esensi rambut botak

MABA BERAMBUT BOTAK YANG TIDAK BERESENSI

Sudah lama sekali semenjak terakhir saya menggunduli membotaki kepala saya. Terakhir saya melakukan hal itu sudah lebih dari 4 tahun yang lalu. Waktu itu saya ingat benar saya adalah seorang mahasiswa semester awal. Mahasiswa yang belum tahu-menahu soal dunia perkuliahan. Polos, tidak tahu apa-apa. Ah, sebut saja sebagai seorang mahasiswa baru atau maba.

Sebagai seorang maba, apalagi mahasiswa baru fakultas teknik, kami ‘diwajibkan’ untuk mengikuti ospek. Mengapa saya bilang mewajibkan? Sebenarnya boleh saja tidak mengikuti ospek. Boleh saja membangkang pada butir-butir aturan yang sudah ditetapkan organisasi perhimpunan mahasiswa bentukan kakak-kakak tingkat. Tapi setelah itu siap-siap saja akan menemui kesulitan untuk ini itu di kampus. Dalam hal sederhana sebut saja meminta master file laporan praktikum. Atau berniat meng-copy software-software yang dibutuhkan untuk mendukung perkuliahan. Kakak tingkat pasti akan menolak mentah-mentah cenderung melengos jika ada maba yang tidak ikut ospek tapi banyak maunya.

Tentu saja saya tidak mau menjadi mahasiswa yang punya kesan dipersulit oleh kakak tingkat sendiri. Bagaimanapun kuliah akan penuh dengan praktikum. Dan tanpa bantuan kakak tingkat yang kebetulan sudah terlebih dahulu kuliah di tempat yang sama, saya ini hanyalah seseorang yang kerdil. Apalagi untuk urusan software-software pendukung perkuliahan. Teknik lagi.

Dalam serba-serbi ospek yang saya ikuti, ada satu hal yang hingga saat ini masih saya pertanyakan fungsi dan kegunaannya. Yaitu rambut botak untuk anak laki-laki satu angkatan.

Kakak tingkat benar-benar pandai mengemas sebuah tugas agar kami para mahasiswa baru tidak protes terlalu keras. Tugas untuk membotaki rambut dikemas dengan kalimat “untuk laki-laki, rambut disamakan satu angkatan”. Saya dan teman-teman satu angkatan sebenarnya sudah tahu arah tugas ini akan kemana. Tentu saja untuk membotaki kepala kami.

Saya dan teman-teman satu angkatan mencari cara bagi keselamatan gaya rambut kami. Kami yang lulusan SMA, yang semenjak hari kelulusan tidak begitu mempedulikan gaya rambut, tiba-tiba harus mencari cara agar rambut kami tidak hilang. Kami berdiskusi. Membedah arah kata-kata para kakak tingkat yang pintar mengemas tugas biadab ini. Tentu saja diskusi kami tidak hanya melulu soal rambut. Tapi juga tugas-tugas lain yang karena terlalu banyaknya saya sampai lupa.

Diskusi kami mulai dengan membahas gaya rambut alternatif selain botak. Menyamakan rambut satu angkatan tentu saja akan terlaksana jika rambut botak. Gaya rambut lain tentu saja ora mashooook sebab tipe rambut orang berbeda-beda. Ada yang ikal, keriting, berombak, serta lurus. Satu-satunya cara agar sama tentu saja diberantas habis. Alias botak. Sebenarnya masih ada golongan orang yang tidak setuju dengan gagasan botak ini. Tapi mereka tidak bisa bicara apa-apa setelah salah satu teman yang memang gaya rambutnya botak datang ke diskusi kami secara terlambat. Mau tidak mau seluruh orang harus mengikuti gaya rambutnya.

Hari pembantaian akhirnya datang. Kakak tingkat yang baik hati itu membawa penggaris. Buat apalagi. Tentu saja buat mengukur panjang rambut kami satu persatu. Pengukuran dimulai dari salah satu teman saya yang rambutnya paling tipis. Hasil pengukuran menunjukkan angka 0,5 cm. Berganti ke teman yang lain dengan hasil pengukuran 1 cm. Karena menemukan perbedaan sebesar 0,5 cm, kakak tingkat mulai meraung-raung.

Para kakak tingkat mulai marah-marah. Kami dianggap gagal melaksanakan tugas. Mereka bilang kami payah. Karena tugas yang diberikan termasuk tugas yang sepele.

Saya merasa sangat kesal. Saya rasa teman-teman yang lain juga merasa kesal, terlihat dari ekspresi wajah mereka yang kaget karena perbedaan hanyalah 0,5 cm tetapi dianggap gagal. Lah bagaimana tidak. Kami sudah memotong rambut kami dan sekarang kami sudah layak dibilang cilok berjalan. Tapi mereka ini tetap saja pandai mencari kesalahan. Karena kesal, saya mengacungkan jari tengah memohon untuk berbicara. Baiknya mereka, saya diijinkan berbicara.

Saya bertanya apa sebenarnya maksud dari menyamakan rambut satu angkatan. Urgensi dari hal ini sebenarnya apa. Dan dengan mudahnya kakak tingkat menjawab agar kami terlihat kompak. Terdengar konyol. Ah, saya yakin saya waktu itu tidak mau melanjutkan argumen. Sebab jika sampai berdebat dengan mereka bisa berbahaya bagi hubungan saya dengan kakak tingkat. Saya pun pasrah saja sambil mendengarkan keputusan lanjutan dari kesalahan kami sebab perbedaan 0,5 cm itu. Akhirnya solusi dari itu semua, kami memutuskan untuk meminjam sebuah alat cukur yang sama. Dengan ukuran pisau cukur yang sama. Kemudian kami bergantian saling membotaki rambut.

Sebenarnya apa esensi dari menyamakan rambut dalam perkuliahan. Saya tidak menyalahkan kakak tingkat jika mereka menginginkan kami terlihat kompak satu angkatan, cuma kok ya lewat jalan membotaki rambut. Tapi bukankah itu diskriminasi untuk maba laki-laki? Sementara maba perempuan tidak perlu membotaki rambut mereka. Tentu saja rambut botak tidak bisa dijadikan tolak ukur kekompakan mahasiswa suatu jurusan. Sebab di suatu jurusan pasti ada maba laki-laki dan maba perempuan.

Baiklah-baiklah. Saya rasa maba perempuan tidak boleh dibotaki. Tentu kecantikan anak gadis SMA yang akan masuk kampus ini luntur jika tanpa mahkota alias tanpa rambut. Lalu kalian para kakak tingkat tentu akan menyesal sebab tidak bisa mendapatkan gebetan baru yang masih kinyis-kinyis.

Lalu sekali lagi dimanakah esensi menyamakan rambut sebagai bentuk kekompakan satu angkatan jika hanya laki-laki saja yang harus melakukannya. Oke, perempuan tidak perlu dibotaki. Tapi bukankah perempuan ada yang berhijab dan ada yang tidak. Lalu jika memang ingin kompak dengan jalan terlihat sama, mengapa semua perempuan tidak diwajibkan berhijab agar terlihat kompak juga satu angkatan? Ah kakak tingkat mungkin akan berdalih, tidak semua perempuan itu muslim. Tapi bukankah masih ada juga perempuan muslim yang tidak berhijab. Mengapa mereka tidak disamakan saja untuk berhijab? Dan kalau memang masih mau terlihat kompak, mengapa tidak menyuruh yang berhijab membuka hijabnya agar semua sama-sama tidak berhijab baik yang muslim ataupun yang tidak?

Bagaimana kakak tingkat kolot yang masih ingin membotaki mabanya? Sudah merasa bodoh atau belum? Kalau belum, saya beritahu lagi.

Kalau alasan semua kebotakan ini adalah kekompakan, mari saya beritahu arti kata kompak dari KBBI. Kompak menurut KBBI adalah bersatu padu dalam menanggapi atau menghadapi suatu perkara dan sebagainya. Untuk bisa bersatu padu dalam menanggapi dan menghadapi suatu perkara diperlukan tujuan yang sama. Tujuan yang sama terwujud karena pemikiran atau mindset yang sama. Yang saya tekankan di sini adalah kata “pikiran”. Lalu sejak kapan gaya rambut akan berpengaruh pada pikiran seseorang? Apakah setelah Thor potong rambut, dia akan mengkhianati Asgard? Ah tentu tidak. Mungkin bisa saja ada pengaruhnya, tapi saya belum tahu. Tolong kalau ada penelitian tentang gaya rambut yang mempengaruhi mindset seseorang, saya diberitahu.

Saya tidak menyalahkan jika kakak tingkat adalah korban tradisi. Tradisi turun-temurun dari angkatan terdahulu hingga angkatan termuda. Tapi memilah-milah itu perlu. Tradisi yang baik harus dilanjutkan. Tradisi yang tidak beresensi ya sebaiknya dipikirkan ulang urgensinya. Perlu dilaksanakan lagi atau tidak.

Ah, sebenarnya kalian itu sudah tahu kalau tradisi botak rambut itu tidak penting dan tidak beresensi. Kalian hanya ingin balas dendam karena kalian dulu juga dibotaki, bukan?

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae