sikucing sunset

Lebaran 2018 Roundup

mudik/mu·dik/ v 1 (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman):

Ada masing-masing satu perbedaan dan persamaan dari ramadan tahun kemarin dan tahun ini. Perbedaannya ada pada status. Mahasiswa bukanlah buruh seperti saat ini. Mahasiswa memiliki kebebasan, buruh? Tidak. Taat pada atasan. Itu hanyalah kondisi. Tapi setidaknya ramadan tahun ini, ada penghasilan. Hal yang sangat kurang jika masih identik dengan kemahasiswaan.
Pindah ke persamaan, tentu saja ada. Kalau perbedaan ini umum terjadi pada setiap orang yang lulus di tahun 2017, persamaan ramadan kemarin dan tahun ini hanya terjadi pada diriku. Matapencaharian mengharuskan bekerja malam. Jam tidur terbalik. Siang jadi malam, malam sebaliknya. Saat puasa tidur, kala tarawih bekerja. Puasa tidak lelah, pahala sholat malam tak terjamah. Sama persis seperti tahun lalu, saat aktif di malam hari sebagai mahasiswa. Maklum, skripsi. Kalau mengerjakan di siang hari kurang fokus. Hidup seperti kelelawar.
Singkat cerita ramadan hampir usai dan bau-bau libur lebaran dan THR terendus. Walaupun hidung bukan hidung serigala, mata tak setajam mata elang, tapi keduanya sudah diantisipasi. Libur lebaran wajib hukumnya untuk pulang kampung. Sebagai WNI yang taat pada tradisi. Mudik harus dieksekusi. Segala jenis kendaraan akan dimasukkan dalam perencanaan. Sarana apa yang sesuai agar dompet tak terurai. Tapi sepertinya perencanaan tidak seketat itu, mengingat THR seakan keluar dari pintu.
Pertama kali naik pesawat tidak semenakutkan itu. Pesawat yang aku pilih untuk mudik ini. Lebih tepatnya dipilihkan. Karena pulang-pergi dibiayai kantorku bekerja. Selalu ada rasa was-was saat pertama kali mencoba. Termasuk naik pesawat terbang. Bukan waktu di udara yang kukhawatirkan, aktifitas di bandara yang jadi beban. Antrian orang ingin pulang layaknya ular. Panjang. Antri sejak sahur hinggu subuh. Makan terlewat. Lemas.
Di Semarang, ada tiga orang yang menunggu. Sebut saja Bapak, Ibu, dan Adek. Jauh-jauh dari kota sebelah ke Bandara demi menjemput seonggok daging berotak. Cinta orang tua pada anak? Ini buktinya. Lelah karena tidak tidur dan tidak sahur seakan tak berarti saat ibu mengajak keliling toko pakaian demi tampil necis waktu silaturahmi. Benar-benar seperti memaksa, padahal kaki sudah tak bisa dipaksa.
Pulang, puasa, lebaran. Singkat bukan? Seperti biasa, rendang ala Jawa yang belum bisa disebut rendang. Opor ayam dengan sambal kacang yang hanya obat keinginan. Dan yang paling utama, Bakso Balungan. Semua itu mengisi meja makan. Berfoto sehabis sholat ied pasti akan jadi rutinitas baru semenjak hari ied ini. Maklum, ada gear baru untuk berfoto. Kamera yang tidak boleh dibawa kemana-mana karena itu adalah kamera keluarga. Hanya keluar jika sekeluarga keluar. Well done.

wakandaforever
Keluarga Wakanda
newcam
Kamera Baru
sikucing sunset
Sunset saat libur lebaran
sunrise
Sunrise!

Mudik ke rumah orang tua hanya mudik bayangan. Mudik yang sesungguhnya dimulai dari sukarelanya aku menjadi sopir. Untuk trip Kulonprogo-Klaten-Salatiga-Kendal. Paling itu cuma beberapa kilometer. Tidak masalah. Itung-itung mencari amplop, yang tentu saja sudah sangat sedikit sekali peluangnya. Alasan sudah kerja jadi hambatan. Dikira orang sudah kerja sudah tidak butuh uang.
Jogja harus dihampiri lagi. Sekalian mengunjungi hajatan teman yang sudah beristri. Rasa-rasanya musim ini bagai musim nikah bagi anak sembilan puluhan.
Singkat bukan? 12 hari tak terasa, kali ini aku sudah kembali bekerja.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae