Jajan : Magelang, Yogyakarta, Semarang Day 1

Jajan : Magelang, Yogyakarta, Semarang D-1

Mini culinary trip jadi pilihan untuk mengisi liburan. Saat dulu masih menjadi mahasiswa, wisata kuliner sepertinya jadi hal yang tak lazim untuk liburan. Mengunjungi tempat wisata alam sepertinya lebih jadi prioritas. Wisata alam yang terkesan sulit untuk dituju. Sulitnya medan untuk sampai di obyek-obyek wisata dan jarak yang butuh berjam-jam untuk melaluinya menjadi tantangan tersendiri. Biasa, mahasiswa masih menyukai tantangan. Karena dibalik tantangan itu sesungguhnya ada ganjaran. Ganjaran yang setimpal yaitu berupa pengakuan dari para followers berupa like di feed Instagram. Tibalah saatnya untuk mencari konsep liburan yang berbeda.

Magelang, Yogyakarta dan Semarang terpilih sebagai tiga destinasi utama. Magelang terpilih karena memori selama sebulan hidup di Kota Sejuta Bunga ini. Untuk destinasi kedua sudah tidak perlu disebutkan keagungan kulinernya. Kota, yang memang dikhususkan oleh negara itu, menyimpan banyak sekali kuliner dari berbagai macam aliran. Western, oriental, serta asli Yogyakarta semuanya ada. Dan untuk kota yang disebutkan terakhir, terlalu banyak kenangan untuk tidak berkunjung.

Kupat Tahu Pak Slamet – Magelang

Jalan-jalan di Magelang, pemandangan warung-warung yang menyajikan kupat tahu ada di sepanjang jalan. Membuat lidah siapa saja tergoda untuk mampir barang mencicip. Dan di Jalan Tentara Pelajar dekat dengan alun-alun seperti menjadi pusat dari semua kupat tahu. Warung-warung kupat tahu berjejeran menjajakan kupat tahu dengan berbagai macam hidangan pendampingnya.

Kupat Tahu Mgl Yogyakarta
Kupat Tahu Pak Slamet- Magelang

Pilihan jatuh pada Kupat Tahu Pak Slamet. Salah satu yang terkenal di Magelang. Saya juga tidak begitu mengerti kenapa kupat tahu Pak Slamet begitu terkenal. Kupat tahu menurut lidah saya sama saja. Begitu pula dengan kupat tahu yang satu ini. Kupat dan tahu disajikan bersamaan, ditambah dengan sayur kol dan kecambah, ditaburi dengan bawang goreng dan seledri. Tidak lupa disiram dengan kuah sambal kacang dan asem. Rasa kupat tahu begitu khas karena kuah asemnya, sudah menjadi ikon kuliner tersendiri di Magelang, sehingga seperti ada yang kurang jika tidak mampir barang seporsi jika lewat Kota Sejuta Bunga ini.

Kedai Darling – Yogyakarta

Saat bingung mau makan malam apa, ide makan malam ala Jepang dapat acc. Ide dari partner kuliner saya di Jogja kali ini, kekasih saya sendiri. Sebenarnya saya sudah sering makan ala-ala seperti yang satu ini. Saat masih mahasiswa makan ala shabu Jepang jadi rutinitas bulanan bersama teman. Bedanya yang saya kunjungi biasanya yang all you can eat, alias makan sepuasnya. Beda dengan yang satu ini yang budget oriented. Tentu yang dimaksud budget oriented di sini adalah porsi normal. Berbeda jika all you can eat dimana sering terjadi pelecehan antar teman jika seseorang berhenti makan duluan.

Kedai Darling menyuguhkan dua menu andalan. Mukidi dan Sukiyem. Terdengar unik kedua nama itu. Seperti nama orang Jawa. Tapi percayalah, kedua nama itu mewakili nama makanan. Terpilihlah Mukidi seperti gambar di bawah ini.

Mukidi Yogyakarta
Mukidi – Menu andalan Kedai Darling

Setelah pesan Mukidi, waiter segera menyiapkan pesanan. Yang pertama datang adalah sumpit, mangkuk kosong dan sendok. Bagi yang sulit menggunakan sumpit seperti partner kulineran saya, sendok bisa jadi alternatif. Kemudian datang dua mangkuk nasi, dan dua jenis sambal. Sambal yang satu rasanya asam, saya pernah merasakan dan tidak terasa asing. Seperti di shabu kebanyakan, mungkin itu yang dinamakan suki. Kemudian ada sambal biasa ala-ala Indonesia. Datanglah tungku untuk masaknya. Benar-benar enak pemilik kedai ini, pelanggan suruh masak sendiri. Tapi di situlah letak kenikmatannya. Satu tungku, dua fungsi. Bisa untuk grill, bisa untuk rebusan dengan kuah pilihan Tom Yum.

Untuk bahan-bahan utama, terdiri dari daging dan sayur. Di lini hewani, ada beef ada ayam dan berbagai macam olahan daging seperti baso dan otak-otak, yang membutuhkan waktu matang lebih lama. Sedangkan di lini sayuran, ada sawi, jamur, wortel, dan bihun. Cukup worth untuk dua orang dengan harga tujuh puluh ribu rupiah.

Suasana di Kedai Darling sangat ramai. Tempat ini terletak di Jl. Urip Sumoharjo No.3, Klitren, Gondokusuman ini berjajar bersama berbagai kedai lain. Pengunjung akan disuguhkan susana ala foodcourt. Makan di sini kurang nyaman meskipun menu yang ditawarkan sangat lezat. Pengamen dan pengemis yang bebas masuk mengurangi selera makan saat saya menyantap hidangan senikmat dan selezat Mukidi yang saya gunakan untuk menutup jajan hari ini.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae