titip absen

KARENA SEGALA YANG ADA DI DUNIA INI HANYALAH TITIPAN; TERMASUK TITIP ABSEN

Budaya orang Indonesia memang serba titip. Ada tetangga atau kawan sedang bepergian ke luar negeri, titip oleh-oleh. Sedang ingin keluar rumah juga tak lepas dari titipan. Kalau yang ini biasanya titipan berupa makanan. Memang nitip sudah menjadi kebiasaan. Kalau sholat bisa dititipkan, saya rasa banyak orang yang nitip. Sayangnya sholat urusan pribadi kepada yang kuasa. Kalau sholat sampai dititipkan, yasudah nunggu disholati saja.

Dunia mahasiswa juga tidak lepas dari budaya yang titip-menitip. Bicara mahasiswa tidak akan lepas dari bicara tentang titip absen. Jangan dikira saya sebagai mantan mahasiswa suci dari kebiadaban ini. Saya penuh dosa. Tapi jangan menghujat terlalu cepat sebab tidak selamanya dosa saya berasal dari saya sendiri sebagai pihak yang nitip. Kebanyakan saya dititipi amanat oleh kawan-kawan yang tidak masuk kelas tapi ingin nilai kuliah tetap aman. Titipan tersebut adalah sebuah tanda tangan di tabel kehadiran mingguan.

Berbagai alasan digunakan oleh kawan-kawan saya agar saya mau dititipi absen. Biasanya alasan paling klasik adalah bangun terlambat.

Untuk alasan bangun terlambat di waktu kuliah pagi, saya bisa tolerir. Saya bercermin pada diri sendiri sebab sering terjadi pada diri saya. Bagaimana malam hari adalah begadang, dan bangun pagi adalah kesulitan. Tetapi untuk alasan bangun terlambat di kuliah sore, saya tidak habis pikir. Sebenarnya kawan-kawan ini bangunnya yang terlambat, atau tidurnya yang terlampau pagi. Ah tapi saya tidak mau ambil pusing. Saya rasa itu adalah alasan klise saja. Sebagai formalitas untuk menutupi kemageran mereka. Tetapi tetap saja saya tuliskan kehadiran mereka.

Bagi saya tidak masalah dititipi absen. Asal kawan-kawan saya ini sadar diri saja. Bukan masalah sadar diri soal keseringan titip absen. Tapi lebih kepada sadar diri kalau tanda tangan ataupun paraf pada tabel presensi itu tidak perlu terlalu rumit. Sebab akan menjadi bumerang bila suatu saat di masa depan membutuhkan bantuan teman untuk mengisi daftar hadir. Lebih baik yang simpel-simpel saja.

Sebagai contohnya pernah ada teman saya yang hanya memberikan paraf berupa huruf depan dari nama panggilannya. Wah tentu saja ini sangat memudahkan saya dalam membantunya mendapatkan nilai bagus di mata kuliah tersebut. Lanjut ke teman yang lain yang mengganti parafnya dengan tanda bintang. Konyol sih memang saat pertama kali melihatnya karena cukup mencolok. Tapi ini ide brilian dan tersirat di benak saya untuk ikut melakukannya di semester depannya. Namun karena terlalu mencolok, akhirnya tanda bintang itu diberikan sedikit sentuhan huruf tegak bersambung agar tidak terlalu kelihatan paraf ini disiapkan untuk titip absen.

Aturan dalam memberikan paraf di tabel presensi cuma satu, yaitu paraf tidak boleh nanggung. Yang dimaksud nanggung adalah kalau mau simpel ya simpel sekalian. Tapi kalau mau ribet ya ribet sekalian. Kalau memang ribet alias banyak lekukan-lekukan pada paraf jadi memudahkan para mahasiswa yang dititipi. Tinggal coret-coret sekenanya yang penting terlihat penuh.

Mudahnya melakukan serangkaian titip absen juga jadi alasan fenomena titip absen terus terjadi. Sistem presensi yang hanya berupa tanda tangan ya sudah pasti bisa dikibuli. Wong tinggal WA ke teman minta dituliskan tanda tangannya lalu beres. Nilai aman, aktifitaspun nyaman, pikiran tetap tenang.

Alasan lain selain bangun terlambat yaitu adanya prioritas lain yang lebih penting dibanding kuliah. Saya di sini tidak bermaksud menyampaikan bahwa kuliah itu tidak penting. Bukan maksud saya untuk menulis bahwa ikut kelas itu tidak berguna. Ya namanya saja keperluan, tidak setiap orang sama. Contohnya saja mereka-mereka yang menjadi aktifis. Tentu saja kuliah menjadi kegiatan sampingan sebab bagi mereka meruntuhkan peradaban dengan meninggi-ninggikan mahasiswa sebagai Agent of Change adalah yang paling utama. Begitu juga dengan mereka yang sejak kuliah sudah menjadi Enterpreneur muda. Bertemu dengan klien atau calon klien tentu lebih penting ketimbang ikut kelas yang kebetulan bisa dengan mudah diskip.

Tentu tidak salah bagi yang sering melakukan hal-hal demikian. Manusia diciptakan sebagai anggota dari kingdom animal, dan bukanlah protozoa yang bisa membelah diri layaknya amoeba. Mungkin ada beberapa manusia di dunia ini yang bisa Kage Bunshin No Jutsu. Tapi saya yakin jumlahnya tidak sampai satu persen dari populasi masyarakat dunia. Sudah jelas manusia dalam hal ini mahasiswa harus menentukan prioritasnya. Dan kebetulan jika kuliah sudah dinomor-duakan maka titip absen adalah solusinya.

Mahasiswa yang lebih memprioritaskan keperluan lain selain kuliah biasanya sudah berjaga-jaga. Mereka akan menggunakan metode tersendiri agar tetap tidak ketinggalan materi dan tetap bisa ikut bahkan lulus saat ujian nanti. Bukankah kuliah seperti itu? Yang penting ikut ujian dan nilainya bagus. Biasanya mahasiswa seperti ini akan menyalin catatan teman atau mengcopy materi dari kawan kebanyakan sih tidak.

Namun dalam kondisi-kondisi tertentu ada kalanya praktik titip absen tidak bisa dilakukan. Yang pertama tentu saja waktu kelas sepi. Sepi di sini dalam artian yang berangkat memang sedikit sekali. Bisa dihitung dengan jari. Kelas hanya dihadiri oleh mahasiswa dengan jumlah di bawah dua puluh orang. Biasanya ini dikarenakan kondisi hujan ataupun kuliah yang hanya satu mata kuliah di hari itu. Kalau sudah begini ya selamat tinggal jasa penitipan absen.

Kondisi lainnya adalah jika hukuman titip absen terlalu berat. Satu hal yang pernah dosen saya terapkan adalah hukuman menyeluruh kepada seluruh kelas. Apabila beliau menemukan mahasiswanya ada yang titip absen, maka seluruh presensi mahasiswa di hari itu akan dipukul rata tidak masuk. Iya, dihitung tidak masuk. Seluruhnya. Bukan main-main. Kami sebagai mahasiswa yang memang butuh nilai dari beliau ya hanya bisa ya ya saja. Praktik titip absen tidak akan bisa kami lakukan sebab jika ketahuan, teman satu kelas sudah pasti akan mempersekusi sang pelaku titip absen. Akibatnya kedepannya tidak ada yang mau dititipi absen olehnya.

Entahlah saya takut kalau bilang sistem pendidikan bobrok. Perilaku titip absen ini diakibatkan digunakannya absen sebagai syarat untuk ikut ujian. Jadi mahasiswa lebih takut jika namanya tidak ada di presensi ketimbang tidak mengerti materi. Coba absen tidak diperlukan untuk syarat, pasti tidak akan ada titip absen. Yang ada kampusnya sepi. Aneh juga, kuliah kan bayar. Tapi kalau bayar masa tidak boleh ikut ujian. Cuma gara-gara kehadiran tidak tercukupi.

Tapi kadang saya merasa berdosa juga kalau sudah melakukan praktik ini. Entah sebagai yang titip ataupun sebagai yang dititipi. Selalu khawatir mungkin di masa depan akan ada akibat dari apa yang saya lakukan.

Seorang kawanpun datang untuk menenangkan saya. Dengan bijaknya dia berkata kepada saya agar santai saja. Sebab segala yang ada di dunia ini hanya titipan. Termasuk absen. Kemudian saya menjadi lebih tenang.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae