TOL TRANS JAWA

JALAN TOL TRANS JAWA YANG MEMIKAT IBU SAYA

Jalan tol trans jawa ndilalah tahun ini jadi. Ndilalah-nya juga jalan tol itu lewat dekat rumah saya. Rumah saya sendiri sebenarnya berada di kecamatan sebelah. Kecamatan saya jaraknya sepuluh kilometeran dari gerbang tol Weleri yang jadi titik awal jika saya ingin melakukan perjalanan via tol trans jawa. Tapi ya tetap saya bilang dekat. Setidaknya masih satu kabupaten lah.

Sebagai warga yang penasaran bagaimana rasanya jalan tol baru sayapun bergegas mencoba. Saya ajak bapak ibu saya jalan-jalan ke Semarang via jalan tol. Tidak lewat jalan pantura Kendal-Semarang yang saya banggakan karena jalannya mulus dan tidak berlubang.

Memang luar biasa efek jalan tol baru ini. Perjalanan yang biasanya saya tempuh dari Weleri ke Semarang yang memakan waktu satu setengah jam bisa berkuran hanya menjadi setengah jam saja jika menggunakan jalan tol. Tapi untuk tembus setengah jam itu mobil Daihatsu Taruna tahun 2000 milik bapak saya sudah ngos-ngosan dan mau copot kap mobilnya.

Komentar bapak dan ibu saya bermacam-macam. Ibu berkomentar kalau jalan tol ini sangat sepi. Hanya ada kendaraan-kendaraan pribadi dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam yang berarti jalan sangat lengang.

Bapak saya menyambut komentar ibu saya dengan menunjuk saldo tol yang berkurang drastis. Menurut beliau jalan tol tentu saja akan selalu sepi jika tarif yang diberlakukan semahal ini. Truk-truk ekspedisi pasti juga tidak akan mau lewat sini.

Saya ya hanya mendengarkan sambil tetap fokus memandang ke depan. Ya gimana, namanya juga supir. Harus tetap konsentrasi mengendarai Daihatsu Taruna yang mau copot kapnya akibat digeber melebihi batas kemampuan.

Beberapa kilometer ke depan fokus saya runtuh. Penyebabnya adalah ibu yang nyeletuk kalau beliau ingin lewat jalan tol ini ketika mudik lebaran nanti. Mak bedudak, saya tentu saja kaget.

Sudah jadi kebiasaan keluarga kami untuk mudik waktu lebaran. Bukan, bukan sebelum lebaran. Literally saat lebaran. Biasanya setengah hari di pagi setelah shalat ied, kami sekeluarga akan ada open house. Ya sekedar bersilaturahmi dengan tetangga sekitar. Baru setelah menunaikan shalat duhur kami akan meluncur ke Salatiga. Iya, Salatiga. Kami mudik dari Kendal ke Salatiga yang jaraknya tidak sampai seratus kilometer.

Yang jadi penyebab kagetnya saya tentu saja karena jalur yang diajukan untuk kami lewati besok saat mudik adalah jalan tol baru. Biasanya kami melewati jalan alternatif melalui Temanggung untuk bisa sampai ke Salatiga. Faktor suhu udara yang sejuk dan jalanan yang sepi jadi pertimbangan kami untuk selalu menggunakan jalan itu saat mudik tiba. Lha soalnya kalau tidak melalui alternatif di Temanggung bawaannya emosi terus kalau melewati Ungaran. Macet e ki lho raumum.

Saya tahu kalau tol yang sedang kami lalui ini bisa tembus langsung ke Salatiga. Bahkan bisa langsung keluar di tujuan yang kami tuju. Tapi saya tidak mau melewatkan bakso langganan saya di Temanggung sana. Dan kemudian sate sapi suruh langganan kami yang letaknya di jalur alternatif itu. Malasnya kalau keluar tol di Salatiga, saya harus berputar-putar untuk cari jalan keluar menuju sate sapi suruh itu. Lha kalau putar-putarnya terlalu lama ya bisa-bisa nyonya besar tidak sabar dan memilih langsung pulang ke rumah eyang. Tidak mampir jajan.

Argumen dari a-z sudah saya keluarkan. Saya mati-matian mempertahankan agar kami lewat jalur alternatif Temanggung.

Lha ibu saya menjawab dengan entengnya “Ridho ibu ridho Allah. Ibu ridhonya lewat jalan tol ini. Kalau lewat jalan lain nanti ada apa-apa.”

Lha kalo sudah begini saya ya langsung kalah. Saya pilih kembali fokus nyetir saja dan berharap lebaran nanti dapat THR dari beliau sebagai supir.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae