ngrgrs

Negara Agraris, Indonesiaku

Indonesia adalah Negara Agraris. Sampai akhirnya hilang karena harus impor beras dari luar negeri. Beban moral yang ditanggung mentan sangatlah besar.

Waktu saya lihat tagar #MentanMusuhBumi yang sempat trending saya kaget. Lha kok iso, wong Mentan yang seharusnya berhubungan dengan pertanian kok merusak bumi. Julukan ini kalau disematkan ke Menteri PUPR yang lainnya akan lebih pas. Karena dengan jelas merusak lingkungan dengan pembangunan infrastruktur dan lain sebagainya.

Kekagetan saya bertambah saat tahu kalau tagar itu benar. Mentan punya gagasan untuk merubah rawa menjadi lahan pertanian. Lah tentu saja saya mempertanyakan gagasan semacam ini. Apa bedanya dengan pembukaan hutan untuk lahan perkebunan. Sebegitu tertekankah Mentan dengan label Negara Agraris yang tersematkan di Ibu Pertiwi ini sampai-sampai mengatasi satu masalah dengan menimbulkan masalah lainnya.

Bukan Menteri namanya kalau tidak menyertakan solusi di tiap dampak negatif yang timbul dari kebijakannya. Ancaman banjir dari drainase yang terhambat. Mentan sebagai seorang Menteri sudah memikirkan hal itu. Dipasang tanggul setinggi 70 cm yang membuat masyarakat bertanya-tanya, untuk apa rawa dipasangi tanggul. Setidaknya jauh lebih kecil daripada tanggul lumpur lapindo yang sudah mencapai lebih dari 8 meter.

Usaha Mentan ini bisa kita bilang ekstensifikasi pertanian. Menambah produksi dengan menambah lahan. Harus saya akui ini adalah jawaban awal untuk merengkuh kembali label Negara Agraris yang mulai saya pertanyakan setelah impor beras besar-besaran.

Eits, bukan netijen Indonesia kalau tidak nyinyir. Tapi nyinyir tetap ke arah positif ya.

Masalah pangan di Indonesia ini bisa dibilang kritis. Indonesia darurat pangan. Apa impor beras yang besar-besaran itu tidak menunjukkan? Atau impor beras ini sebenarnya  hanya untuk menuruti mindset “kalau belum makan nasi, belum makan.” Walaupun sudah makan roti 3 biji, indomie telor 2 bungkus. Bahkan makan indomie saja harus pakai nasi. Kelihatan sekali kalau rakyat kita punya ketergantungan terhadap beras.

Lebih baik kita runtut dulu apa penyebab darurat pangan. Beras berasal dari gabah. Gabah berasal dari padi. Padi di tanam oleh petani. Lah kalau petaninya saja tidak ada, berarti berasnya juga hilang.

Bayangkan saja, dalam kurun waktu 10 tahun menurut BPS, jumlah rumah tangga petani sudah berkurang sebanyak lima juta. Angka yang setara dengan gaji bulanan saya cukup besar untuk waktu 10 tahun. Kemana kira-kira lima juta rumah tangga itu beralih profesi. Mungkin jadi buruh pabrik lebih menjanjikan.

Anak muda sekarang beranggapan kalau petani adalah profesi yang tidak menjanjikan. Bahkan bergelut dengan kemiskinan. Lha wong dari orang tuanya saja yang petani kebanyakan tidak ingin anaknya mengikuti jejak mereka. Tentu kalau Mentan mendengar ini, beliau pasti sedih. Bagaimana mau jadi Menteri kalau rakyatnya tidak mendukungnya.

Cuma empat persen dari keseluruhan petani tanaman pangan yang berusia di bawah tiga puluh tahun. Itu berarti kalau ada 1000 petani, 900 lebih sudah berumur di atas tiga puluh tahun.

Kalau bapak Mentan mau mengatasi krisis pangan dengan membuka lahan pertanian baru dengan mengalihfungsikan rawa ya ibaratnya sama dengan bapak ingin menulis tapi tidak punya pena, tapi malah beli kertas lebih banyak. Ya to?

Ibarat lagi, kalau ingin nge-print tapi tintanya habis, apa ya malah beli kertas. Sudah pasti nggak to. Lho ini sama seperti kasus-kasus kekeringan di lahan pertanian di Jawa. Banyak lahan pertanian kekekringan gara-gara masalah irigasi alias pengairan.

Sudah diketahui bersama kalau padi tidak bisa hidup tanpa air. Musuh utama selain hama ya pengairan. Pengairan ini lewat irigasi. Kalau irigasi bermasalah padi tidak bisa diairi. Kalau padi tidak diairi bisa jadi produksi turun. Produksi beras yang turun yang rugi siapa. Ya mereka-mereka itu para petani. Kemudian ya kita-kita ini bangsa Indonesia. Karena lagi-lagi harus impor. Lha kalo impor mbok ya jangan beras. Kadang bosen. Gandum apa jagung gitu. Bahkan bisa saja petani-petani ini jadi hidup segan mati tak mau. Karena seringkali harus mengeluarkan biaya sendiri untuk sewa atau beli pompa untuk pengairan dengan biaya yang tidak sedikit tentunya. Mau tidak mau. Kalau tidak  mau ya siap-siap telan pil lebih pait dengan gagal panen.

Ini lagi yang buat saya bertanya-tanya. Presidennya sudah bikin banyak bendungan, kok malah tidak dimanfaatkan. Pak Jokowi kan sudah berbaik hati untuk buat banyak bendungan (saya bukan timses). Bukannya dibuatkan irigasi yang baik biar semua lahan pertanian bisa sukses panen, kok malah buka lahan pertanian baru. Ya ini ibaratnya sudah dibelikan tinta printer, tinggal diisikan saja ke printernya kok malah tetep kekeuh beli kertas baru. Haduh-haduh.

Ah tapi saya sepertinya terlalu nyinyir kalau yang dilihat jelek-jeleknya terus. Tanpa memberikan komentar positif.

Kebanyakan lahan rawa ada di luar Jawa. Lahan rawa itu yang tadinya dipandang kurang bermanfaat, nantinya akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Pak Menteri sudah sudi berkorban daya dan upaya untuk membuat lahan pertanian di sana. Sudah dibikinkan sesuatu yang harus dimanfaatkan. Tambah lahan pertanian berarti tambah lapangan kerja. Ya to? Harapannya selain mencapai kedaulatan pangan di Negara Agraris, ya bisa meningkatkan taraf hidup manusia-manusia di sekitarnya. Biar tidak nganggur. Tidak kluntrak-kluntruk seperti bantal tidur.

Meskipun tidak ada bedanya dengan pengusaha-pengusaha di sana yang membuka hutan untuk ditanami tanaman perkebunan, acungan jempol karena pemerintah sudah berinovasi dan menemukan terobosan baru untuk mengatasi krisis pangan di negeri ini. Nanti kalau tidak diatasi, rakyatnya protes terus kalau impor beras.

Kemudian pak menteri, seandainya bisa, rakyatnya di edukasi tentang pentingnya pertanian ini. Biar anak-anak muda termasuk saya tidak malu bertani. Karena terus terang, untuk sekarang ini profesi youtuber lebih populer ketimbang jadi petani.

Kemudian yang kedua, seandainya bisa, sistem irigasi di Jawa ini mbok dibetulkan. Biar teman-teman saya yang jadi petani tetap betah jadi petani. Karena kebanyakan petani pada alih profesi jadi buruh pabrik.

Apapun kebijakan mentan, saya dukung. Bukannya itu semata-mata agar Negara Agraris bisa kita rengkuh kembali?

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae