twitter

Kepura-puraan di Twitter yang Menyenangkan

Twitter sempat jatuh di dua hingga tiga tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kuliah. Dan memang benar waktu itu saya juga termasuk orang yang meninggalkan Twitter. Saya mulai meninggalkan Twitter kira-kira tepat di tahun 2014, setelah sebelumnya termasuk golongan manusia yang suka berkicau ala burung gendut seperti logo Twitter.

Perginya saya dari dunia per-Twitter-an tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh aplikasi dengan logo huruf P. Ya, Path. Aplikasi yang digunakan untuk pamer sharing. Mulai dari check-in di tempat-tempat tertentu sampai #nowplaying dengan segala macam lagu.

Sebenarnya awalnya saya pindah dari Twitter ke Path disebabkan kejengkelan saya pada teman-teman saya sendiri. Mereka entah sengaja atau tidak menyambungkan akun Twitter ke akun Path. Jadi segala macam hal berkaitan dengan check-in (yang kebanyakan jalan-jalan) selalu saya lihat di Twitter. Saya kesal. Sampai akhirnya saya hapus aplikasi Twitter, dan ikut beralih ke Path.

Waktu saya menggunakan Path, awalnya tidak ada yang spesial. Fitur-fiturnya sangat terbatas. Mulai dari jumlah teman yang terbatas sampai kantong saya yang terbatas (untuk bisa jalan-jalan dan check-in). Wah tapi semua berubah saat saya bisa posting foto sedang makan di restoran dan kafe mahal serta bisa pamer lewat fitur check-in. Ajaibnya lagi yang komentar dan like banyak. Ternyata enak juga bisa pamer dan diakui. Lama-lama nagih.

Stop, pembahasan saya terlalu jauh. Path sudah tutup. Tidak perlu dilanjutkan. Terlalu banyak kenangan.

Singkat cerita Twitter berhasil bangkit kembali. Entah mengapa sekarang saya rasa Twitter lebih ramai. Saya juga aktif ber-Twitter ria. Mungkin anda juga bisa menemukan tulisan saya ini di twitter. Kalau mau, sangat boleh untuk follow akun saya @dikaamfa.

Membahas masa lalu Twitter tidak lengkap kiranya kalau tidak membahas kebanggaan-kebanggan berbohong di media sosial yang satu ini. Ini semua dimulai ketika Blackberry sedang populer-populernya di kalangan siswa SMA seperti saya dulu. Tapi meskipun begitu, saya tidak bisa membeli memakai blackberry. HP saya waktu itu hanyalah Nokia Asha yang hanya cukup untuk PDKT via SMS. Jelas kalah jauh dengan teman-teman yang sudah punya Blackberry dengan BBM-nya. Apalagi dulu juga ada teman yang sudah punya Iphone. Saya sadar saya memang ditakdirkan melarat untuk melestarikan Nokia. Maaf saya bukan sadar, saya kan bukan telur.

Mereka yang punya BB ataupun Iphone ketika nge-tweet akan ada embel-embel “via Twitter for Blackberry” atau “via Twitter for Iphone”. Embel-embel itu yang lagi-lagi membuat golongan manusia seperti saya cukup kesal. Di media sosial yang seharusnya semua berkumpul dalam satu payung kemelaratan, masih ada kelas-kelas sosial yang ditimbulkan oleh para pengguna BB dan Iphone. Saya tambah kesal dan tambah bingung ketika ada juga embel-embel “via Ubersocial for Blackberry”. Apalagi itu Ubersocial? Kok saya tidak tahu.

Dulu waktu memakai twitter web client, hal yang paling dibenci adalah tidak adanya fitur RT-Edit. Fitur ajaib yang menempatkan komentar di depan tweet yang di-retweet. Kelemahan inilah yang membuat pacar saya menyarankan saya waktu itu untuk berpindah ke salah satu twitter client bernama Writelonger. Pihak ketiga yang mempunyai fitur-fitur yang sesuai dengan kebutuhan perkicauan saya waktu itu. Sayapun menurutinya. Apasih saran doi yang tidak saya dengarkan?

Beberapa bulan saya menggunakan Writelonger. Beberapa teman yang senasib dengan saya alias bukan pengguna BB dan Iphone juga menggunakan twitter client pihak ketiga ini. Saat itu belum semua teman saya memakai BB karena masih cukup mahal. Perkicauan semakin menjadi-jadi. Berkali-kali saya berhadapan dengan twit-war ala-ala anak SMA masa itu. Berbagai kode-kode waktu marahan sama doi juga saya tweet. Ah, masa muda masa yang berapi-api. Bukan begitu Bang Rhoma?

Sampai pada suatu titik saya merasakan kesal yang teramat dalam. Semua bermula saat BB mulai murah di pasaran. Bisa dibilang hanya saya yang tidak punya BB di kelas. Bahkan pengguna iphone lebih banyak ketimbang pengguna ponsel Symbian seperti saya. Saya semakin terpuruk. Saat yang lain bersliweran tweet dengan embel-embel via Blackbery atau via Iphone saya masih via Writelonger. Benar-benar kaum proletar.

Setelah mencurahkan segala pikiran dan curhat kepada mbah Google, saya diberi wangsit. Keluhan tentang segala rasa kesal terjawab sudah. Sebuah alamat web berwarna biru bertuliskan “tweet via” mengarahkan saya ke sebuah website (terus terang untuk website canggih ini saya lupa namanya). Di sana saya diharuskan login menggunakan akun Twitter saya. Saya login saja. Dan muncullah tampilan yang tidak jauh beda dengan Writelonger.

Perbedaan twitter client yang satu ini dengan Writelonger tidak begitu banyak. Keduanya sama-sama menyediakan fitur paling penting. Fitur RT-Edit. Fitur yang memang wajib ada karena dulu fitur reply tidak sebaik sekarang. Fitur re-tweet pun tidak bisa ditambahi komentar. Yang memberi kelebihan pada Twitter client yang ini adalah bisa memberikan keterangan “tweet via (pilih sendiri sesuai pilihan)”. Wow inilah yang sebenarnya saya butuhkan. Tetap menggunakan Nokia Asha saya, tapi bisa dianggap menulis tweet lewat gadget yang lain.

Saya paling sering menggunakan “tweet via Twitter for Iphone”. Cukup sederhana alasannya. Saya tidak mau setara dengan mereka pengguna BB. Saya harus terlihat lebih kaya dibanding mereka. Melihat detail tweet saya sendiri yang menunjukkan kalau tweet itu ditulis lewat Iphone, saya bisa tertawa bangga. Akhirnya saya menemukan sarana untuk unggul dibanding teman-teman saya. Saya terlihat kaya.

Apakah usaha saya membuahkan hasil? Tentu saja iya. Akibat saya menggunakan embel-embel “via Twitter for Iphone” dan “via Ubersocial for Iphone” teman-teman saya lalu banyak yang kepo. Mulai dari RT-Edit yang menyebut “Wejyan hape baru RT: @dikaamfa……” juga ada mention “@dikaamfa pake Iphone?” hingga ada DM yang bermaksud menanyakan “Dik, HP kamu baru?”. Disana saya merasa menjadi orang kaya. Selamat tinggal kaum proletar.

Kalau tidak salah waktu itu saya menggunakan twitter client ini selama dua minggu. Waktu itu ketika libur semester. Waktu masuk sekolah kembali, banyak teman-teman yang dengan gampangnya bilang “Eh, aku pinjam Iphone kamu dong.” Badala, saya kaget. Kok teman saya bisa bilang begini. Sementara saya masih setia dengan Nokia Asha. Oh, iya. Saya kan pura-pura pake Iphone. Karena keluguan saya dan saya termasuk orang yang jujur, sayapun mengakui. Saya hanya menggunakan twitter client yang sakti itu.

Reaksi teman-teman saya tidak saya duga. Saya kira mereka bakal mencemooh saya karena dianggap berbohong. Ternyata mereka malah bertanya “alamat web-nya apa?”. Kemudian saya sebutkan dan langsung mereka coba. Ada yang menggunakan embel-embel Ipad, ada yang menggunakan Iphone, dan bermacam-macam yang lainnya.

Di satu sisi saya merasa bangga karena menjadi trendsetter bagi teman-teman saya. Tapi di sisi yang lain saya juga merasa berdosa karena mengajari mereka kebohongan. Ah, tapi saya rasa dosa saya impas. Saya sudah menolong mereka untuk terlihat lebih kaya.

Ada dua poin yang saya dapatkan dari kasus ini.

Poin pertama. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi pura-pura kaya bisa membuat bahagia.

Poin kedua. Saya cari-cari twitter client yang sakti ini kok sudah tidak ada lagi. Kalau ada yang nemu, tolong saya dibagi.

Please follow and like us:

2 thoughts on “Kepura-puraan di Twitter yang Menyenangkan

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae