pekerjaan

MENJADIKAN PEKERJAAN SEBAGAI SEBUAH ALASAN

Siang itu seperti biasa saya sempatkan untuk mengevaluasi pekerjaan lapangan. Sebagai pelaku pekerjaan konstruksi saya memang tidak bisa lepas dari urusan pulang pergi lapangan-kantor. Lah bagaimana lagi, di kantor kan hanya soal urusan administrasi dan perencanaan. Eksekusi pekerjaan kan di lapangan. Bukankah perencanaan yang brilian tanpa eksekusi yang sempurna sama saja dengan orang yang banyak ide tapi tidak pernah melangkah?

Saya nyalakan mobil 4WD inventaris kantor. Pekerjaan proyek memang butuh mobil-mobil yang seperti ini untuk kendaraan operasional. Ya mau bagaimana lagi. Bukan hanya sekali saya menggunakan mobil minibus seperti Innova untuk kemudian kepater di area proyek.

Saya ajak salah satu kawan untuk menemani saya. Kebetulan dia juga ada keperluan di lapangan. Ya kalau begitu pas. Saya duduk di belakang kemudi, kawan saya ini duduk di sebelah saya. Semua berada di kursi depan.

Beberapa bagian pekerjaan memang telah selesai dan sudah bisa dinikmati masyarakat umum, termasuk kami berdua yang sebenarnya pekerja proyek, tetapi lebih memilih menggunakan jalan baru yang masih kinyis-kinyis ini. Kami memilih melewati jalan yang sudah jadi ini karena mempercepat perjalanan kami untuk sampai ke lokasi yang kami tuju.

Setelah menggeber mobil dengan kecepatan di atas rata-rata kecepatan saya sendiri, saya terpaksa untuk berhenti. Antrian kendaraan tiba-tiba macet cukup panjang. Jalan yang saya lalui ini sebenarnya memang sering macet. Hal ini disebabkan karena jalan cukup sempit. Hanya cukup untuk satu lajur mobil dari setiap arahnya.

Saya berpikir penyebabnya adalah mobil yang parkir di pinggir jalan. Dugaan saya ini saya dasarkan atas hal yang biasa terjadi di ruas jalan itu. Ruas jalan itu dipenuhi oleh toko-toko dan juga tempat makan yang tidak punya lahan parkir. Akhirnya mobil ataupun kendaraan harus diparkirkan seadanya dan biasanya mau tidak mau harus menutup sebagian jalan.

Saya tidak habis pikir dengan pelaku usaha yang tidak memikirkan lahan parkir untuk pelanggannya. Pertama tentu saja bisa mengurangi omset pelaku usaha itu sendiri. Bisa jadi pelanggan tidak jadi berkunjung ke tokonya hanya karena tidak bisa memarkir kendaraannya. Kedua tentu saja mengganggu kepentingan umum. Sama-sama bayar pajak kok buat macet.

Kendaraan-kendaraan di depan saya akhirnya merayap lambat-lambat. Jalan sudah mulai terbuka. Saya menekan gas pelan-pelan dan memutar kemudi ke arah kanan searah jarum jam. Saya masih dihantui rasa penasaran sebenarnya apa penyebab kemacetan ini.

Badala!!! Penyebab kemacetan tidak lain dan tidak bukan adalah pedagang yang sedang melayani pelanggannya. Astaga. Di situ saya langsung sambat pada teman di sebelah saya. Bagaimana mungkin kepentingan orang banyak harus dipinggirkan dibandingkan kepentingan satu atau dua orang.

Teman sayapun nyeletuk, “Kasihan dia, dia tidak bermaksud membuat kemacetan. Dia hanya sedang mencari rezeki.”

Sayapun terdiam. Saya pikir benar juga. Pedagang itu sedang mencari rezeki. Dia sedang bekerja mungkin untuk menghidupi anak dan istrinya. Eh, tapi tunggu dulu.

“Bukannya kita ini juga dalam perjalanan untuk pekerjaan? Kan kita ini juga mencari rezeki?” Jawab saya pada kawan saya. “Dan juga orang-orang tadi yang bermacet-macet ria bersama kita juga pasti ada yang berkendara karena pekerjaan.”

“Oh iya juga ya. Kalau begitu mencari rezeki tidak bisa dijadikan alibi mengganggu kepentingan umum.” Jawab kawan saya mengiyakan.

Kamipun melanjutkan perjalanan.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae