keluarga durian

KALAU ABAH DAN EMAK PUNYA KELUARGA CEMARA, BAPAK DAN IBU SAYA PUNYA KELUARGA DURIAN

Abah, Emak, Euis, dan Ara adalah anggota asli dari keluarga cemara. Keluarga yang kisahnya dijadikan tontonan masyarakat lewat layar kaca ataupun layar lebar. Saya sendiri jujur tidak pernah menonton versi layar kacanya. Saya hanya menyaksikan versi layar lebarnya lewat bioskop langganan saya beberapa waktu lalu.

Karena tidak mengikuti kisahnya yang mungkin lebih kompleks di televisi, saya tidak tahu sebenarnya kata cemara di keluarga cemara ini diambil dari mana. Sebab di versi film yang saya tonton, kata cemara diambil dari satu-satunya pohon yang memberikan surga untuk orang-orang milenial. Apalagi kalau bukan sinyal. Selebihnya tidak ada lagi pembahasan mengenai pohon cemara yang menyebabkan keluarga Abah dan Emak disebut keluarga cemara. Memang anak bungsu sebelum Agil lahir dari Abah dan Emak dipanggil Ara yang berasal dari nama aslinya yaitu Cemara. Tapi dari film yang saya lihat, saya tidak tahu asal-usul mengapa Abah atau Emak memberi nama anaknya dengan nama pohon. Abah baru pindah ke rumah dengan pohon cemara setelah Ara sekolah di SD. Berarti cemara di dekat rumah Abah tidak menginspirasi Abah untuk memberi nama anaknya Cemara. Sebab mereka sekeluarga baru pindah jauh setelah Ara lahir.

Dari kejadian di atas saya bisa menyimpulkan bahwa untuk sebutan nama keluarga, saya bisa mengambil nama pohon apa saja di sekitar rumah saya. Kalau Abah dan Emak bisa memberi nama keluarga cemara, maka saya juga bisa memberi nama keluarga durian. Saya jamin keluarga durian bapak dan ibu saya lebih filosofis ketimbang keluarga cemara abah dan emak.

Tepat di belakang rumah kami ada satu pohon durian yang tinggi besar. Letaknya tepat di samping pohon pete. Entah sejak kapan pohon itu berdiri, saya juga tidak tahu. Dari awal bapak saya beli tanah untuk membangun rumah kami, pohon durian itu sudah berdiri.

Setiap musim durian, pohon durian kami tidak pernah absen untuk berbuah. Selalu saja setiap akhir tahun hingga awal tahun baru durian selalu tumbuh. Ini jadi sesuatu yang saya pikir aneh. Sebab pohon pete yang berada di samping pohon durian tadi sudah mati dan lapuk. Tetapi pohon durian di sebelahnya justru berbuah lebat setiap musimnya, dan berdiri kokoh layaknya karang.

Buah durian yang jatuh di belakang rumah kami benar-benar mantap. Rasanya manis plus sedikit ada rasa pahit. Daging buahnya tebal. Bijinya kecil. Buahnya besar-besar. Sering saya ditanya oleh kawan yang sering singgah saat musim durian. Pertanyaan soal nama dan jenis durian yang keluarga kami punya. Saya jelas tidak tahu dan saya tidak begitu peduli. Memang manusia ini sukanya mengklasifikasikan. Yang penting rasanya mantap itu sudah cukup.

Buah durian setahu saya tidak bisa dipetik jika memang mau dinikmati dengan kematangan sempurna. Mau tidak mau harus menunggu buahnya jatuh agar tahu buah itu sudah siap dimakan atau belum. Karena inilah beberapa orang di kampung saya selalu mengikat buah duriannya dengan tali rafiah ke ranting-ranting agar buah tidak jatuh ke tanah dan hilang diambil orang jika sudah masak.

Tentu saja keluarga saya tidak seperti itu. Tidak ada yang bisa memanjat pohon setinggi itu di keluarga kami. Kami hanya memekakan telinga kami saat musim durian. Menunggu bunyi durian jatuh. Setiap ada bunyi bruugkkgkk yang lumayan keras yang berasal dari belakang rumah, segera siapapun dia akan berlari ke belakang rumah. Entah itu bapak, ibu, saya sendiri bahkan adik saya. Kemudian mata menjadi awas. Pandangan siap mencari dalam sudut tiga ratus enam puluh derajat. Mencari satu buah dengan banyak duri.

Sering kami tidak mendapatkan apa yang kami inginkan. Tidak jarang bunyi brugggkhgkgkh dari belakang rumah itu sebenarnya hanya pohon-pohon bambu yang jatuh akibat di tebang. Belakang rumah saya adalah sungai kecil dengan pohon-pohon bambu di pinggirnya. Tetangga-tetangga sering menebang bambu-bambu ini. Saya tidak tahu untuk apa. Tetapi bunyinya sering mengecoh kami sekeluarga sebab bunyinya sama persis saat durian jatuh. Kalau sudah begitu, anggota keluarga yang menunggu di rumah dan sudah menyiapkan piring dan parang hanya bisa kecewa sebab tidak mendapatkan buah yang diharapkan.

Momen-momen seperti makan durian inilah yang membuat keluarga kami berkumpul dengan santai. Saya selalu mendapatkan teror-teror telfon dari Ibu untuk pulang. Penyebabnya ya simpel, sedang musim durian dan durian di rumah sedang berbuah. Adik saya pun seperti itu. Karena kami berdua saat ini sudah merantau dari rumah.

Anggota keluarga kami tidak ada yang tidak suka durian. Bagi kami aroma durian tidak menjijikan. Saya sendiri menganggap durian adalah buah dari surga selain buah khuldi. Kami sering berdiskusi kecil ketika makan durian. Mengapa ada saja orang di dunia ini yang tidak suka dengan buah senikmat ini. Benar-benar menyedihkan.

Saya rasa keluarga kami bisa bersaing dengan keluarga cemara untuk diangkat ke layar lebar. Tapi sayangnya keluarga kami hanyalah empat orang, berbeda dengan keluarga cemara yang beranggotakan lima orang. Tapi tunggu dulu, mungkin ibu saya ingin punya anak lagi. Sebab belum ada di anggota keluarga kami yang seperti Ara yang namanya diambil dari Cemara. Mungkin bapak saya bisa memberi nama Ian dari kata Durian.

 

Please follow and like us:

3 thoughts on “KALAU ABAH DAN EMAK PUNYA KELUARGA CEMARA, BAPAK DAN IBU SAYA PUNYA KELUARGA DURIAN

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae