HUJAN KOTA INI

Semalam, kota ini diguyur hujan lebat. Di bawah atap sebuah ruko aku berteduh lalu teringat akan beberapa kenangan. Kita pernah berjalan bersama-sama, walau sekarang arah yang kita tuju berbeda.

Alur cerita kita begitu sempurna. Janji-janji kita begitu manisnya. Rencana masa depan kita sungguh indah bila terlaksana. Kita seakan mendahului Tuhan dalam hal menata masa depan. Aku kira wajar kalau aku merindukan kita yang dulu. Kamu adalah nama dalam setiap doaku, tapi ujungnya kamu adalah seseorang yang aku harap lupakan.

Begitu hujan lebat itu reda, aku kembali melanjutkan perjalanan. Kembali menyusuri kota ini, melewati tempat-tempat penuh memori. “Kita akan bertemu lagi di kota ini.” katamu saat kita berboncengan dulu.

Bagaimana kabarmu? Apakah baik-baik saja? Aku ingin kita menceritakan hal-hal kecil seperti waktu itu. Aku ingin dialog-dialog ringan kala dulu. Tapi mulut ini tidak mampu. Aku hanya mampu bercakap dengan tempat-tempat kita sering meluangkan waktu. Dengan harapan kamu akan kembali kesini, lalu mereka akan menyampaikan pesanku.

Aku rasa percuma. Ingatan itu sudah terkubur bersama waktu. Aku yakin kamu tidak lagi mengingatku. Sudah berproses seperti apakah kamu aku tidak tahu. Kita terlalu angkuh untuk saling menyapa. Walaupun itu hanya lewat pesan singkat saja. Sama persis dengan kesepakatan kita waktu berpisah.

Mengedepankan gengsi adalah sifat kita berdua. Terlalu sombong untuk menyapa walaupun di hati ingin berkata. Tapi kalau memang dirasa itu yang terbaik untuk menghindari luka? Aku akan melakukannya dengan sukarela. Kamu pasti memikirkan hal yang sama.

Ponsel berbunyi menandakan adanya pesan masuk. Aku lihat dari seorang kawan. “Sudah sampai mana? Cepatlah jangan lama-lama. Hujan di kota ini memang seperti itu. Mendungnya terbentuk dari rindu. Airnya mengandung kenangan. Aku sudah menduga kamu akan basah karenanya. Tapi cepatlah. Hidup harus terus bergerak.”

Aku usap air hujan yang menetes di mukaku. Benar kata temanku. Aku rasa ini saatnya melangkah maju.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae