ombak

Ombak Penari

Apa yang bisa kuperbuat

Sementara bayangmu selalu terlihat

Aku lari saja ke pantai

Menonton pentasnya

Aku punya gubug. Tidak bisa dibilang dekat pantai, tidak bisa jua dibilang jauh. Tidak jauh sebab pantai hanya satu kampung dari gubug aku tinggal. Tidak dekat juga karena dari gubugku aku tidak bisa melihat pentas ombak penari. Mereka biasanya melakukan pentas tariannya saat air laut membiru karena terik matahari dan suatu waktu ketiku air laut kuning kemerahan tanda senja tiba.

Aku tidak tahu darimana asal ombak penari. Mereka datang begitu saja. Aku yakin mereka tidak berasal dari kampungku. Di kampungku, di mana anak kecil tak bermain gadget, aku tidak pernah melihat ombak penari secantik itu. Aku hanya melihat matahari yang selalu di barat dengan cahaya merahnya dan juga air mengalir di mana laba-laba air bisa berjalan di atasnya. Aku yakin juga tidak mungkin kampung sebelah mereka berasal. Kebanyakan orang disana berpencaharian nelayan. Mengarungi laut tuk dapat ikannya. Tidak ada sama sekali penari.

Biar kau tahu, aku jelaskan padamu bagaimana perawakan ombak penari. Tapi kamu jangan dulu kaget. Sebab mereka bisa berdiri di atas air laut. Aku kira mereka cukup ringan. Kalau ingin menjadi ombak penari, mungkin aku rasa inilah syarat mutlaknya. Harus bisa berdiri di atas air laut. Pakaian pentasnya warna biru. Kalau kau tanya itu biru jenis apa, aku tidak tahu. Bukankah sama saja semua biru itu. Kenapa jua kamu suka mengkotak-kotakan. Yang aku tahu biru itu warna langit. Pakaian ombak penari sama seperti itu, cuma agak lebih tua. Ini pakaian cuma untuk siang hari. Mereka harus ganti baju saat sore hari. Kau tahu warna kuning ketela. Kuning kemerah-merahan adalah pakaian pentas senjanya. Sayang selendangnya warnanya butih seperti buih. Aku kurang suka.

Biar kau bisa bayangkan, aku beritahu padamu gerakan ombak penari. Sama dan konsisten. Sepanjang pentasnya. Menggerakkan tangannya dari arah laut lepas ke arah pantai membentuk gelombang. Jangan pernah kau tanya kenapa melihat seperti itu terus-menerus gerakan yang diulang aku tak bosan. Karena jika pertanyaan seperti itu terucap di bibirmu aku akan sedih. Memangnya selama ini aku terlihat seperti manusia yang mudah bosan dalam mencintaimu. Cobalah sini kau lihat dulu bersamaku bagaimana selendang mereka ikut bergoyang bersama ayunan tangannya. Menari di atas air laut. Memakai pakaian biru saat matahari tinggi atau jingga saat senja. Mereka pasti mengajakmu seperti mereka mengajakku. Tapi kau duduk denganku saja melihat mereka. Untuk apa kau ikut mereka. Bisa berenang saja tidak malah kau ingin ikut berdiri di atas air laut.

Biar kau bisa dengarkan, aku ceritakan padamu lagu pengiring tarian ombak penari yang menentramkan jiwa. Orang biasa tidak akan bisa dengar liriknya. Kau pun sebenarnya tidak bisa. Kecuali kau mau duduk di pasir yang mereka jadikan bangku pemirsa. Tepat di sebelahku. Kalau kau jadi ikut denganku ke pentas ombak penari, kau tidak perlu headphone untuk fokus ke suara mereka. Kuberitahu caramu bisa dengar lagu itu. Satu telingamu tempelkan di bahuku. Irama musiknya ada di degup jantungku. Coba kau ikuti setiap bunyi dug darinya. Tapi jangan kau sambil peluk aku. Nanti iramanya bisa kacau balau. Satu telingamu yang lain tetap arahkan ke laut. Kalau kau kira mereka hanya menari, kau salah. Nyanyian mereka justru di antara yang paling indah di bumi ini. Suara ombak penari.

Tapi maaf. Aku baru dapat tiket pertunjukan ombak penari setelah pertemuan kita waktu itu. Harusnya tiketnya aku dapat dari dulu. Dua tiket ini mubazir sebab saat ini aku tidak berhak mengajakmu. Aku bingung aku harus pergi dengan siapa.

“Ajak aku saja.” Angin berbisik. Kamipun pergi berdua.

 

Sikucing-

Oktober 24, 2018

Please follow and like us:

One thought on “Ombak Penari

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae