Jalan pahlawan

KEMBALI KE SEMARANG, MENUJU KE JALAN PAHLAWAN

Aku begitu ingat tentang sebuah jalan. Simpang Lima yang begitu terkenal tidak akan ada tanpa adanya jalan ini. Mungkin jadinya akan menjadi simpang empat atau perempatan jika jalan ini tidak ada. Jalan yang berbaring begitu tegas menghubungkan landmark kota dengan Semarang bagian atas yang terkenal dengan bukitnya yang indah dan juga pemandangan yang menyejukan mata.

Ingatan tentang jalan pahlawan begitu banyak sekali. Tentu soal car free day yang ada di tiap Hari Minggu. Diadakan tiap Minggu pagi untuk memfasilitasi rakyat yang ingin sehat, atau mungkin juga untuk mereka yang makannya kuat. Ah sial, seumur hidup rasa-rasanya baru tiga kali ikut kegiatan ini.

Car free day di Jalan Pahlawan tak akan bisa dipisahkan dengan kaki lima. Penjual bubur ayam tidak akan bisa dihitung karena jumlah mereka terlalu banyak. Lalu yang jual soto semarangan? Ah jangan ditanya. Soto yang walaupun dengan mangkok kecil seukuran genggaman tangan ini selalu punya tempat di hati warga Semarang yang penuh toleransi. Tempe tipis kering, bergedel, dan juga sate kerang dengan kuah yang khas akan menjadi menu sampingan yang tepat. Walaupun terkadang bagiku sendiri seringkali menu sampingan ini yang menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan sotonya.

Cukup dengan Minggu pagi di pahlawan. Sekarang ingatanku mundur sekitar 8 jam sebelum car free day. Di suatu malam minggu di Jalan Pahlawan, teringat akan sebuah gerobak di bahu jalan. Menjajakan wedang ronde yang sangat panas. Kuah jahe, susu, ronde, dan taburan kacang bawang ke dalam sebuah mangkok. Persis seukuran mangkok soto. Yang satu ini paling nikmat kalau diseruput sambil duduk-duduk di antara bintang di langit Semarang dan tikar yang disediakan mas-mas yang jualan.

Seingatku semakin malam semakin banyak pemuda-pemudi yang datang. Entah itu berboncengan, sendirian, atau berkasih-sayangan. Ah namanya juga malam minggu, malamnya para pemuda dan para pemudi bertemu.

Seakan tahu kebutuhan pasar, para pengamen menjajakan suaranya. Target mereka sudah jelas, pemuda-pemudi yang sedang menikmati waktu, dan juga perkumpulan teman main yang sedang menghabiskan rindu. Lagu-lagu cinta biasanya akan dikumandangkan. Tak lupa juga permintaan lagu dari sang pemuda tuk menyatakan cinta dan kasih pada si pemudi. Ingatanku tampak jelas bahwa aku pernah ada di posisi ini. Bukan, bukan sebagai sang pemuda. Tapi sebagai sang pengamen.

Waktu semakin larut, penikmat malam Minggu Jalan Pahlawan berganti. Kali ini giliran para penggagas komunitas. Iya komunitas, sekumpulan orang-orang yang merasa memiliki minat yang sama. Tempat bertukar gagasan tentang suatu hal yang mereka suka. Dari komunitas motor dengan merk dan tipe yang sama hingga komunitas pecinta bela diri yang identik dengan tari, seperti Capoeira.

Di salah satu sudut ada pula pelukis wajah yang siap membuat gambar diri bagi mereka yang mau membayarnya. Pensil hitam untuk sketsa di tangan kanan, kanvas di tangan kiri. Mungkin saja dia bisa membantu merubah warna wajahmu yang muram karena pertengkaran, menjadi senyum ceria yang menyejukkan. Setidaknya di atas kanvas.

Aku tahu aku pernah melakukan berbagai hal di jalan ini. Aku pernah berjualan untuk sekedar dapatkan pendapatan. Aku pernah duduk bersama kawan menikmati lagu-lagu kenangan. Aku juga pernah merasakan nikmatnya wedang ronde kala baru disajikan.

Satu yang paling berkesan dan paling ingin aku kembali lakukan adalah berjalan denganmu pelan menyusuri trotoar jalan pahlawan sambil menggandengkan kita berdua punya tangan.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae