kakekbencisenja

Kakek Pembenci Senja

Terkisah seorang kakek tua lanjut usia yang tak suka senja. Bahkan cenderung membencinya. Dia begitu membenci matahari merah yang berubah dari warna kuning saat waktu magrib tiba. Ombak penari yang menari seirama dengan detak jantung setiap pemirsanya bahkan berhenti menari saat dia memandang langit senja dengan tatapan kebenciannya. Cukup aneh si kakek bisa begitu membenci senja sebab semua orang yang ada di bawah langit tidak sejalan dengan arah pikirannya. Jika burung camar mulai terbang di cakrawala dan matahari ada dibaliknya untuk kemudian berubah warna menjadi merah menyala, maka itu akan jadi pertanda bagi kakek pembenci senja untuk melihat arah timur dimana kegelapan sudah mulai muncul. Dia juga sudah menutup seluruh jendela rumahnya agar tak sedikitpun cahaya senja masuk dalam gubuk kecil miliknya dimana dia tinggal sebatang kara.

Sengaja setiap senja tiba, kakek pembenci senja akan masuk ke rumahnya. Entah apa yang dilakukannya tapi itu sering terjadi. Dia masuk ke rumah kecilnya dan ditutupnya semua jalan cahaya senja agar tak masuk rumahnya. Rumahnya gelap gulita saat senja tiba. Begitu matahari lenyap dari cakrawala, kakek pembenci senja akan keluar dari pintu yang membelakangi arah barat untuk kemudian menatap kegelapan malam. Selalu begitu setiap waktu. Kalau dia sedang ada di luar rumahnya, dia akan menutup mata dan menghadap timur. Kalau dia sedang ada di rumahnya, dia akan mengunci rapat rumahnya dari cahaya senja.

Tidak ada yang tahu sejak kapan kakek menjadi pembenci senja. Umurnya ditaksir sudah ratusan tahun. Ubannya bahkan menjalar ke jenggot dan kumisnya. Sebelum para pendatang tiba, kakek itu sudah ada di sana dengan rumahnya yang membelakangi senja. Jauh sebelum para pendatang tiba, kakek sudah menjadi pembenci senja. Benar-benar kasihan semua orang melihatnya. Semua orang suka senja, tapi kakek malah jadi pembenci senja. Membuat warga penasaran apa motif dibalinya. Mengapa kakek menjadi begitu berbeda dengan manusia lainnya yang suka senja.

Ilmuwan agung yang juga salah satu warga juga ikut penasaran akan apa yang terjadi pada si kakek di masa mudanya. Kakek pembenci senja ini memberikan tanda tanya besar. Menggugah hati si ilmuwan agung untuk meneliti. Diciptakannya mesin waktu agar ia bisa mengarungi masa-masa kakek membenci senja sampai ke masa mudanya dimana si kakek masih mencintai senja. Membuat mesin waktu bukanlah hal yang sulit bagi sang ilmuwan agung. Dengan ditenagai oleh sel surya dan dibahan-bakari oleh matahari senja, mesin waktu melaju ke ratusan tahun yang lalu saat kakek pembenci senja masih muda.

Ilmuwan agung berangkat ke masa muda kakek pembenci senja. Dia tiba di halaman sebuah rumah. Rumah itu menghadap arah barat. Letaknya ada di pucuk tebing kapur tepi pantai. Ilmuwan agung merasa tempat ini tidaklah asing. Hari-harinya dia sering melihatnya. Pantai itu. Tebing itu. Senja itu. Senja yang sama. Matahari terbenam di cakrawala. Dengan cahaya merah menyala. Camar berbulu sama. Dia merasa seperti di kampungnya. Di kampungnya tinggal di masa sekarang. Dilihatnya sekali lagi untuk konfirmasi. Dia tengok ke seluruh penjuru mata angin. Benar-benar ini pemandangan kampung sang ilmuwan agung. Kampung dimana warga tinggal, termasuk kakek pembenci senja. Hanya saja dia penasaran, rumah siapakah yang ada di hadapannya. Rumah ini menghadap langit senja di arah barat. Rumah ini dibangun untuk menikmati senja pikirnya.

Rasa penasaran ilmuwan agung membawanya masuk ke dalam rumah yang menghadap arah barat. Dia dalami setiap anyaman bambu yang jadi dinding rumah itu. Dia lihat ke atap yang terbuat dari daun-daun kelapa yang ditata. Rasa-rasanya rumah ini tidak asing. Dia pernah ke rumah ini. Diingat-ingat olehnya lagi. Ilmuwan agung menelusuri setiap mili saraf di otaknya untuk menemukan pemilik rumah ini.

“Tidak salah lagi, ini rumah kakek pembenci senja” Teriaknya dalam hati karena takut jika berteriak sungguh-sungguh, pemilik rumah akan kaget dan mengusirnya.

Tapi ada satu hal yang ganjil di benak ilmuwan agung. Rumah kakek pembenci senja tidak menghadap arah barat. Rumahnya menghadap arah timur. Rumah si kakek tidak dibuat untuk menikmati senja. Justru sebaliknya. Aneh.

Terlihat dari dalam rumah satu sosok yang duduk menghadap matahari sore yang sedang menuju peraduannya. Dia begitu terlihat menikmati pemandangan yang ada di depan matanya. Di sampingnya ada secangkir kopi, sepertinya masih sangat panas. Terlihat dari asap yang muncul darinya. Di sisi samping lainnya ada sebuah gitar tua warna coklat muda. Ilmuwan agung melihat di gitar itu ada goresan hitam membentuk huruf-huruf dan terangkai jadi kata-kata.

“Jarak adalah kawan kita. Janji adalah ibu kita. Tertanda pengembara laki-laki dan perempuan ujung dunia.” Diikuti dua tanda-tangan. Sepertinya tanda tangan pengembara laki-laki dan perempuan ujung dunia.

Ilmuwan agung kaget. Gitar itu diambil oleh sosok yang menghadap senja. DIpetiknya gitar itu lalu terdengar sebuah lagu bertemakan rindu. Suara sosok itu tak karuan. Jelek minta ampun. Tak kuasa Ilmuwan agung mendengarnya. Hanya saja liriknya begitu mendalam. Tentang kerinduan pengembara laki-laki dan perempuan ujung dunia. Ilmuwan terkesima dan tercabik hatinya.

Tidak perlu waktu lama bagi ilmuwan agung untuk tahu siapa sosok itu. Baju yang dikenakannya begitu biasa dia lihat. Topi jerami yang sering ia gunakan juga begitu akrab. Dari belakang terlihat gelang dan kalung yang sudah pasti itu milik kakek pembenci senja. Tidak salah lagi. Sosok yang bermain gitar sambil menikmati senja ini sudah pasti si kakek pembenci senja waktu masih muda. Tapi bukankah aneh. Kakek ini harusnya membenci senja. Menghadapkan rumahnya ke arah timur membelakangi sang surya yang terbenam di cakrawala. Tapi saat ini dia justru sedang menatap dengan mata terbuka menghadap horizon dengan cahaya merah yang memantul di lautan jauh di ujung sana. Bahkan dia bernyanyi. Menikmati setiap detik saat cahaya merah perlahan mulai luntur. Aneh. Sungguh aneh.

Tak lama datang gelombang elektromagnetik membawa sebuah pesan. Gelombang itu datang dengan cepatnya. Seakan pesan yang akan disampaikan begitu penting. Gelombang datang dari arah senja sana. Dengan cepatnya hinggap di pundak sosok yang menghadap senja yang ilmuwan agung taksir adalah si kakek pembenci senja. Tidak lama ada air yang menetes dari wajah sosok yang menghadap senja. Mungkin itu keringat dari wajahnya yang menetes karena terpapar suhu udara matahari senja. Ilmuwan agungpun tidak begitu berani memastikan.

Matahari mulai menghilang dari cakrawala. Langit mulai gelap. Bulan muncul. Bintang tidak mau ketinggalan. Lagu berhenti dimainkan. Lagu berganti menjadi rintihan. Rintihan tangis tak terelakan setelah membaca sebuah pesan. Gelombang elektromagnetik tidak bisa disalahkan. Sosok kakek pembenci senja waktu muda penuh isakan. Seakan baru menerima tetesan garam di luka yang terbuka. Termenung menatap gelap.

Kakek pembenci senja waktu muda berdiri. Diambilnya gitar dengan janji dua manusia ke genggamannya. Diputusnya senar-senar gitar satu per satu. Dari senar satu sampai senar ke enam dengan belatinya. Dilemparnya jauh-jauh senar itu ke laut. Gitar hancur terbentur karang. Bercampur dengan asinnya garam air laut. Dia berbalik arah dan masuk ke dalam rumah. Ilmuwan agung yang sejak tadi memantau segera keluar dari rumah agar tidak diketahui oleh kakek pembenci senja. Ilmuwan agung sembunyi. Dilihatnya dari kejauhan si kakek dengan daya upaya memutar rumahnya. Dia kerahkan seluruh tenaganya yang tersisa setelah mungkin berkurang karena pesan dari gelombang elektromagnetik. Rumah si kakek saat ini menghadap ke timur. Membelakangi arah matahari terbenam. Kemudian ia duduk di kursi teras, menatap gelapnya malam.

Ilmuwan agung yang penasaran segera menemui gelombang elektromagnetik. Ilmuwan agung sangat ingin tahu apa isi pesan yang sebenarnya disampaikan. Gelombang elektromagnetik menolak. Sebab itu melanggar aturan penyampaian pesan. Dengan liciknya dan pengetahuannya sang ilmuwan agung bisa mengkadali gelombang elektromagnetik dan mendapat pesan yang dia inginkan.

Ilmuwan agung mendapatkan dua buah pesan.

“Aku ingin kau di sini, menikmati momen ini berdua. Hanya berdua. Mungkin beramai-ramai asalkan itu hanya burung camar :)” Pesan pertama tertulis dari pengembara laki-laki dan ditujukan untuk perempuan ujung dunia. Nama yang tidak asing. Kedua nama itu tertulis di gitar kakek pembenci senja tadi. Bersama pesan itu dikirim juga gambar senja yang sangat indah. Bersama camar-camar yang menari. Mungkinkah si kakek adalah pengembara laki-laki. Lalu siapakah perempuan ujung dunia. Ilmuwan agung penasaran.

Gelombang elektromagnetik yang belum sempat pergi dari tempat itu ditanyai lagi oleh ilmuwan agung tentang siapa pengembara laki-laki ini. Dan apa hubungannya dengan perempuan ujung dunia. Menurut gelombang elektromagnetik pengembara laki-laki adalah sosok yang bermain gitar tadi. Setiap hari dia mengantarkan pesan saat senja yang pengembara laki-laki kirimkan ke perempuan ujung dunia, kekasihnya. Mereka berdua terpisahkan jarak sudah cukup lama. Mungkin pengembara laki-laki sangat rindu.

“Senjamu bagus sekali, kami di sini juga menikmati senja yang sama. Maaf aku tidak memberitahumu. Semoga hidupmu baik-baik saja di ujung dunia lainnya :)” Tertulis balasan dari perempuan ujung dunia. Balasan yang menyayat dada. Memberikan garam dan tetesan jeruk nipis di setiap luka sayatan yang terbuka.

Kakek mulai membenci senja. Senja yang menghancurkan pengharapannya. Senja yang menghilangkan semangat pengembaraannya. Semangat untuk kembali. Semangat untuk bersanding dengan perempuan ujung dunia pujaan hatinya. Kakek membenci senja.

Senja memang indah. Senja membuktikan hari yang panjang dapat berakhir indah. Tapi tahukah, setelah senja pergi akan ada kegelapan tanpa henti. Hening, sunyi, dan gelap.

 

Please follow and like us:

2 thoughts on “Kakek Pembenci Senja

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae