Habis Manis Sepah Dibuang Tapi Hidup Harus Terus Berjalan

Habis manis sepah dibuang. Mungkin peribahasa ini dibuat memang karena benar adanya. Semua akan musnah pada waktunya. Entah itu barang-barang yang kita sering pakai, hutan yang lebat, lingkungan yang bersih, hingga buku-buku yang dimakan rayap. Semua tergantung pada si pengguna akan diapakan semua yang sudah rusak itu. Akan selalu ada pilihan. Memperbaiki atau menggantinya dengan yang baru. Perbaiki jika memang bisa diperbaiki. Kalau tidak bisa? Ya jangan dipaksa. Memaksakan sesuatu yang sudah tidak bisa dilanjutkan sama saja menuntun ke kerusakan yang jauh lebih parah. Yakinlah kalau sesuatu yang usai akan memunculkan hal lain yang lebih indah.

Aku ingat kamu pernah berjanji bahwa kamu tidak akan berubah. Kamu akan tetap seperti dulu untuk selamanya. Namun seiring waktu perasaanmu berubah. Tapi memang waktu itu aku tidak begitu terbuai. Sebab aku yakin cepat atau lambat semuanya akan berubah. Kesiapan kita yang diuji akan hal itu.

Hidup terus berjalan. Siang akan berubah menjadi malam. Ulat akan berubah menjadi kupu-kupu. Awan akan menjadi hujan. Pemikiran akan tumbuh dewasa. Orang asing akan menjadi kekasih. Kekasih akan menjadi orang asing. Tapi manusia diciptakan untuk bisa beradaptasi di segala kondisi. Untuk tetap tertawa walau hati terluka. Dan untuk tetap bisa terlihat kuat walaupun hati sedang sekarat.

Kita yang sekarang ini terbentuk dari orang-orang yang pernah kita kenal di masa lalu. Mari berterimakasih pada mereka yang sudah memberikan bahagia dan luka. Karena tanpa mereka kita tidak akan berada sejauh ini. Mereka sudah mengajarkan arti percaya. Walaupun mungkin mereka mengajarkannya dengan kebohongan.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae