makan sendirian

KENIKMATAN CARI MAKAN SENDIRIAN DIBANDINGKAN TIDAK SENDIRI

Siang itu saya sedang berkunjung ke sebuah warung makan. Dengan pakaian lusuh saya menaiki motor Mega Pro tahun 2013 menuju warung makan itu. Muka saya memang seperti bantal, cenderung kusut seperti kain pel yang hanya dibasuh air sekenanya. Rambut yang berantakan karena memang tidak sempat menyisir. Memangnya sempat menyisir jika perut begitu lapar?

Saya kendarai motor saya dengan selow sambil membayangkan nasi yang ditumpangi sayur-mayur yang telah direbus. Di atasnya disiram saus kacang kental yang begitu pedas. Saya tahu pedas tidak cocok untuk sarapan. Lah ini uang saya kok, bebas. Saya sedang ingin makan nasi pecel ya sah-sah saja. Mungkin ditambahkan 2 lembar bakwan jagung. Yang penting topping kerupuk jangan lupa ditambahkan.

Setelah perjalanan yang tidak begitu jauh tetapi cukup lama karena terbayang-bayang nasi pecel di jalan, akhirnya saya sampai di warung yang saya tuju. Saya parkirkan motor di parkiran yang disediakan. Kemudian melangkah menuju pintu warung.

Mak bleguduk saya bertemu teman saya. Tentu saja saya menyapa teman saya ini. Masa teman sendiri tidak disapa. Lha kok hidup saya ansos amat. Kurang ajarnya dia menyapa saya dengan perkataan “Kok kaya pendekar, makan sendirian?”

Dalam hati saya hanya bisa berkata asw ini orang, untung dia tidak sendirian. Coba dia sendirian juga. Tentu saja itu hanya di dalam hati. Di mulut saya tertawa-tawa sambil mengiyakan. Sebab dulu ketika nonton sinetron laga ketika kecil saya memang pernah bercita-cita jadi pendekar. Jadi saya tidak terlalu tersinggung.

Setelah memesan sarapan ke ibu yang jaga warung, saya terduduk di sebuah kursi. Pikiran saya kembali ke perkataan teman saya tadi. Di sana pemikiran filosofis saya mulai bekerja dengan satu pertanyaan yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Apakah salah jika makan sendirian?

Saya fokuskan pikiran pada pertanyaan apa salahnya makan sendirian. Apakah makan sendirian itu membuat makanan jadi tidak enak. Ah terang saja tidak. Kalaupun makan sendirian asal menunya setara Hanamasa juga saya mau-mau saja.

Lalu apa yang sebenarnya menjadi poin ejekan kepada orang-orang yang memilih makan sendirian?

Dibalik neuron-neuron otak, saya membuat mind map tentang kelebihan dan kekurangan makan sendirian. Sayangnya saya menemukan banyak sisi positifnya dibandingkan dengan kekurangannya.

Makan sendirian itu menurut saya dekat dengan kebebasan. Bebas di sini juga menyangkut bebas dalam berbagai hal.

Pertama bebas menentukan waktu makan. Tidak perlu berpikir kompleks, makan sendirian itu sesederhana saya lapar maka saya makan. Tidak perlu mampir ke kos teman untuk mengajak makan. Juga tidak perlu menunggu respon di grup-grup chat yang biasanya selalu sepi itu. Oke oke, mungkin ada yang memang butuh ditemani, tapi siapa yang menjamin teman itu mau menemani makan? Bisa jadi teman yang dimaksud sudah makan duluan, atau memang ada orang lain yang sudah mengajaknya makan. Kalau begitu yasudah pasrah saja pada YME.

Kebebasan selanjutnya adalah kebebasan memilih menu makanan. Tiap saya tanya teman mau makan apa, jawabnya pasti terserah. Tiap tanya pacar mau makan apa, jawabnya juga sama, terserah. Giliran sudah menentukan pilihan presiden tempat makan, ditolak mentah-mentah dengan berbagai alasan. Di momen-momen seperti itu saya sering ingin berkata kasar dengan kegemasan yang hakiki dan keanjingan yang ekstra.

Sudah menjadi tabiat manusia untuk berhati-hati dalam menentukan keputusan supaya mendapatkan pilihan yang paling tepat dan menguntungkan. Nah alih-alih mencari keputusan yang tepat, orang cenderung menyerahkan keputusan kepada orang lain. Bukan untuk mencari yang tepat, tapi untuk menghindari situasi disalahkan jikalau nanti pilihannya tidak bisa diterima semua orang. Wes byasaa akutuuu.

Makan sendirian juga memberikan kebebasan untuk menentukan waktu pulang. Nah ini yang kadang membuat hari-hari menjadi tidak produktif. Makan mengajak teman itu harus ada embel-embel. Setelah makanan habis, langsung pulang jadi hal yang mustahil. Harus ada basa-basi dulu. Entah sekedar menanyakan tentang bagaimana harinya, atau menanyakan pertanyaan yang lebih kompleks semisal duluan mana ayam atau telur.

Selain obrolan, embel-embel yang sering datang itu berupa ajakan untuk mabar. Kalau sehabis makan hanya menghisap satu batang rokok sambil scroll-scroll hp sih tidak masalah. Tapi kalau dibarengi dengan ajakan untuk menghancurkan turret itu yang wadalah bajingan. Untuk seseorang yang seharusnya setelah makan punya rencana untuk melanjutkan aktifitas, akhirnya harus tertunda gara-gara ajakan mabar ini. Asw..

Biasanya untuk sekali mabar dibutuhkan waktu setengah jam untuk satu match. Nah terkadang setelah sebuah kemenangan akan ada rasa jumawa untuk kembali bermain untuk meraih kemenangan berikutnya. Kekalahan juga tidak jauh berbeda. Kekalahan mengkompori jiwa untuk segera mencari cara bagaimana meraih kemenangan. Akibatnya berputar-putar di situ saja alias lingkarang setan. Akhirnya waktu jadi terbuang percuma. Mending kalau terus meraih kemenangan lalu bisa tembus menjadi atlet e-sports. Lah ini, turnamen setingkat kampus saja tidak lolos.

Wah tidak terasa sudah banyak kelebihan makan sendirian. Dan dari sebanyak itu kelebihannya, saya hanya menemukan satu kekurangannya.

Poin yang bisa diejek dari orang yang makan sendirian itu ada pada sebutan pendekar. Namanya saja manusia, kadang kalau bicara seenak bibirnya sendiri. Mereka yang ketergantungan pada mindset bahwa makan harus ditemani benar-benar tidak tahu caranya menikmati hidup. Suka bergantung pada pilihan yang diberikan orang lain dan tidak punya kontrol atas diri mereka sendiri. Suatu saat kalau tidak ada kawan, sudah pasti tidak makan. Bisa-bisa mati.

Tapi sekali lagi alasan di atas hanyalah alasan-alasan klise filosofis yang ndakik-ndakik. Sebenarnya saya dari kecil memang bercita-cita menjadi pendekar. Akibatnya saya malah bahagia bila disebut demikian.

Please follow and like us:

One thought on “KENIKMATAN CARI MAKAN SENDIRIAN DIBANDINGKAN TIDAK SENDIRI

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae