misuh

MENGAMBIL PERSPEKTIF BINATANG YANG SERING DIJADIKAN BAHAN MISUH

Banyak kawan saya bilang saya ini hobi memaki. Kalau dalam boso jowone saya dibilang tukang misuh. Banyak sekali umpatan yang bisa keluar dari mulut saya. Mulai dari kata-kata yang mencerminkan kebodohan, hingga jenis-jenis binatang.

Di waktu SMA ada teman yang sampai-sampai memberi istilah ABC-Dika pada tiap misuhan saya. Istilah itu muncul karena membuat teman saya kesal sebab saya bisa misuh mewakili setiap huruf abjad. Asu, babi, celeng, dick, edan, fuck, germo, homo, dan seterusnya.

Saya tidak bangga dengan apa yang teman saya lakukan. Sebab kelakuan saya ini di dunia normal adab ketimuran tidak akan bisa diterima kecuali jawa timuran. Saya juga tidak merasa menderita karena dicap demikian. Sebab dengan demikian saya bisa menyalurkan tiap emosi saya. Daripada tiap emosi saya pendam dan akhirnya jadi anxiety disorder lebih baik saya keluarkan. Tapi terus terang ini adalah alasan yang ndakik-ndakik karena sebenarnya baru terpikirkan saat menulis tulisan ini.

Kunci dari setiap umpatan atau pisuhan adalah mindset. Lagi-lagi mindset jadi hal utama di sini. Bagi orang-orang yang berideologi bahwa misuh adalah hal yang tidak pantas pasti tidak akan bisa menerima mindset saya.

Menurut saya kata-kata umpatan tidak selalu untuk memaki. Bukan juga sebuah dosa besar seperti zina. Tapi tidak lebih sebagai kata sisipan yang membuat percakapan menjadi semakin nyaman. Dalam dunia nongkrong anak muda, misuh ibarat rokok. Tidak berbahaya dan kehadirannya tidak wajib. Tapi akan terasa kurang enak kalau tidak ada.

Nah dari berbagai jenis kata-kata umpatan, selalu ada lini pisuhan yang khas yaitu kata-kata binatang. Beberapa orang yang tidak pernah misuh menamainya sebagai kebun binatang sebab saat orang yang triggered karena suatu hal akan keluar berbagai jenis binatang dari mulut si pembicara.

Dari sinilah muncul kekhawatiran saya walaupun saya bukan pemerhati flora dan fauna. Saya memperhatikan manusia di sini (termasuk saya) bersikap sewenang-wenang terhadap binatang terutama dalam hal pencemaran nama baik.

Nama-nama binatang untuk misuh tidak lain dan tidak bukan ditujukan untuk sesuatu yang kotor, jahat, dan bermakna negatif. Sangat jarang sekali berhubungan dengan hal-hal positif. Coba saja berkata babi sebagai ucapan selamat pada teman yang sedang melangsungkan pernikahan. Atau katakan asu sebagai kalimat rasa syukur. Pasti tidak akan pas. Nama mereka sejujurnya sudah tercemar begitu parah. Sudah terlalu negatif.

Bahkan beberapa manusia tidak mau untuk menyebut nama babi dan asu dalam keadaan biasa alias tidak dalam kondisi misuh. Ok, kalau soal memakan dagingnya dalam islam diharamkan juga dengan mencium aroma masakannya. Tapi apa menyebut dua kata itu untuk percakapan sehari-hari saja tidak boleh. Sampai ada yang menyingkat b2 segala. Ah terlalu ribet. Babi ya ba-bi. B2 lebih ribet. Be-du-a. Bisa-bisa salah tangkap, dikira berdua. Sebegitukah negatifnya binatang-binatang ini?

Untung saja para binatang seperti anjing, babi, dan juga monyet tidak mempunyai akal dan pikiran. Bahkan binatang-binatang itu tidak tahu apa arti dari kata anjing, babi, dan lainnya. Mereka tidak tahu kalau itu menjadi nama mereka. Kata-kata itu tidak lebih dari produk manusia untuk menyebut mereka. Tapi malah manusia sendiri yang membuat maknanya ganda. Sebagai contoh makna anjing pada awalnya adalah binatang berkaki empat yang suka menjulur-julurkan lidahnya. Tapi seiring waktu makna anjing bertambah menjadi binatang berkaki dua yang menjengkelkan dan misuh-able.

Kalau saja para binatang mempunyai pikiran dan kemampuan untuk misuh, tentu mereka akan balas dendam kepada manusia dengan cara yang sama. Mungkin dalam suatu kasus; babi hutan sedang diburu, si babi pasti tidak akan misuh, “Manusia ini benar-benar babi, memburu semena-mena!”. Ah itu tidak mungkin. Pasti si babi akan misuh, “Manusia! Memburu semena-mena!”. Tapi di pikiran saya sebagai manusia, misuh semacam ini kok tidak masuk ya.

Tentunya apa yang saya pikirkan ini tidak akan pernah terjadi. Wong manusia itu katanya sebaik-baiknya ciptaan Tuhan, dan tentu hewan apapun, kalau bisa misuhpun tidak akan mengumpat dengan menyelipkan kata-kata manusia. Lah aneh saja, misuh kok ngatain dengan kata yang positif. Kesan misuhnya hilang.

Kalau bicara soal misuh saya jadi ingat hewan-hewat di laut sana. Iya tentang Spongebob dan kawan-kawannya soal tiga belas kata yang tidak boleh diucapkan. Yang ketika penyiaran kartun itu, kata-katanya disensor oleh suara lumba-lumba, klakson dan sebagainya.

Prinsip yang mereka ajarkan selalu tertanam dalam diri saya. Bahwa kata-kata makian tidak murni untuk memaki. Kata-kata makian tidak selalu keluar ketika emosi sedang meninggi.

Kata-kata misuh lebih sering keluar sebagai bumbu pembicaraan saja. Agar ngobrol jadi tambah ekspresif dan seru.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae