semarang

Kalau Semarang Berarti Singgah dan Jogja Berarti Rindu, maka Kendal Berarti Rumah Bag. 1

Semarang berarti singgah

Di suatu siang yang tentunya masih jam-jam kerja orang kantoran, grup WhatsApp saya terus berbunyi. Saya lupa mematikan notifikasi WA. Memang sudah menjadi kebiasaan saya untuk mematikan notifikasi grup-grup. Kalau tidak begitu bisa mengganggu produktifitas saya. Maklum saya adalah orang yang kekinian yang tidak mau membuang waktu cuma-cuma. Notifikasi juga bisa mengganggu putaran lagu-lagu instrumental di spotify saya. Tapi kali ini saya benar-benar lupa mematikan notifikasi salah satu grup di WA saya.

Waktu saya lihat hp karena notifikasi menghujani telinga saya, salah satu grup memang sedang heboh. Tidak lain dan tidak bukan grup itu adalah grup geng saya waktu kuliah dulu. Pembahasan sedang menarik-menariknya. Tema yang dibahas benar-benar aktual. Hot. Apalagi kalau bukan tentang CPNS

Kalau sudah bahas CPNS, grup WA geng saya ramainya seperti pasar. Meskipun jumlah membernya tidak banyak tapi setiap member bisa memberikan pembahasan CPNS yang dikemas begitu detail dan begitu menarik. Bayangkan saja teman-teman saya ini bisa menyajikan analisis peluang diterimanya peserta CPNS di jabatan-jabatan tertentu. Padahal saya yakin mereka tidak pintar-pintar amat soal probabilitas ketika mereka SMA. Wong kalkulus saja mereka mengulang berkali-kali dengan saya. ]

Saya begitu geram dengan kawan-kawan saya. Karena ketika pembahasan tentang CPNS itu berlangsung, saya benar-benar sibuk. Saya sebenarnya tidak berkeberatan jika mereka mengganggu pekerjaan saya tapi lebih karena saya sudah tertinggal ratusan chat mengenai analisis tentang CPNS ini. Saya jadi susah untuk nimbrung dan ikut ngobrol.

Akhirnya saya putuskan untuk mengambil foto selfie saya dan saya kirim ke grup. Saya beri caption foto itu “Pap dulu dong!”

Seketika pembahasan tentang CPNS berhenti. Dan sialnya mereka juga ikutan upload foto selfie. Sebenarnya saya tidak begitu mempermasalahkan mereka mengunggah foto muka-muka kusam mereka sebagai budak kantor ini di WA grup. Ada yang sedang kerja di kantor. Ada yang unggah foto lagi dinas di luar kota. Yang saya permasalahkan hanya satu. Si R yang justru tidak mengunggah foto selfie tapi malah mengunggah foto makan siangnya di tempat makan favorit geng kami dulu semasa kuliah di Semarang. Benar-benar a*u.

Si R ini ceritanya sedang liburan setelah proyek yang dikerjakannya sudah sukses dan beres. Setelah bertolak dari liburan yang menyenangkan di Negeri Jiran dia singgah ke Kota Semarang. Kota dimana kami semua dipertemukan untuk pertama kalinya.

Tapi kemudian setelah saya analisis lebih lanjut saya bisa menyimpulkan bahwa tujuan R ke kota semarang bukan untuk liburan. Melainkan untuk memanas-manasi kami yang belum berkesempatan nostalgia di Kota Atlas. Ya bagaimana bisa dikatakan liburan, lha wong yang diunggah itu foto makanan khas tempat dulu geng kami sering nongkrong. Kalau tujuannya benar-benar liburan mestinya fotonya tempat wisata seperti Lawang Sewu, Kota Lama, ataupun juga Simpang Lima.

“Mau pada pesen apa?” Tanya R di grup WA sambil memamerkan suasana warung tempat kami sering nongkrong sehabis kuliah dulu. Kata-kata ini persis dengan kebiasaan kami zaman kuliah. Siapa yang habis kuliah sampai duluan di warung itu maka dia wajib memesankan makanan untuk mereka yang telat datang. Maklum proses memasak makanan di warung ini lama. Jadi harus buru-buru pesan. Ditambah lagi tempat ini ramenya naudzubillah.

“Aku nasi omelet bakar + es teh.” Respon si A

“Orak-arik ayam + nasi 1/2.” Jawab si B yang dari dulu memang sering bilang mau jaga tubuh dengan pesan nasi hanya setengah. Tapi nyatanya sampai sekarang badannya begitu-begitu saja cenderung naik beratnya.

Saya tertawa terbahak-bahak bagaimana teman-teman saya ini masih saja teringat kebiasaan kami dulu. Hingga soal menupun kami tidak lupa. Saya jadi teringat satu kebiasaan yang sering membuat kami semua kesal. Sayapun langsung nyletus di grup WA.

“R, kita duluan saja. B katanya mau makan sama pacarnya.” Ketus saya di WA. Teman-teman saya semua pada tertawa online. Bagi kami makan sehabis kuliah adalah cara tersendiri untuk sambat soal kelas yang baru kami ikuti. Ada yang sambat tidak mengerti apa yang dijelaskan tadi, ada yang sambat karena kalah waktu main ML tadi di kelas. Hingga ada yang sambat soal dosen waktu tadi mengajar. Tapi sambat tidak terasa nikmat tanpa pisuhan dari si B. Dia banyak mengajarkan saya tentang kosakata baru yang enak untuk misuh. Sungguh teman yang bijak.

Si B memang sering buat kami kesal. Dia berkali-kali janji join ke warung andalan kami itu. Tapi berkali-kali juga rencananya itu gagal karena wanita yang jadi kekasihnya. Iya karena pacarnya mengajak makan bersama sehingga dia terpaksa meninggalkan sambat-menyambat bersama kami. Sungguh wanita memang perusak persahabatan. Mungkin saja saya akan bernasib sama seperti B. Selalu dipersekusi kawan-kawan karena jadi bucin. Tapi dulu saya adalah budak LDR. Jadi mau makan sama siapapun itu juga terserah saya. Dan saya memilih mereka karena dengan mereka makan tidak hanya makan tapi juga sambat.

Benar-benar sial. Percakapan kami di WA berubah menjadi beragam nostalgia. Drama makan yang tadi diakhiri dengan persekusi si B, berubah menjadi kiriman-kiriman foto masa lalu. Foto-foto waktu kami masih jadi mahasiswa baru. Kepala plontos dengan rambut hanya 1cm memakai baju putih celana hitam.

Nostalgia tidak berhenti sampai disitu. Foto-foto itu kami komentari dengan gaya senior kami waktu ospek dulu. Maklum waktu dulu kami juga sempat ikut kelas treatikal untuk memparodikan gaya marah-marah senior kami. Benar-benar menyenangkan. Tidak sopan, tapi menyenangkan.

Saya benar-benar teringat saat seseorang yang kemungkinan besar adalah senior saya dengan bijaknya berkata “Geodesi itu peluang kerjanya banyak dek!” Halah mas/mba, tak tapuk lambemu.

Grup kembali sepi menjelang jam makan siang berakhir. Perlahan satu-persatu kawan mulai menghilang dari grup. Sepertinya kawan-kawan saya kembali sibuk bekerja. Memang setelah lulus kuliah, hampir seluruh dari kami menempuh jalan yang sama. Kecuali dua orang yang sekarang ini lanjut belajar di universitas lokal dan universitas luar negeri, kami semua jadi budak korporat. Bekerja dengan jam kerja rutin. Gajian di awal bulan dan miskin di akhir bulan.

Ah, nostalgia memang indah. Apalagi tentang semarang. Kota yang sempurna. Bisa dibilang kota besar dengan segala ke-modern-an-nya. Meskipun modern tapi tidak terlalu macet. Panas tapi dekat dengan mBandungan yang menjadi surga karaoke warga Semarang dan sekitarnya. Ongkos makan masih murah. Benar-benar sempurna.

Sayang sekali semarang hanya tempat singgah bagi kami yang dulu dipertemukan karena satu tujuan. Ya benar, tujuan kami untuk meruntuhkan peradaban menuntut ilmu. Masing-masing dari kami harus kembali ke kota asal. Untuk kemudian merantau kembali dengan label budak korporat di leher kami. Tidak ada lagi sambat materi kuliah, tidak ada lagi sambat tentang senior, dan tidak ada lagi sambat soal hubungan asmara.

Semarang benar-benar hanya tempat singgah. Tempat singgah yang menyenangkan.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae