Kreatif Berarti Memiliki Kemampuan Untuk Menciptakan

Kilas balik ke masa lalu, tepatnya di tahun 2009. Kelas tiga menengah pertama. Sekarang bisa disebut kelas sembilan. Kembali ke masa-masa masih kreatif, masih berimajinasi. Berani unjuk gigi, menampilkan karya-karya hasil sendiri salah satunya puisi.

Di hari itu tepatnya, anggaplah hari senin. Karena senin ini yang paling identik dengan kesuraman. Bukan begitu? Suasana hiruk pikuk kelas waktu jam istirahat. Di pojok belakang sebelah kiri, diisi empat siswa laki-laki, menikmati seplastik bakso. Di depan tengah, ada gadis yang dulu jadi pujaan hati, sedang bercengkrama. Mungkin lebih tepat menggosip dengan rekan wanitanya. Tepat dari balik pintu, aku sang anak unjuk gigi masuk. Segera menyiapkan sesuatu. Bukan sesuatu yang spesial, hanya sebuah pekerjaan rumah.

Lonceng berbunyi menandakan semua harus belajar. Bukan apa, hanya supaya lebih pintar. Setidaknya itu dulu keyakinanku. Begitu semangatnya masuk kelas, sebab hari ini aku ingin menampilkan karyaku. Karya yang telah aku buat sejak seminggu yang lalu begitu ibu dan bapak guru memberitahu. Semua duduk rapi, itu hal terbaik yang dapat kami lakukan untuk menghargai keberadaan beliau yang telah berdiri di depan.

Dipanggillah semua siswa satu persatu sampai tiba giliranku tampil di hadapan teman sekelas dan ibu guru. Sebuah puisi ciptaan sendiri yang saat ini aku lupa judul. Lantang kuteriakan pada bait yang menggambarkan semangat. Lirih dan sedih pada bait yang sendu. Satu kelas terdiam termasuk beliau di sebelahku. Mungkin aku sedikit sombong, tapi mereka sepertinya terkesima. Isi puisi tentang kisah cinta anak remaja yang aku ciptakan sendiri diperdengarkan pada kaum yang sedang beranjak dewasa.

Apresiasi datang dari beliau, Ibu guru. Setidaknya itulah anggapan yang aku tafsirkan dari pertanyaan beliau tentang siapa pembuat puisi itu. Beliau memimpin satu kelas untuk memberiku tepuk tangan. Sepertinya aku harus memakai helm untuk meredam kepala yang sebentar lagi membesar.

Sudah jadi aturan baru di sekolahku waktu itu dengan memberlakukan dua pengajar dalam satu kelas. Jadi selain ibu guru yang satu ini, ada guru lain yang sebenarnya mengajar, tetapi karena suatu halangan beliau telat masuk. Sistem satu ini mungkin dikira efektif, tapi sebenarnya tidak. Terlihat dari masa berlakunya di sekolahku yang hanya satu tahun ajaran. Lebih sering terjadi miskomunikasi antar guru daripada kerjasama mereka.

Bapak guru masuk sesaat tepuk tangan mulai berhenti. Dengan wajah tersenyum beliau bertanya-tanya, apakah gerangan yang membuat tepuk tangan sekeras itu. Posisiku masih di depan kelas dengan tersenyum. Beliaupun penasaran, disuruhnya aku mengulang penampilanku. Dengan kepercayaan diri penuh, aku terima tantangan beliau. Kuulangi pertunjukanku berharap apresiasi lebih besar dari beliau.

Bait terakhir telah diselesaikan, pemirsa lagi-lagi terkesima. Aku puas. Bisa membacakan hingga dua kali karyaku di depan mereka. Tapi sepertinya tidak dengan bapak guru. Raut muka kesal seperti lebih familiar.

“Lain kali, kalau disuruh membaca puisi, puisinya karya orang yang sudah terbukti, mas.”. Ketus mulut beliau. “Silakan duduk kembali.”

Aku terdiam, melangkah ke tempat duduk. Sepertinya tempat dudukku berada di antartika, sedangkan aku di kutub utara. Rasanya jauh sekali. Memang aku duduk di belakang, tapi bukan itu. Ada rasa kesal bercampur rasa malu. Semua campur aduk tak menentu.

Termenung di kursi belakang. Masih teringat kata-kata bapak guru. Respon beliau yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari ibu guru menyayat hati. Apa memang tidak boleh berkarya kalau belum terbukti? Ataukah memang puisiku saja yang jelek? Ah, tentu tidak. Saat pertama kali membaca semua mengapresiasi. Mungkin saja pendidikan di negeri ini belum memperbolehkan siswanya untuk berkreasi. Semua harus berdasarkan buku dan kurikulum yang berganti tiap tahun tak menentu. Siswa baru datang dengan bentuk kotak, lingkaran, segitiga, trapesium dan bermacam bentuk lainnya. Siswa keluar dengan bentuk kotak.

(a) Kreatif : Kemampuan untuk menciptakan

 

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae