KETIDAKNYAMANAN MOTOR GEDE BERDASARKAN PERSPEKTIF SEORANG LAKI-LAKI YANG DIBONCENG

Saya tidak akan mengomentari tentang motor gede atau moge seperti Harley Davidson atau sejenisnya. Yang saya komentari di sini adalah motor gede seperti yang dipakai di MotoGP. Motor besar full-fairing yang lebih cocok untuk digunakan di sirkuit ketimbang digunakan di jalan raya.

Harga motor gede memang mahal. Hanya cocok untuk mereka yang punya uang. Yang tidak punya uang juga cocok asal masih bisa membayar cicilan bulanannya. Yang tidak bisa nyicil juga cocok. Iya, cocok untuk membayangkan.

Motor dengan cc besar inilah yang sebenarnya saya rasa kurang cocok ada di jalanan. Wong sebenarnya mereka ini lebih cocok ada di sirkuit. Meliuk-liuk di setiap tikungan. Menggeber full speed di lintasan lurus. Dan kalau seumpama jatuh, tidak akan ada truk muatan penuh yang menyambar dari arah berlawanan.

Sekarang kalau dipakai di jalan raya, ya sudah jelas tidak akan bisa meliuk-liuk lha sudah jelas kalau yang bisa meliuk-liuk itu Honda Beat dan sejenisnya. Enteng dan cekatan. Siap menembus kemacetan. Coba saja meliuk-liuk di kemacetan dengan motor gede. Bokongmu tak jamin tepos. Tanganmu tak jamin semuten.

Pemakai motor gede di jalan raya saya rasa memang butuh perhatian ekstra. Dengan menggunakan motor gede, orang biasa saja sudah bisa mendengar raungan mesinnya yang gahar. Belum lagi bodinya yang besar dan biasanya warnanya yang kinclong. Tapi tetap saja masih kurang kalau belum ditambah knalpot racing dengan intensitas desibel yang tinggi. Masih belum diperhatikan katanya.

Ah tapi itu kan hanya pendapat saya saja. Wong itu uang-uang mereka, ya sah-sah saja mereka mau apa dengan uangnya. Mau dibelikan motor gede ya tidak masalah toh tidak melanggar peraturan.

Saya bahasnya dari perspektif saya saja sebagai penumpang dari motor gede. Saya bisa mengulas ini karena dulu ada kawan saya yang memakai motor gede. Saya juga sering menumpang motornya dan saya yakin saya cukup mendapatkan pengalaman yang nauzubillah tidak ingin saya ulangi lagi.

Saat akan naik motor gede sebagai penumpang rasanya seperti mau naik kuda. Seakan berpijak ke pelananya lalu harus memegang kudanya. Jok yang terlalu tinggi menuntut penumpang untuk berpijak ke pijakan dulu sebelum pantat bisa dengan tepat ambruk di atas tempat mendarat alias jok. Hal yang jarang ditemui untuk penumpang motor bebek atau matic.

Kalau motor bebek atau matic ya tinggal melangkah saja. Tidak perlu naik dulu ke pijakan kemudian memegang pundak si rider.

Saat sudah naik di atas motor alias sudah siap berangkat, siap-siap untuk mendapat pekerjaan ekstra yaitu memegang ataupun membawa barang bawaan si rider. Misal si rider membawa tas, siap-siap saja menggendong tasnya. Kalau tidak mau yasudah. Berarti jok anda sebagai penumpang tambah sempit. Pantat anda hanya akan menempel sebagian.

Kalaupun mau membawakan barang bawaan si rider, biasanya juga sama-sama tidak nyamannya. Si riderpun tidak punya pilihan lain selain memberikan barang bawaannya kepada penumpang sebab memang tidak ada tempat lagi. Kalau bebek kan ada sela-sela antara stang dan jok. Terlebih lagi matic, apalagi sekarang sudah banyak yang menyediakan bagasi yang begitu luas di bawah jok.

Tunggu dulu, tidak sampai disitu penderitaan penumpang motor gede. Ultimate penderitaannya ada di saat perjalanan.

Saya tidak tahu persis sudut kenyamanan berkendara itu berapa antara garis paha dan juga posisi badan. Yang saya jadikan patokan adalah berkendara dengan motor matic dan juga bebek yang posisi duduknya lumayan nyaman untuk berkendara. Posisi itu tepat membentuk sudut sembilan puluh derajat antara garis paha dan juga badan.

Sebagai penumpang motor gede, posisi duduk saya bertentangan jauh dengan teori kenyamanan berkendara yang baru saya temukan. Kalau posisi rider alias yang di depan sudah pas sembilan puluh derajat meskipun posisi badannya membungkuk (ini terjadi karena pijakan si rider diposisikan agak ke belakang), untuk penumpang posisinya seperti hidup segan mati tak mau. Pijakannya normal tapi posisi joknya miring.

Posisi jok miring inilah yang mau tidak mau membuat posisi duduk penumpang harus ikut membungkuk seperti si rider. Lah celakanya tentu karena keberadaan sang rider di depan. Kalau mau membungkuk, ya dada sang penumpang dengan punggung si rider pasti bersentuhan.

Posisi saya adalah sebagai penumpang berjenis kelamin laki-laki dan kawan saya sebagai rider adalah juga seorang laki-laki. Akan sangat tidak nyaman bagi kami berdua yang straight dan normal untuk pepet-pepetan seperti itu. Tapi akan lebih menyiksa lagi untuk menahan punggung dan badan agar tetap tegap sepanjang perjalanan.

Mungkin pasar dari motor gede adalah untuk para pasangan yang memang mesra. Sebab dengan dempel-dempelannya ini tingkat kemesraan akan meningkat sebanyak seratus lima puluh persen.

Tidak cukup sampai posisi duduk saja, posisi tanganpun serba salah. Posisi duduk yang serba awkward ditambah kecepatan motor gede yang luar biasa kencang, mengharuskan tangan untuk berpegangan. Kalau tidak mau pegangan ya keselamatan berkendara jadi taruhannya. Tapi pegangan pada pinggang kawan laki-laki sendiri itu sama awkward-nya dengan bersandar tadi. Dilihat orang seperti sedang memeluk rider dari belakang. Untung saja masih ada pengertian dari produsen motor dengan menambahkan pegangan besi di bagian atas lampu rem. Meskipun posisi pegangannya di belakang, yang penting masih bisa digunakan sebagai pegangan.

Knalpot racing yang dipasang untuk mengganti knalpot standar juga punya pengaruh terhadap kenyamanan berkendara penumpang. Suaranya yang bising makin jelas terdengar karena posisinya tepat berada di bawah penumpang. Tapi untungnya kalau masalah yang ini mudah saja solusinya dengan sebuah teknologi bernama headset. Tinggal tancapkan, pasang di telinga, putar musik-musiknya SID dengan alunan drum Jrinx maka suara knalpot tidak akan terdengar lagi.

Saya kemudian penasaran apa alasan kawan saya membeli motor gede. Sebab setelah saya runtut, untung yang didapat bagi penumpang sangat sedikit sekali alias motor gede sulit dipakai berboncengan.

Teman saya menjawab, “Nek numpak motor gede ki iso mbathi mergane numpake mepet-mepet. Tapi kadang yo sumuk nek mepet terus. Kadang keringeten. Tapi yo enak.”

Serempak di dalam hati dan dari mulut saya merespon, “O lha asu!”

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae