KE-JANCUK-AN KALKULUS

Seperti kebanyakan mahasiswa teknik pada umumnya, saya juga mengulang mata kuliah kalkulus. Saya bukan bodoh atau apa. Saya yakin saya termasuk orang yang cerdas karena terbukti sejak SD sampai SMP saya mendapat ranking di kelas. Mulai SMA saja otak saya menjadi sedikit bebal.

Kembali ke kalkulus, saya rasa matkul yang satu ini memang diciptakan untuk melatih kesabaran para mahasiswa. Selain melatih hardskill dalam bidang keilmuan teknik, kalkulus juga melatih softskill dalam manajemen waktu. Dalam hal ini manajemen jadwal kuliah. Kokbisa? Nanti saja saya jelaskan karena saya ingin bercerita hal lain.

Cerita ini terjadi saat saya mengulang mata kuliah kalkulus II di semester enam. Padahal kalkulus II sendiri adalah matkul untuk mahasiswa tahun pertama alias semester dua. Perlu waktu dua tahun bagi saya untuk menyiapkan mental dan energi untuk kembali mengambil mata kuliah ini padahal saya mau tulis SKS saya tidak cukup.

Dari awal semester dimulai saya sudah bisa membayangkan akan seperti apa kelas kalkulus yang akan saya ambil itu. Bayangan saya ini didasari oleh KRS online yang menunjukkan berapa banyak mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini.

Mata kuliah kalkulus adalah mata kuliah wajib bagi mahasiswa semester dua. Tentu saja mahasiswa semester dua akan mengambil semua. Kira-kira dulu satu kelas kalkulus berisi lima puluh mahasiswa baru. Iya itu baru mahasiswa baru. Belum jika ditambah para dedengkot kampus yang harus mengulang mata kuliah ini demi bisa mengambil skripsi.

Jika ditambahkan mahasiswa lama yang mengulang sudah pasti jumlahnya akan sangat banyak. Mungkin bisa mencapai delapan puluh sekelas. Apalagi kelas di kampus saya hanya ada dua untuk tiap mata kuliah.

Di suatu sore saya begitu bersemangat untuk pergi ke kampus untuk ikut kelas kalkulus. Tentu saja sebagai mahasiswa semester enam yang mengulang. Tidak biasanya saya bersemangat seperti ini. Ini karena mau UAS saja dan karena info-info dari kelas sebelah akan ada kuis dadakan. Inilah keuntungan mengambil kelas yang sekarang saya ambil ini dan bukan sebelah. Sebab jadwal kuliah kelas yang saya ambil tepat setelah kelas sebelah selesai. Dan kebetulan teman-teman kelas sebelah dengan baiknya memberitahu akan ada kuis.

Kabar kuis tidak hanya sampai di smartphone saya. Jaringan komunikasi grup-grup kami benar-benar kuat. Inilah yang menyebabkan hampir semua mahasiswa lama yang mengambil kalkulus masuk kelas hari ini. Saya pangling akan muka-muka lama yang jarang nongol di kampus. Biasanya mereka hanya titip absen. Kalaupun datang ya karena ada kabar kuis seperti ini atau keperluan penting lainnya.

Masuk ke dalam kelas, saya membelalakkan mata mencari bangku kosong yang tersisa. Sebenarnya saya sudah merencanakan untuk duduk dekat dengan adik tingkat yang lumayan jago kalkulus dan juga baik hati. Siapa tahu ilham dari Tuhan akan diturunkan lewat dia. Tapi realita berbeda dengan ekspektasi. Jangankan untuk duduk bersebalahan dengan adik tingkat itu, untuk mendapatkan bangku kosong saja saya sudah tidak bisa. Dan memang benar adek tingkat yang saya incar untuk duduk di sebelahnya itu sudah dilingkari oleh para adik tingkat lain yang dari wajah-wajahe ketok gateli.

Saya tidak kehabisan akal. Saya ambil kursi dari kelas sebelah. Memang kecil kelasnya. Mungkin hanya ada dua puluhan kursi. Langkah saya diikuti oleh beberapa mahasiswa lama lain. Kami angkut kursi-kursi itu menuju kelas kami seakan tidak peduli kalau nanti bisa saja akan ada kegiatan kuliah di sana. Bodo amat yang penting bisa duduk. Yang penting aman dulu.

Dosen kalkulus datang. Semua mahasiswapun masuk. Banyak mahasiswa yang baru datang tidak menduga kalau ternyata kelas penuh sesak dan tidak kebagian tempat duduk. Bahkan mereka juga tidak mendapat tempat duduk dari kelas kosong di sebelah.

Beberapa mahasiswa masih berdiskusi bagaimana agar mereka tetap bisa ikut kelas secara kondusif. Beberapa yang lain sudah bodo amat dan memilih lesehan di belakang. Bayangkan saja sedang berada di warung pecel lele. Ada yang duduk di bangku dan juga banyak yang lesehan.

Dosenpun membuka perkuliahan. Kami sudah menyiapkan kertas folio seperti yang sudah biasa dilakukan saat ada kuis. Tapi wadalah kakeane. Dosen melanjutkan pemaparan materi. Beliau dengan santainya menuliskan beberapa rumus tanpa ada menyuruh mahasiswanya mengeluarkan secarik kertas tanda dimulainya kuis.

Saya akhirnya berkata “O lha asu. Retio titip absen wae.”. Tapi perkataan itu hanya ada di dalam hati alias mbatin. Betapa mangkelnya saya ketika ternyata dosen sudah menebak bahwa para mahasiswanya sudah tahu akan ada kuis. Begitulah dosen. Mereka sudah pernah menjadi mahasiswa. Selalu satu langkah lebih depan.

Saat ingin menengok ke belakang saya melihat kawan-kawan saya yang terlihat melas. Ada yang lesehan, ada yang berdiri, dan ada juga yang sandaran ke tembok. Raine medhog kabeh koyo mie godhog. Teman-teman saya pada nggonduk semua karena sudah tiwas masuk ke kelas untuk ikut kuis, ternyata kuisnya tidak ada. Mau cabut kok ya tidak enak sama dosennya.

Saya akhirnya bersyukur bahwa nasib saya masih beruntung dibanding kawan-kawan saya yang bernasib buruk itu. Tapi tetap saja saya adalah manusia yang suka tertawa di atas penderitaan orang lain. Begitu perkuliahan selesai, lontaran ejekan saya tepat mendarat di telinga teman-teman saya. Jawaban merekapun kompak.

“Asu.”

Oh iya saya berutang penjelasan kenapa kalkulus melatih skill manajemen waktu. Kalau sudah ambil kalkulus berarti resiko mengulang mata kuliah lebih besar. Ketika sudah menjadi mahasiswa tingkat atas nanti, kemalasan kesibukan semakin bertambah. Harus pandai-pandai atur jadwal agar kalau bisa kalkulus tidak berbarengan dengan mata kuliah lain di hari yang sama. Misalnya di hari rabu, kalau bisa hanya ada satu mata kuliah saja yaitu kalkulus. Karena kalau saran saya ini tidak diindahkan, saya takut ndas anda mbledos.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae