Datanglah ke Kampus, Niscaya Skripsi Cepat Selesai

Skripsi, sebuah bukti seorang mahasiswa layak untuk menuju jenjang lain setelah mengais ilmu di perguruan tinggi. Jika ada pembanding yang hampir setara, kita bisa ambil ujian nasional untuk sekolah menengah. Memang belum seberapa jika dibanding dengan skripsi. Skripsi sendiri ada di “another level” untuk dilalui. Skripsi punya kesulitan khas. Dari menentukan judul saja sudah bisa dilihat akan ada puluhan bahkan ratusan masalah yang akan dihadapi. Padahal menentukan judulnya saja adalah masalah tersendiri.

Bagi sebagian orang menentukan judul saja menyita waktu. Mereka terlalu mempertimbangkan resikonya, seakan tidak ada solusi untuk setiap masalah yang akan dihadapi. Mempertimbangkan banyak hal, mengumpulkan berbagai macam teori yang pada akhirnya memunculkan satu pertanyaan besar “kapan akan memulai?”. Tidak akan ada yang selesai jika hal itu sendiri tidak dimulai.

Di tahap mengawali langkah sudah berat, tentu akan lebih berat lagi saat sudah berkecimpung di dalamnya. Kiranya saya akan ambil contoh pada diri saya sendiri saat saya berjuang menyelesaikan skripsi saya.

Judul sudah ada, proposal sudah disetujui, sayapun dengan yakin melangkah. Saya mulai mengumpulkan referensi agar bisa saya tuangkan dalam draft di komputer saya. Tidak hanya untuk draft, diagram alir penelitian saya pelajari hingga benar-benar mengerti. Saya merasa sangat percaya diri bisa menyelesaikan skripsi ini dengan mudah. Sampai suatu saat dimana saya mengalami yang dinamakan titik terendah dalam proses pengerjaan skripsi.

Data yang saya ajukan untuk penelitian belum jelas sumbernya. Tepatnya saya belum berpikir jauh darimana data penelitian akan saya ambil. Apa dosa saya sehingga saya tidak memikirkan sejauh ini. Kenapa pula para pembimbing saya tidak melarang saya mengambil skripsi ini. Terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Lanjutkan skripsi yang belum jelas masa depannya ini atau berhenti, dan mengulang dari awal.

Opsi pertama saya ambil. Tidak ada kata mundur. Saya sudah kepalang tanggung masuk ke lembah penelitian tentang tema ini. Tema yang belum jelas bagaimana kelanjutannya. Dua bulan mangkrak menunggu sesuatu yang tidak pasti. Yang bisa saya lakukan hanya berdo’a karena saya merasa saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan data penelitian. Padahal jika ditengok, saya belum ada usaha

Hidup saya dipenuhi kabut ketidakpastian. Apa yang saya lakukan tiap hari jauh dari kata produktif. Bagaimana mau produktif sedangkan yang dikerjakan tidak ada. Titik terendah saya selama menjadi mahasiswa. Hari-hari dipenuhi perasaan bersalah karena setiap hari seperti tidak ada progres. Progres ke arah skripsi yang selesai, skripsi yang ditandatangani oleh pembimbing. Dalam hari-hari itu malu rasanya untuk ke kampus. Malu jika harus bertemu teman-teman karena topik yang akan dibahas sudah pasti skripsi. Saya mengurung diri di kos, dan hanya keluar jika ingin makan.

Tuhan memberikan sebuah jalan bagi saya. Mungkin inilah yang dinamakan titik balik. Saat saya menyentuh titik terendah di situ semua seperti akan kembali ke atas. Satu dari teman saya telah menyelesaikan skripsinya. Lalu apa hubungannya, toh itu hanya teman saya yang menyelesaikan, bukan saya sendiri. Tapi dari sinilah pikiran saya terbuka. Berawal dari hanya memberikan selamat, yang saya takutkan jadi kenyataan, apalagi kalau bukan membahas skripsi bersama teman-teman.

Saya terlalu berprasangka buruk. Begitu buruknya saya menganggap obrolan skripsi. Semua tidak seperti yang saya pikirkan. Pikiran tentang teman-teman yang pamer akan progres skripsi mereka ternyata salah. Tetapi justru bermacam-macam inspirasi tentang bagaimana menuntaskan permasalahan skripsi saya. Saya menyalahkan diri sendiri. Naif sekali saya berprasangka buruk padahal mereka ada untuk saya. Bahkan yang lebih baik lagi, bukan hanya mereka yang memberi saran ke saya, tapi saya juga berbalik memberi saran ke mereka. Apa? Apakah ini benar-benar saya yang memberi bantuan ke orang lain?

Mulai hari esoknya setelah titik balik, saya memutuskan untuk membuat perubahan dalam hidup saya. Saya menjadi rajin ke kampus. Walaupun tidak ada keperluan berarti. Sekedar ngobrol bersama teman, ke kantin bersama, dan menyapa dosen pembimbing tentunya. Pada akhirnya tanggal tiga puluh satu Agustus tahun dua ribu tujuh belas saya menyelesaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa.

Dalam proses menyelesaikan skripsi, setiap mahasiswa punya masalah yang berbeda-beda. Tidak ada yang sama. Bahkan ada yang masalahnya sangat berat, ada yang ringan bagaikan kerupuk. Berat, sedang, atau ringan semua tergantung pada dirinya menyikapi masalah itu. Seperti yang saya tuliskan di sini. Bijakkah jika mahasiswa mengurung diri, menyimpan segala kesulitan yang dihadapi sendiri. Padahal jika dia mau membuka diri, di luar sana, di kampus tepatnya ada orang-orang yang siap membagi solusi akan setiap masalah yang kita hadapi, masalah soal skripsi.

Memang teman tidak akan ikut campur membantu secara langsung. Mereka bahkan punya masalah mereka sendiri. Tetapi informasi dan saran yang mereka berikan adalah saran terbaik, saran yang ikhlas. Saran yang bahkan dalam kasus saya telah membantu untuk mendapatkan gelar sarjana.

Semua mahasiswa mengalami kesulitan saat mengerjakan skripsi. Berdiam diri dan tidak melakukan apapun adalah langkah paling bodoh. Berharap menunggu mukjizat yang hanya diturunkan pada Nabi adalah sebuah khayalan tingkat tinggi. Inspirasi dan solusi sudah tersedia di sana, di kampus. Tergantung bagaimana respon, mau mencari atau ingin didatangi.

wisuda

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae