crane

Masalah Bukanlah Masalah Selama Kita Anggap Dia Sebagai Peluang

Tuhan tidak pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Sebuah pepatah yang mulai pudar kepopulerannya di era digital. Setiap cobaan atau masalah yang menimpa identik dengan keluhan. Kalau tidak percaya, luangkanlah waktu sejenak untuk kita membuka timeline twitter kita, ataupun feed facebook. Di sana akan ada puluhan bahkan ratusan tweet atau status tentang keluhan. Tidak peduli apakah itu umpatan, keluhan pada pemerintah, cinta yang tak dianggap, atau masalah yang lain, mengeluh seperti menjadi budaya yang sudah kental dengan era digital. Seakan terlupakan bahwa pepatah tadi benar-benar ada dan bahkan sudah disuratkan.

Dika, saya sendiri menjadi salah satu pelaku penyebar keluhan. Ketidaksabaran dalam menghadapi masalah menjadi penyebabnya. Anggapan bahwa masalah yang saya hadapi adalah bencana masih terus melekat, seakan otak secara default memprogram hal itu. Memang pada akhirnya suatu masalah akan menghasilkan sesuatu yang cerah, suatu cobaan akan terhentikan, namun pada prosesnya, bermacam-macam tweet umpatan, status keluhan menjadi tontonan banyak kawan. Lagi-lagi ketidakmampuan menyikapi masalah dengan benar menjadi akar.

Sampai suatu ketika saya dihadapkan pada masalah pekerjaan. Pekerjaan yang pada awalnya saya anggap di luar kemampuan saya. Saat dimana atasan mengambil jatah cutinya, dan pekerjaannya dihandover ke saya sebagai bawahannya langsung. Apalagi pekerjaan yang dihandover sangat sulit untuk pemain baru di dunia kerja seperti saya. Pekerjaan tentang pemberhentian beberapa pekerja karena ada perubahan shift kerja. Pekerjaan yang tadinya tiga shift, dipotong menjadi dua shift. Ini berarti ada beberapa pekerja yang harus kehilangan pekerjaan, dan hal itu yang menentukan adalah saya, seorang inexperienced yang bahkan belum mengenal dengan betul para pekerja itu.

Tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakan tugas yang saya rasa menjadi masalah besar bagi saya. Berat memang rasanya untuk menghambat jalan rezeki orang lain. Selama beberapa waktu saya terus memikirkan efek yang akan terjadi. Betapa banyak orang yang akan kecewa dengan saya nantinya karena saya memilih mereka untuk diberhentikan. Tetapi tugas tetaplah tugas. Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Saya harus profesional. Pemberhentianpun dilaksanakan.

Seperti yang saya duga sebelumnya, akan ada pihak yang tidak senang dengan keputusan saya. Dan yang lebih parah saya mengetahuinya secara tidak langsung melalui media sosial. Efek media sosial ini benar-benar besar. Benar-benar menghantui pikiran saya. Pikiran akan pertanyaan “apa iya keputusan saya salah? apa iya saya melakukan hal yang benar?”. Beberapa hari saya terus memikirkan hal ini. Sampai pada suatu saat pencerahanpun datang.

Feed youtube waktu itu, menunjukkan satu video yang menarik. Video dari Bapak Chandra Putra Negara. Entah ini suatu kebetulan feed youtube menunjukkan hal seperti ini, tapi yang pasti inilah satu video yang merubah cara pandang saya akan keputusan-keputusan yang saya buat nantinya. Inilah cara Tuhan menunjukkan hidayahnya pada saya. Video ini mengajarkan saya untuk tidak khawatir akan keputusan yang saya buat walaupun itu menyakitkan untuk orang lain. Beliau mengajarkan bahwa kita sebagai manusia harus memahami bahwa faktanya kita tidak bisa hidup untuk menyenangkan semua orang. Selalu akan ada pihak yang tidak senang bahkan membenci. Nabi yang boleh dibilang manusia sempurna juga memiliki pembenci. Hati saya tersentuh. Betapa mulianya Tuhan memberikan pencerahan akan hati yang gundah.

Sejak menonton video Bapak Chandra, beberapa video motivasi lain jadi menarik minat belajar saya. Belajar akan manajemen diri sendiri sehingga kita bisa mencapai kebahagiaan. Melihat berbagai macam perspektif baru akan berbagai permasalahan. Dan dari apa yang saya tonton, saya mengambil suatu kesimpulan bahwa “Masalah Bukanlah Masalah Selama Kita Anggap Dia Sebagai Peluang”. Peluang adalah kesempatan untuk berkembang. Untuk melakukan hal-hal yang dalam mindset kita, kita tidak bisa melakukannya. Jika kita berpedoman bahwa cobaan itu sudah ditakar sesuai kemampuan, maka setiap cobaan sudah pasti kita dapat lalui. Semenjak saat itu, saya merasa bahwa saya siap, saya mampu, saya akan menyelesaikan tugas-tugas lain yang dilimpahkan kepada saya dengan benar.

Masalah akan menjadi semakin rumit bila kita tidak sabar menghadapinya dan cenderung mengeluh, mengumpat, bahkan mempublikasikan keluhan di media sosial dimana semua orang dapat melihat betapa lemahnya kita menghadapi masalah yang tidak seberapa. Masalah akan menjadi ringan dan mudah untuk dikerjakan karena kita ikhlas. Ikhlas untuk berkembang ke arah yang lebih baik, memaksimalkan potensi-potensi yang kita miliki.

lokasiproyek

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae