Kembali

Setelah penat menyengat seharian, yang aku butuhkan hanyalah sepasang telinga untuk mendengar dan sebuah pelukan untuk aku pulang. Setiap kali rasa lelah melanda yang bisa aku lakukan hanya memejamkan mata. Kemudian pikiranku akan membayangkan berada di sebelahmu. Dengan begitu saja rasa lelahku tiba-tiba hilang. Apakah ini yang disebut dengan kembali?

Perlahan aku buka mataku. Bayangmu memudar. Terlihat samar. Yang masih begitu jelas hanya kenang. Inisiatifku untuk menanyakan bagaimana kabarmu. Tapi tetap saja seperti aku bertanya pada batu. Apakah rindu ini hanya ada padaku?

Setiap selesai membayangkanmu akan selalu muncul pertanyaan-pertanyaan tentangmu. Pertanyaan yang jika semakin kucari jawabnya akan menimbulkan pertanyaan lainnya yang tidak akan selesai. Mungkin semua itu terjadi karena raga dan hati kita sama-sama terpisahkan jarak.

Tiba juga saatnya bagiku untuk kembali. Akhirnya waktu yang semena-mena itu mengijinkanku untuk pergi ke tempat pertama kita bertemu. Aku menyiapkan buah tangan yang aku masukkan ke dalam koperku bersama beberapa helai baju. Tidak lupa aku masukkan juga rindu agar dia tetap bersamaku hingga kita bertemu.

Sudut-sudut kota mungkin sudah berbeda dengan apa yang ada dalam ingatanku. Mungkin juga dengan taman tempat kita sering meluangkan waktu. Yang masih sama hanyalah kesetiaanku. Selalu saja terbungkus rapi dalam hati sanubari.

Kereta ini berjalan sangat lamban. Aku sudah tidak sabar ingin bercakap tentang negeri rantau itu denganmu. Tempatku meneteskan keringat demi berubahnya angka di rekeningku. Aku akan terus meyakinkanmu bahwa tujuanku datang ke negeri rantau itu hanya satu. Menabung demi masa depan yang sedang kita upayakan.

Tapi aku tidak segeois itu. Aku adalah pendengar yang baik. Silakan juga kamu ceritakan tentang hari-harimu. Aku pasti tidak akan bosan mendengar cerita dari orang tersayang.

Tunggulah aku di stasiun itu. Jemputlah ragaku. Jangan bertanya kemana hatiku karena hatiku tidak akan pergi dan akan terus di kota ini bersamamu.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae