demo

Demo

Tentang demo

Setelah aku buka Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhirnya aku tahu arti kata demonstrasi. Aku melihat arti dari demo adalah protes yang dikemukakan secara masal. Pantas saja ramai masyarakat jauh lebih banyak dibanding tim pengamanan dari kepolisian atau TNI. Di segala sudut terpampang jelas kertas putih bertintakan merah. Terbaca dari kejauhan suara-suara yang menuntut kejelasan. Di depan para demonstran berdiri pihak yang bertanggungjawab untuk menjawab protes warga. Di seberangnya berdiri juru bicara demonstran yang dengan tegas menyampaikan suara yang dia wakilkan.

Inti dari demonstrasi adalah protes. Protes terjadi karena apa yang diinginkan dan apa yang terjadi tidak sejalan. Warga protes disebabkan pembebasan lahan. Apa yang mereka inginkan soal ganti rugi tak kunjung terjadi. Malah mereka sudah terusir dari rumah sendiri. Sedih bukan mendengarnya. Berjuta kenangan dan harapan tentu tersimpan di sebuah hunian. Mungkin beberapa dari mereka lahir di rumah itu, hidup di lingkungan itu, membangun keluarga di kampung itu. Tapi sekarang nasibnya terusir dari rumah sendiri. Tanpa ganti rugi dilunasi, ditendang dan dibiarkan. Mereka ini manusia, wajar jika mereka bersuara.

Tentang pembebasan lahan

Tempo hari kusaksikan sendiri bagaimana anak-anak kecil bermain bola tanpa peduli alat berat yang mengerumuni. Benar-benar asyik. Bola di umpan ke kanan dan ke kiri. Satu anak lari mengejar umpan terobosan kawannya. Anak yang lain dengan sigap menghadang. Di tempat lain golongan anak perempuan bermain lompat tali. Dua orang memegang karet, satu anak bersiap melompat dan satu yang lainnya menunggu giliran. Kemudian lewat penjual es cendol keliling yang membunyikan bunyi khasnya untuk memanggil pelanggan. Beberapa anak berlarian mengejar si tukang es cendol sambil memegang uang kecil untuk melepas dahaga mereka. Aku jadi rindu masa kecilku. Seringku lakukan hal yang sama waktu kecil dulu. Tak tahu waktu. Pulang saat azan berkumandang.

Semua rindu itu perlahan menghilang saat aku tersadar akan jahatnya kami orang dewasa yang memisahkan satu anak dengan anak yang lainnya lewat penggusuran. Mungkin suatu hari salah satu dari mereka akan menangis karena tak kuasa menahan rindu bermain bola bersama. Atau terbayangkan oleh benak kita, mungkin di tempat yang baru mereka tidak bisa bermain lompat tali seperti sekarang ini. Atau bahkan di tempat yang baru, tidak ada tukang es cendol untuk dikejar. Mungkin juga anak lainnya akan menjelma jadi anak nakal karena lingkungan baru yang tak ia kenal. Akan jadi apa mereka setelah terpisah dengan teman-temannya tidak ada yang tahu.

Begitulah pembangunan. Tidak bisa dihentikan. Tidak mungkin pembangunan yang masif layaknya truk yang melaju kencang terhenti karena kerikil kecil yang menghadang. Pembangunan untuk melancarkan segala hal, tidak mungkin dihentikan hanya demi menuruti rintihan anak kecil bukan. Memang pembangunan akan membuat suatu negara menjadi jauh lebih baik. Negara-negara maju sudah punya bangunan-bangunan dan infrastruktur yang memadahi. Yang sudah pasti menunjang segala urusan perekonomian. Ah siapa aku ini, seperti tahu saja soal ekonomi. Tapi setidaknya ada satu harapan dari pembangunan yang berkepanjangan. Semoga tidak dijadikan ajang pencitraan orang-orang berkepentingan. Semoga niat tulus membangun itu benar-benar ada.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae