camar

Camar Memar dan Nyiur Hadap Timur

Saat sore tiba ada begitu banyak detil asing yang terlihat. Detil ini hanya terlihat saat senja. Tidak akan terlihat di waktu-waktu yang lain. Jangankan malam dengan bulannya yang memantulkan cahaya redup, di siang hari dengan matahari terik pun tidak akan dijumpai detil-detil yang hanya muncul saat senja tiba. Tidak perlu dicari dengan kaca pembesar detil-detil itu. Atau teropong yang dipakai melihat bintang saat malam. Bahkan sampai memotong senja untuk diletakkan di bawah mikroskop dengan perbesaran lima ribu kali pun tidak diperlukan. Yang diperlukan hanyalah mata telanjang. Itu saja sudah cukup.

Dua dari banyak detil sore yang sangat mudah dilihat adalah camar memar dan nyiur yang menghadap ke arah timur. Dua benda yang hanya bisa dilihat dengan jelas saat matahari kembali ke horizonnya. Memunculkan warna kuning kemerah-merahan. Dengan awan yang mulai berubah menjadi ungu di kejauhan. Warna-warna yang hanya akan ditemui saat langit senja tiba. Saat matahari akan kembali ke peraduannya. Yang perlu dilakukan adalah duduk diam di pinggiran pantai. Kemudian mendengarkan suara ombak penari. Lalu tatap horizon, akan terlihat nyiur hadap timur dan camar yang memar di sekujur tubuhnya.

Pergi ke pantai menghadap matahari senja maka akan terlihat siluet hitam berbentuk angka tiga menghadap bawah. Tadinya sebuah titik kecil. Seiring dengan turunnya matahari, dia akan berubah menjadi angka tiga yang menghadap ke bawah. Semakin gelap maka akan terlihat oleh para penikmat senja, camar dengan memar di sekujur tubuhnya. Di paruhnya ada bengkok. Di kelopak matanya ada memar. Di kaki-kakinya ada darah. Di sayapnya ada bulu-bulu rontok. Camar-camar ini seperti porak-poranda ketimpa angin puting beliung yang dahsyat lalu terjatuh ke batu tajam di atas tanah. Benar-benar iba bagi siapa saja yang melihatnya.

Camar-camar itu benar-benar aneh. Mereka terbang rendah seperti sudah tidak kuat lagi untuk terbang. Terbangnya tak seimbang. Ada camar yang terbang berat di sisi kanan, ada juga yang terbang berat di sisi kiri. Kadang mereka mencoba terbang tinggi tapi tak kuat menantang hembusan angin sore. Camar-camar di pantai ini aneh. Sungguh aneh. Tidak ada camar di tempat lain yang seperti ini. Camar di tempat lain akan terbang tinggi. Menukik untuk mematuk ikan tangkapannya. Tidak seperti camar di sini yang selalu babak belur sesaat setelah senja datang. Camar yang memar.

Ada sebuah cerita rakyat di desa tempat pantai itu berada. Cerita itu berasal dari nelayan penangkap ikan yang hidup ratusan tahun lalu di tempat camar tinggal. Cerita itu tidak ada yang tahu benar atau tidaknya. Cerita tentang camar yang selalu babak belur saat sore tiba. Hanya ada sedikit orang percaya. Yang lainnya jangan ditanya.

Dikisahkan di cerita nelayan, ada sebuah pohon nyiur. Buahnya banyak dan daunnya lebat. Membuat siapa saja orang ingin memanjat untuk meminum buahnya. Nyiur ini menghadap timur. Membelakangi langit senja yang ada di barat. Lebat, sangat lebat. Banyangan nyiur dari cahaya senja akan begitu gelap. Tidak akan ada yang bisa melihat langit senja dari arah sebaliknya. Nyiur ini berdiri di atas gundukan pasir yang menyembul dari bawah permukaan air laut. Daun-daunnya yang sering jatuh ke laut membuat air di sekitar gundukan pasir dipenuhi ikan-ikan. Begitu banyak jenisnya. Ikan dari seluruh penjuru lautan akan ke sini. Daun-daun nyiur memberikan tempat untuk ikan-ikan untuk berkembang biak. Melestarikan keturunannya. Ikan melimpah, pemangsa juga melimpah.

Camar-camar pantai mengendus banyaknya ikan di sekitar nyiur. Nyiur yang berhasil memberikan tempat tinggal untuk ikan, menjadi tempat camar menunggu makanannya. Nyiur yang menutupi senja ini begitu menggoda untuk para camar yang suka terbang di langit senja untuk meninggalkan senjanya. Untuk makan. Untuk memenuhi perut mereka. Dengan hanya membayarnya dengan melewati sebuah senja.

Camar-camar tidak peduli. Mereka hanya mempedulikan perutnya. Ikan-ikan terlalu banyak untuk tidak di makan. Tujuh turunan camar pun ikan-ikan di sini tidak akan habis. Mereka hanya perlu berkorban sebuah senja untuk bisa mendapatkan ikan-ikan itu. Dalam benak camar-camar, senja bisa datang lagi kapan saja. Berkorban sebuah senja, tak ada apa-apanya daripada beribu ekor ikan di sekitar nyiur yang menghadap timur.

Beberapa waktu berlalu sejak camar-camar datang ke nyiur hadap timur. Nyiur yang memberikan rumah bagi para ikan, dan tempat makan bagi para camar. Camar-camar ini sekarang merasa mereka tidak perlu susah payah lagi mengelilingi tujuh lautan untuk mencari ikan. Mereka hanya perlu berkorban sebuah senja setiap harinya untuk menikmati santapannya.

Lama-kelamaan camar-camar merasakan kehampaan. Perut mereka penuh. Lidah mereka terpuaskan. Hasrat mereka terturuti. Tapi semua itu hampa. Mereka merasa kosong. Ikan-ikan sekarang ini begitu tak menarik selera. Warna ikan yang abu-abu dengan bau amisnya begitu membosankan. Semakin banyak mereka makan ikan, semakin mereka merasa kehampaan yang teramat dalam. Camar begitu kebingungan bagaimana bisa mereka seperti ini padahal kebutuhannya tercukupi. Mereka terus menerus mencari hal yang tak pasti. Berharap bisa sembuhkan segala kehampaan. Semua camar merasakan hal yang sama. Kehampaan. Tak terkecuali. Mereka hanya bisa terdiam dan berpikir. Kenapa ini bisa terjadi.

Suatu hari ada seekor camar di antara camar-camar yang merasa hampa terbang ke puncak nyiur hadap timur. Puncak nyiur hadap timur ini hanya bisa bertengger seekor burung saja. Selebihnya akan jatuh dalam kegelapan bayang-bayang sang nyiur hadap timur. Jatuh kembali ke dalam kehampaan yang teramat dalam. Seekor camar ini camar pemikir. Bagaimana bisa segala kebutuhan tercukupi termasuk makanan, tapi camar-camar tetap merasa hampa.

Camar seekor yang ada di puncak nyiur memandang horizon. Matahari hampir terbenam. Langit sudah berwarna kemerahan. Dia pandangi warna ungu mega. Di bawahnya ombak menari-nari dengan cepatnya. Suara gemuruhnya tak luput dari pendengarannya. Camar seekor terlihat memikirkan sesuatu. Inikah kebahagiaan yang sudah lama dirindukannya. Kebahagiaan yang sederhana. Kebahagiaan saat melihat senja tiba. Melupakan segala aktifitas keduniawiannya. Menyempatkan waktu untuk melihat matahari kembali ke peraduannya. Dia kembali menemukan jatidirinya. Jatidiri seekor camar yang menikmati senja. Penemuannya dia beritahukan ke camar-camar lainnya.

Camar lain yang mendapatkan cerita camar yang tak lagi hampa bergegas menunggu senja tiba. Melepaskan segala kehampaan aktifitas dunianya. Mereka berbaris satu persatu di atas nyiur untuk bisa sampai ke puncaknya. Puncak nyiur hanya bisa ditenggeri satu camar. Yang lain harus menunggu. Senyum-senyum kegembiraan terpancar bersama cahaya senja dari camar yang sudah naik ke puncak. Kehampaan duniawi hilang, berganti senyum dan jatidiri. Mereka merasa hidup kembali. Tapi sayang, senja tak lama.

Waktu senja yang hanya sebentar membuat para camar berebut. Senja hanya sebatas sejam. Itupun masih terlalu pendek dibandingkan barisan camar yang sedang menunggu melihat senja untuk puaskan kehampaannya. Satu camar tak sabar, begitu pula camar lainnya. Benar-benar anarki. Camar itu saling berebut. Adu jotos untuk menikmati senja. Cakar yang harusnya mereka gunakan membunuh ikan, mereka gunakan untuk lukai sesama. Benar-benar anarki. Mereka semua memar, mereka semua babak belur berebut senja yang tak lama. Mereka berada di antara dilema.

“Haruskah aku diam saja tak melakukan apa-apa dan mati menunggu? Ataukah aku harus berdiri tegak perjuangkan mimpiku tapi harus babak belur seperti itu?”

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae