ramadhan

Kebiasaan Keluarga Saya Menjelang Ramadhan

Kalau iklan sirup marjan sudah muncul, berarti ramadhan sudah di depan mata. Rasa-rasanya iklan sirup lebih familiar sebagai pengingat ketimbang sidang isbat ataupun menggenapkan bulan rajab.

Yang saya bingung kenapa harus sirup? Kenapa tidak ada iklan kurma yang lebih identik dengan ramadhan? Kenapa cairan kental manis dengan berbagai rasa itu sepertinya hanya muncul tiga puluh hari saja dalam setahun? Tidak hanya di televisi atau ads di video-video Youtube. Sirup juga hanya ada di keluarga saya di bulan yang penuh berkah ini. Jangan tanya di bulan-bulan biasa karena sudah dipastikan tidak ada. Ibu saya lebih suka membuatkan kopi tubruk plus susu kental manis ketimbang harus membeli botol-botol sirup beserta isinya. Beli sirup mungkin hanya agar bisa mendapat botolnya untuk nantinya bisa dipakai untuk menyimpan air dingin di kulkas.

Tentu saja keluarga saya tidak sama dengan keluarga anda dan juga keluarga yang lainnya. Keluarga saya punya cara-cara tersendiri untuk menyambut bulan ramadhan. Mungkin bukan hanya menyambut tapi juga mengingatkan saya bahwa ramadhan sudah dekat.

Kebiasaan yang pertama yaitu makan di mana saja tinggal tunjuk. Iya. Tinggal tunjuk dalam arti sebenarnya. Bapak dan ibu saya selalu menyiapkan budget tersendiri untuk acara makan-makan menjelang ramadhan ini. Saya dan adik saya tinggal menunjuk ingin makan dimana lalu meluncurlah kami ke tempat makan itu. Pesan sekuat yang saya dan adik saya mampu untuk menghabiskan. Bapak dan ibu saya tidak masalah untuk menyerahkan keputusan tempat makan pada kami sebab mereka tahu selera kami hanya itu-itu saja. Tidak mahal dan cenderung merakya. Kalau tidak pecel ayam ya nasi goreng gerobakan. Paling mentok mie jawa.

Sebenarnya ini adalah kebiasaan sejak saya dan adik kecil dulu. Acara makan-makan yang fungsi awalnya untuk memotivasi kami agar puasa bisa sebulan penuh. H-1 ramadhan diajaklah kami makan di tempat yang kami inginkan. Hasilnya pun tidak bisa dipungkiri memang sukses. Saya selalu komplit melaksanakan puasa tiga puluh hari. Begitu juga dengan adik saya.

Kebiasaan menjelang bulan ramadhan lainnya adalah membeli baju baru untuk lebaran. Saya tidak tahu kenapa tapi inilah realitanya. Saat orang-orang biasanya membeli baju tepat menjelang lebaran, saya dan keluarga justru membeli saat ramadhan akan tiba.

Tidak menunggu THR dan juga tidak menunggu apa-apa lagi. Biasanya belanja baju ini dilakukan sebelum acara makan-makan tadi. Tapi terkadang saya kurang suka dengan membeli baju sebelum ramadhan. Sebab ukuran baju ataupun celana yang saya beli bisa jadi tidak muat ketika dipakai saat lebaran. Ramadhan dengan puasanya bukan malah menjadikan badan agak ramping, malah melebar.

Ah sebenarnya baju baru ini tidak penting-penting amat. Jika ditelaah lebih jauh, dari pagi shalat ied sampai sore saya hanya mengenakan sarung dan baju koko muslim. Entah itu untuk shalat ataupun untuk bersilaturahmi. Rasanya lebih adem saja di selangkangan jika mengenakan sarung.

Kebiasaan terakhir yaitu berdebat. Tenang, bukan berdebat antar anggota keluarga tapi lebih mendebat bersama-sama tentang kapan mulai puasa dan kapan lebaran tiba.

Keluarga kami adalah keluarga islam Muhamadiyah. Iya, yang lebaran dan puasanya kadang lebih cepat dari pemerintah. Kami selalu mendebat pemerintah jika hasil keputusannya berbeda. Saya tidak tahu kenapa kami harus repot-repot mendebat. Toh pada akhirnya kami tetap menjalankan apa yang kami anggap benar.

Tidak perlu terlalu serius menanggapi lebaran yang berbeda hari. Bagi saya lebaran berbeda tidak masalah. Asal lebarannya datang lebih cepat, itu lebih bagus.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae