JULUKAN TANGAN BERDURI OLEH IBU SAYA

Kalau ada seseorang, entah siapapun yang saya kenal, mempunyai kebiasaan merusak alat atau merusak apapun yang dia gunakan baik secara sengaja ataupun tidak, maka dengan senang hati akan saya panggil dia dengan sebutan tangan ri. Ri itu dalam Bahasa Jawa berarti duri. Tangan ri berarti tangan berduri. Bila anda tahu tumbuhan putri malu, ya kurang lebih seperti itu.

Saya menjuluki tangan ri atau tangan berduri bukan karena tangan orang itu ditumbuhi duri seperti batang bunga mawar yang merahnya merona tapi untuk memetiknya harus berdarah-darah. Bukan juga karena dari tangannya bisa mengeluarkan duri seperti Boris The Animal dalam film Men In Black. Tapi ada sejarah yang mengharuskan saya untuk memanggil setiap orang, yang karena terlalu seringnya, merusak apapun benda yang dia pegang. Sejarah ini mennceritakan saya sebagai protagonis dan ibu saya sebagai antagonis.

Waktu itu saya adalah seorang anak kecil yang baru mengenal dunia. Namanya ingin mengenal dunia tentu saja apapun saya pelajari. Termasuk benda-benda di sekitar saya. Ibu saya tentu saja ibu yang baik. Beliau selalu mendukung saya dalam setiap proses pembelajaran yang saya lakukan.

Dukungan ibu saya beliau buktikan dengan menuruti kebanyakan keinginan saya untuk membeli mainan baru. Mulai dari mobil-mobilan remot, tamiya, hingga beyblade. Ah memang ibu saya ini baiknya subhanallah.

Sebagai seorang anak tentu saja senangnya bukan main jika dibelikan mainan baru oleh orang tuanya. Mainan-mainan baru itupun saya buka untuk saya mainkan. Ah senangnya.

Entah berapa banyak mainan yang dibelikan untuk saya, saya lupa. Yang jelas saya pernah dibelikan mobil-mobilan remot yang saya rusakkan di hari pertama mainan itu saya mainkan. Ceritanya karena memang belum pernah memainkan permainan itu sebelumnya, sayapun belajar. Karena memang sulit sekali untuk mengendalikan mainan seperti itu untuk anak seusia kelas 2 SD.

Dengan sedikit diajari oleh bapak, sayapun mulai mahir mengendalikan mobil remot itu. Luar biasanya hanya butuh waktu sejam bagi saya untuk menguasai mobil-mobilan itu.

Cerita sedikit berbeda saat saya mulai takabur. Karena meresa terlalu mahir, saya mulai kebut-kebutan. Lah tiba-tiba badala. Mobilnya jatuh dari ketinggian sekitar satu setengah meter. Halaman rumah saya waktu itu memang belum diberi pagar. Jadi mobil-mobilan itu bisa meluncur dengan bebasnya ke selokan depan rumah. Hasilnya seperti yang bisa kita duga. Rusak di bagian ass roda. Patah.

Untung ibu saya masih sabar. Beliau masih mau membelikan mainan. Kali ini mainan tamiya. Ibu saya berdalih bahwa tamiya akan lebih awet sebab tidak perlu menggunakan controller seperti mainan sebelumnya.

Ah tapi ada satu hal yang sepertinya kalkulasi ibu saya sedikit meleset. Tamiya harus dirakit sendiri agar bisa dimainkan. Ah tentu saja untuk anak usia SD, urusan merakit adalah urusan yang sulit. Saya coba rakit sendiri. Bagian-bagian yang harus dirakit berceceran dan berantakan. Saya pusing karena saya hanya selesai untuk urusan menempel stiker di bagian body saja. Sayapun menyerah sampai akhirnya saya memanggil bapak untuk membantu merakit.

Bapak dengan tenang merakit mainan tamiya untuk anaknya. Kemudian bapak jengkel karena beliau tidak menemukan bagian yang dicarinya. Beliau baca-baca buku petunjuk hingga dibolak-balik. Tapi tetap saja tidak ketemu akar masalahnya. Sayapun diam saja takut disalahkan karena saya yakin kalau bagian yang bapak cari itu saya hilangkan.

Dari kasus tamiya, ibu saya sepertinya mulai jengkel. Terbukti dari ultimatum beliau, “Iki tak tukokke sing ora ngerakit, sing ora mlaku-mlaku adoh, ora bakal tibo. Gasing.” Begitu kiranya ibu saya bilang. Kalau dibahasa-indonesiakan beliau membelikan saya beyblade agar tidak ada rusak-rusak lagi seperti kedua mainan sebelumnya.

Dan ternyata sama saja. Karena terlalu sering saya mainkan, gerigi dari alat pemutar beyblade itu aus dan sama sekali tidak bisa digunakan lagi karena selalu macet.

Ibu saya bersabda, “ O lha tangan ri, opo-opo sing dicekel kok rusak.”

Sejak saat itu saya jadi meniru ibu saya dan menjuluki orang yang selalu merusak alat atau mesin sebagai orang dengan tangan berduri.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae