Ngapak, Jawa Medok Kok Lu-Gue

Bahasa gaul anak sekarang memang pake kata elu untuk mengganti kata kamu dan gue untuk mengganti kata saya. Kedua kata ini katanya dari Bahasa Cina, tapi ya begitulah malah sering dipake di ibukota. Jalan-jalanlah sebentar ke ibukota maka kata-kata ini akan terdengar dalam percakapan sehari-hari. Ditambah lagi dengan kata anjir, kepo, nyokap, bokap dan sebagainya, seakan menjadi bumbu pelengkap pergaulan khas ibukota yang bergengsi dan penuh ambisi.

Pindah kota, pindah daerah, berganti pula bahasa dan dialek yang digunakan. Mari kita ke Jawa Tengah. Dari Jawa Tengah bagian barat dengan logat ngapak sampai timur dengan logat -em nya. Tiap kota punya ciri khas masing-masing. Tapi ada satu yang pasti. Bahasa Jawa yang medok. Medok itu berarti logat daerahnya sangat kental. Ngapak yang ngapak banget, ataupun Jawa yang Jawa banget.

Aku tidak akan membicarakan orang Jawa yang merantau ke ibukota, karena menjadi Lu-Gue people itu wajib. Yang membuat penasaran itu bagaimana orang-orang asli ibukota dengan bahasa keseharian Lu-Gue bisa membuat anak daerah ikutan Lu-Gue (tentu dengan logat Jawa Original). Aku biasa temui kasus ini di kampus dulu waktu kuliah. Bagaimana para anak ibu kota bisa membawa pengaruh Lu-Gue ke anak daerah, sehingga bahasa mereka campur aduk tak karuan. Bahasa ibukota ala Semarangan.

Suatu siang yang terik terdengar obrolan dua orang teman. Yang satu anggap saja asli ibukota, yang satu anggap saja anak asli Jawa Tengah bagian timur.

“Heh njir, elu wis mangan?”. Ucap si anak daerah dengan logat Jawa Kental.

“Udeh dong. Gue udah makan. Mau nongs juga boleh.”. Sahut si anak ibukota.

Aku ingin tertawa tapi tidak enak rasanya. Kalau bisa diungkapkan dengan pesan teks, mungkin aku akan mengetik L.O.L. puluhan kali. Bagaimana tidak tertawa mendengar percakapan itu, seakan memaksa sesuatu yang memang tidak seharusnya dicampur. Seperti makan soto yang terlalu panas, ingin didinginkan tetapi dicampur es batu. Ingin terlihat mengimbangi kegaulan anak ibukota, kemudian bahasa daerah dicampur bahasa gaul, diucapkan dengan dialek lokal. Tidak mashoook

Posisi anak ibukota di sini adalah perantau dan posisi anak daerah adalah tuan rumah. Anak ibukota punya bahasa dan dialek tersendiri. Anak daerah juga punya ciri khas bahasa kesehariannya. Antara tamu dan tuan rumah. Tuan rumah diwajibkan menghormati tamu, dan tamu tidak boleh seenaknya di “rumah” orang. Kira-kira kalau diumpamakan seperti itu. Bahasa gaul yang diucapkan dengan dialek lokal menjadi bukti kalau anak daerah menghormati tamu mereka yaitu anak ibukota.

Bukan salah anak ibukota kalau anak daerah ikut-ikutan pakai bahasa gaul karena aku pastikan tidak ada paksaan dari anak ibukota. Anak daerah mengalir begitu saja mengucapkan kata “gue” atau “elu”. Berharap terdengar gaul jika sudah berbahasa gaul. Berharap lebih akrab dengan anak ibukota yang cantik seperti bidadari. Kalau sudah akrab, bisa chat tiap malam, terus jadian. Seperti itukan yang diharapkan? Ujung-ujungnya pengharapan menghapus kejombloan.

Untuk anak daerah, just be yourself. Banggalah dengan boso jowo. Karena boso jowo itu sederhana. Sesederhana kata-kata jancuk yang keluar dari mulut jika terjadi hal-hal yang mengagetkan dan tidak sesuai dengan keinginan. Dan untuk anak ibukota, pelajarilah boso jowo. Niscaya kamu bisa jancuk-jancuki kanca-kancamu.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae