JARAK YANG MALAS KUHITUNG

Telah sampailah kita pada titik dimana aku diharuskan melanjutkan impianku. Membangun sedikit demi sedikit masa depan yang aku idamkan. Harus aku tinggalkan kamu beserta kota penuh kenangan ini. Catatan lampau tentang cerita-cerita kita harus aku kemas dalam koper. Lalu aku bawa pergi menuju  kota asing dimana aku akan menyibukkan diriku.

Kini kita berada pada dua tempat yang berbeda. Terpisahkan jarak yang terlalu malas kuhitung karena terlalu jauhnya. Perasaan was-was pada hubungan kita selalu muncul bahkan kali ini aku jauh lebih takut dari biasanya. Bukan perkara orang ketiga yang sungguh aku takutkan. Aku tahu kamu adalah seorang yang setia. Akupun, dengan tidak bermaksud menyombongkan diri, juga orang yang setia. Yang menjadi ketakutanku adalah kita terlalu asik menjalani aktifitas masing-masing. Aku tanpa kamu disampingku, dan kamu tanpa aku disampingmu. Aku takut kita menjadi terbiasa melakukan semuanya sendiri. Aku takut kita jadi tidak saling membutuhkan.

Tapi aku bukanlah Tuhan. Akan sangat naïf jika menduga-duga hal yang belum terjadi. Maaf kalau ketakutanku berlebihan. Terkadang ketakutanku inilah yang membuat kita menjadi sering bertengkar. Kalau aku punya pilihan, aku hanya ingin denganmu saja. Melanjutkan aktifitas kita bersama seperti biasa. Belajar bersama dan berdampingan meraih cita-cita.

Biarlah jarak saja yang memisahkan, ego kita jangan. Tetaplah bercerita tentang senangmu. Itu sangat berarti bagiku. Kalau kamu senang, aku yang mendengarkan akan merasa lebih senang. Ceritakan juga sedihmu. Aku tetap akan menjadi tempatmu mengadu saat dunia seakan melawanmu.

Kita jaga bersama apa yang telah kita mulai. Saling mengingatkan menjadi hal wajib bagi dua orang yang terpisahkan jarak. Rasa curiga berawal dari menerka-nerka. Ingatkan aku tentang salahku jika kamu merasa tersakiti. Menunggu aku untuk peka hanya akan semakin menyulitkan langkah kita. Sebab terkadang otakku terlalu bodoh untuk membaca hati. Jika kamu terluka, katakan saja barangkali aku bisa menyembuhkan. Terlalu lama menyimpan luka bisa membuatnya semakin memburuk dan memperluas luka itu. Aku ingin kamu dan aku saling berbagi. Aku ingin apa yang kita bangun selama ini menjadi lebih baik lagi. Aku ingin menjadikanmu bagian terpenting dalam rencana yang sedang aku usahakan ini.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae