instagram

Instagram dan Alasan Saya Menghapusnya

Entah ada yang peduli atau tidak waktu saya menghilang dari peredaran feed instagram. Saya tidak begitu peduli. Rasanya tidak cukup kalau hanya menghapus aplikasi dari hp kesayangan. Masih akan ada orang stalking ataupun orang nge-tag. Jadi lebih baik saya matikan saja akun saya. Saya juga tidak merasa rugi.

Sempat sharing dengan teman kantor soal menghapus akun instagram. Terang-terangan dia memandang saya dengan sebelah mata. Seakan tersirat “ini orang, katak di dalam tempurung” Ya memang tidak tersirat amat sih, sebab dia berkata “kalau saya hapus instagram, saya akan ketinggalan berbagai macam berita” Berita apa sih yang sebenarnya dia maksud, kalau setiap hari yang dibicarakannya hanya pasangan capres dan cawapres nomor urut dua. Hadeh, bosan.

Kembali lagi ke topik utama. Alasan saya menghapus akun instagram sekaligus aplikasi dan tetek-bengeknya.

Pertama, memanjakan para followers instagram benar-benar melelahkan. Followers instagram cenderung akan komentar pada hal-hal yang WOW, yang jarang saya lakukan, dan sekalinya dilakukan itu membutuhkan usaha ekstra keras. Saat buat story biasa-biasa saja, ya sebut saja story membuat indomie goreng telur. Tentu tidak akan ada yang reply. Ya namanya saja tidak aesthetic. Betul begitu?

Untuk memanjakan para followers, perlu yang namanya modal. Entah itu waktu atau biaya. Kalau waktu adalah uang, berarti memanjakan para followers butuh biaya ekstra alias dobel. Waktu, ya sebut saja saya ingin memanjakan para followers dengan foto matahari terbit. Saya harus bangun pagi-pagi. Susah. Lalu ada ide upload foto outfit. Saya harus beli jaket inilah, sneakers inilah, topi itulah, jam tangan itulah. Wong saya sehari-hari saja sendalan, pakai boxer bunga-bunga, terus baju oblong kendor.

Kedua, bosan dengan personalized content. Buat yang belum tahu apa itu personalized content, saya jelaskan kasarnya ya. Jadi instagram itu akuisisi data kebiasaan kita saat browsing di platformnya. Foto apa saja yang kamu like, akun apa saja yang kamu ikuti, komentarmu seperti apa saja. Nah ini berguna untuk si instagram buat menampilkan konten apa saja yang berdasarkan analisis data mereka sesuai dengan seleramu. Entah itu untuk iklan, ataupun foto dan video yang akan muncul di halaman explore.

Sekali masuk, like, komen, dan follow maka yang ada di feed hanya itu-itu saja. Explore justru tidak bisa memberikan hal-hal baru di luar kesukaan saya. Saya sering like foto-foto komputer dan gadget. Iklannya ya tentang komputer dan gadget. Itu sungguh menyiksa. Uang saya ini tidak seberapa, kalau terus-terusan diiming-imingi gadget mahal, tekor saya pak. Soal explore, saya juga kurang setuju. Konten yang disajikan ke saya isinya hanya anime-anime. Karena saya sering like foto dan videonya. Apalagi anime-nya hanya One Piece dan Boruto saja. Itu-itu saja. Bosan. Beri saya konten seperti pendakian, atau konten kerajinan. Biar aktifitas saya tidak itu-itu saja, begitu bisa?

Ketiga, story kamu di sebelah kiri terus. Kamu, iya kamu. Segala teman-teman saya dan juga kamu. Satu lagi monoton-nya instagram bagi saya ya ini. Saya dituntut berinteraksi hanya dengan orang itu-itu terus. Sekali dua kali saya reply story orang, orang itu bakal ada di paling atas sebelah kiri saat pertama kali instagram dibuka aplikasinya.

Ibaratnya kalau lagi sebel sama orang gara-gara doi pamer mulu soal kerjaan, soal pacar, soal harta, nah akan semakin buruk bagi saya. Pertama lihat dia pamer A, saya sok-sok basa-basi dengan reply sekenanya. Kemudian dia muncul lagi di feed sebelah kiri waktu pamer B. Saya mulai sebel, ini orang kok pamer terus sih. Kemudian berikutnya saya buka instagram, dia pamer C lagi-lagi di sebelah kiri. Saya nggrundel. Buka lagi, sebelah kiri lagi. Buka lagi sebelah kiri lagi. Pamer lagi. Astaga, tidak habis-habis.

Selalu diingat ya, saya tidak mengajakmu hapus akun instagram. Saya tidak pernah bilang itu. Saya hanya merasa instagram kurang sehat buat saya. Di sana perlu waktu dan biaya untuk memberikan citra yang disukai orang lain. Hidup saya terlalu singkat untuk membahagiakan orang lain. Lebih baik saya bahagia sendiri saja.

Jangan bahagia sendiri deh, bahagia bersama kamu saja.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae