WhatsApp atau jarkom via grup-grup. Ah saya tidak tahu. Yang jelas cara yang digunakan ibu saya ini sangat ampuh.

Rekomendasi yang diberikan ibu saya tidak saya gubris. Saya hanya berkata ya dan berjanji akan segera berkenalan dengan wanita itu. Tapi tidak ada tindakan serius dari saya. Di setiap saya telfon ibu saya untuk bertanya kabar, selalu terselip satu kata dalam kalimat yang beliau katakan. Kenalan. Tapi lagi-lagi saya hanya berkata ya dan berjanji manis untuk segera berkenalan.

Beberapa hari yang lalu datang selembar undangan ke rumah. Undangan berwarna merah jambu yang bermaksud untuk mengundang saya untuk hadir ke sebuah pernikahan. Tidak lain dan tidak bukan dari teman kuliah saya dulu. Sebenarnya teman saya ini memberikan opsi untuk mengirim ke alamat di mana saya bekerja saat ini. Tapi mengingat dia juga menyertakan bahan baju untuk dipakai nanti untuk dresscode pernikahannya, maka saya memintanya untuk mengirimkan ke rumah saja sebab urusan jahit menjahit, ibu saya jagonya. Bahkan beliau bisa tahu ukuran baju saya melebihi saya sendiri.

Kabar undangan yang sampai di rumah kemudian terdengar di telinga saya. Tidak lain dan tidak bukan tentu saja dari ibu saya sebagai penerima undangan. Lewat telepon ibu saya mengabarkan bahwa ada undangan untuk saya di rumah. Yang dia bingungkan kenapa ada bahan baju batik sepaket dengan undangan tersebut. Sayapun menjelaskan maksud dan tujuan dikirimkannya bahan baju itu dan meminta tolong pada ibu saya untuk menjahitkan baju untuk saya. Beliaupun dengan senang hati menyanggupi permintaan anaknya.

Ibu saya, yang sudah menyanggupi bertanya untuk kapan baju itu akan dipakai. Saya menjawab dipakai sehabis lebaran. Kemudian pertanyaan paling menjengkelkan datang, “Kowe kapan?”. Saya,  yang tahu arti pertanyaan ibu saya, hanya bisa berpura-pura bodoh dengan menanyakan apanya yang kapan. Ibu saya dengan tegas menambahkan, “Nduwe bojo!”.

Please follow and like us:

2 thoughts on “Perihal Undangan Pernikahan Yang Membuat Hati Tidak Tenang

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae