anak tk

MENJADI ANAK TK YANG TIDAK DITUNGGUI ORANG TUANYA

Dulu saya termasuk golongan anak yang beruntung dibandingkan anak-anak yang lainnya. Saat teman-teman saya yang lain tidak menempuh pendidikan sebelum sekolah dasar, saya bisa mengenyamnya. Sekitar umur empat tahun saya masuk ke salah satu taman kanak-kanak NU di desa saya. Tentu saja saya tidak sendiri. Saya juga masuk ke TK ini bersama teman-teman masa kecil saya yang tidak seberapa. Ada teman yang beruntung bisa ikut TK, ada yang tidak. Teman-teman saya ini nantinya sudah pasti akan sekolah di SD yang sama.

TK yang orang tua saya pilihkan untuk saya itu berupa rumah warga yang dijadikan tempat belajar-mengajar dan bermain. Tidak ada bedanya dengan rumah joglo yang lainnya. Rumah joglo selalu punya ruang tamu yang sangat besar. Ruang tamu inilah segala kegiatan kami anak-anak TK berlangsung. Jarak TK ke rumah saya juga cukup dekat. Dengan berjalan kaki saja sudah bisa sampai.

Sudah jadi rutinitas bapak saya mengantarkan saya ke taman kanak-kanak. Setiap pagi beliau mengantarkan dengan sepeda motor Astrea Star tahun ’86 miliknya. Hampir setiap pagi saya duduk di belakang dan pegangan dengan erat. Dan tiba-tiba saya sudah sampai di tujuan. Betapa cepatnya. Tapi saya yakin itu bukan karena motor yang melaju dengan kencang. Tapi lebih karena lokasi TK yang dekat dengan rumah. Motor bapak saya waktu itu sulit sekali bahkan cenderung mustahil untuk menembus kecepatan 60km/jam.

Setiap saya sedang diantarkan oleh bapak, beliau selalu menyapa rombongan ibu-ibu yang mengantarkan anaknya ke tempat yang sama. Saya juga terpaksa menyapa teman-teman saya. Saya sempat memandang rendah mereka. Sebab mereka ke TK jalan kaki. Tidak seperti saya yang naik motor. Benar-benar angkuh saya waktu itu. Tapi untuk bapak yang menyapa ibu-ibu itu, saya tidak tahu maksudnya. Entah memang menyapa sebab sunah untuk selalu memberi salam , atau bapak saya hanya tebar pesona saja. Bapak saya ini termasuk ganteng, seorang guru, dan PNS pula. Sebuah pekerjaan yang akan sangat dihormati di desa-desa.

Setiap bapak saya tidak bisa mengantarkan, ibu saya siap sedia menggantikan. Maklum saja, bapak harus bekerja. Seringkali tidak sempat mengantarkan walaupun sebenarnya dekat. Selain bapak sering rapat ke tempat yang lumayan jauh, arah tujuan kami juga berlawanan. Di situlah peran ibu sebagai pemain cadangan untuk mengantarkan anaknya pergi sekolah. Tentu saja setelah ibu selesai mengurus segala urusan rumah tangga. Setelah rumah bersih, dan juga setelah lauk makan siang sudah matang.

Kenapa lauk makan siang dimasak pagi-pagi? Inilah istimewanya. Ibu saya ini juga seorang PNS. Kerja pagi pulang sore. Sama seperti bapak saya. Jadi tidak sempat lagi untuk memasak seperti kebanyakan ibu rumah tangga yang lainnya.

Kesialan saya dimulai saat bapak dan ibu saya benar-benar tidak bisa mengantarkan saya ke rumah joglo untuk belajar. Seringkali saat itu mereka harus berangkat pagi-pagi. Katanya sih siswa yang mereka bimbing mau diikutkan lomba. Mau tidak mau saya harus ikut dengan rombongan ibu-ibu yang mengantar anak-anaknya. Sial benar, saya yang sering memandang rendah mereka, akhirnya harus ikut juga. Berjalan dengan barisan ibu-ibu yang mengantar anak-anaknya. Kesialan bertambah saat saya sendiri yang tanpa orang tua.

Dilema yang sesungguhnya saat masa-masa TK saya adalah ketika kegiatan belajar. Boleh jadi saya diantarkan oleh kedua orang tua saya. Mungkin bergantian antara bapak dan ibu. Tapi saat kegiatan belajar mengajar, saya tidak ditunggui baik oleh bapak maupun ibu. Alias ditinggal mengingat bapak dan ibu saya harus bekerja. Memang tidak ditunggui adalah sesuatu yang biasa. Tapi ketika anak-anak yang lainnya ditunggui dan saya sendiri yang tidak, di sana saya sebagai anak TK merasa baper.

Kebanyakan dari teman-teman saya mempunyai ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga (saya tidak tahu ibu rumah tangga ini boleh dimasukkan profesi atau tidak). Hanya ayah mereka yang bekerja. Jadi waktu luang ibu-ibu itu cukup banyak untuk sekedar menggosip menunggui anaknya bermain dan belajar bersama dalam satu wadah taman kanak-kanak.

Saya merasa berbeda. Terus melintas pertanyaan-pertanyaan di kepala seorang anak TK, di kepala saya sendiri. Kenapa saya tidak ditunggui? Apa saya ini anak pungut? Apa bapak ibu tidak sayang kepada saya? Namanya juga anak kecil. Selalu penasaran dengan sesuatu meskipun sebenarnya ada penjelasan logis atas apa yang terjadi.

Ah butuh waktu lama untuk menjawab itu semua. Sekitar umur 23 tahun saya baru sadar sepenuhnya.

Kenapa saya tidak ditunggui oleh bapak dan ibu saya? Karena mereka bekerja. Mencari uang. Uang juga digunakan untuk pendidikan saya. Untuk yang satu ini saya baru tersadarkan ketika saya sudah bekerja seperti sekarang ini. Salut untuk bapak dan ibu saya yang masih bisa menyisihkan waktu mereka untuk sekedar mengantarkan saya. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana reaksi atasan bapak atau ibu jika orang tua saya harus bolos untuk menunggui saya belajar di taman kanak-kanak.

Apa saya ini anak pungut? Ah ini hanya pertanyaan anak kecil yang dicekoki sinetron dengan tema anak angkat. Sudah pasti bukan anak pungut. Saya sudah tes golongan darah. Golongan darah saya sama dengan bapak saya.

Apa bapak ibu tidak saya kepada saya? Kalau tidak sayang, sudah besar begini kenapa masih saja dikirimi paket berisi makanan ringan kesukaan? Baru saja kemarin saya mendapatkan sebuah kardus mie instan yang berisikan jajanan yang saya suka. Tidak hanya itu, ketika saya pulang ke rumah jajanan ini sudah disiapkan oleh ibu. Semacam sesajen untuk saya.

Sayapun sadar. Setiap orang tua punya jalan mendidik anak sendiri-sendiri. Orang tua saya memilih jalan ini agar anaknya mandiri. Apa-apa sendiri. Mandi sendiri, makan sendiri, dan bahkan melewati tahun baru sendiri.

Please follow and like us:

5 thoughts on “MENJADI ANAK TK YANG TIDAK DITUNGGUI ORANG TUANYA

  1. jadi ingat saya dari sd sampai sma tidak pernah diambilkan rapot oleh orang tua… alasan mereka, kalau anaknya bisa ambil ngapain repot sama ortu nya… padahal kan sebenarnya itu saatnya ortu dan wali kelas sharing ttg kemajuan si anak.. hahaha…

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae