Paskibraka

Paskibraka di Hari Merdeka, Aku Belajar Dari Kalian.

Kembali bertemu dengan Hari Kemerdekaan yang dirayakan tiap tahunnya dengan upacara. Sudah lima tahun kalau dihitung pakai jari aku tidak ikut upacara sakral (termasuk setelah lulus kuliah) untuk mendengarkan kembali pembacaan teks proklamasi. Sudahlah, toh menonton Paskibraka dari layar kaca sama saja khidmatnya. Cukup dengan melihat Pak Jokowi beserta istri dan Pak JK bersama istri memberi penghormatan kepada sang saka merah putih, aku sudah bangga menjadi rakyat Indonesia.

Aku baru sadar peringatan Hari Kemerdekaan sudah dekat setelah diingatkan oleh tweet seseorang di Twitter. Dengan kuotanya dia mengunggah video mengenai acapela lagu “Hari Merdeka”. Sepertinya yang nyanyi Mas Tulus, atau paling tidak mirip Mas Tulus. Seketika lagu ini mengingatkan kalau sebentar lagi akan ada upacara bendera di Istana Negara. Memori masa kecil kembali muncul. Dimana saat itu sangat bangga rasanya membayangkan saat besar nanti bisa menjadi anggota Paskibraka.

Cita-cita menjadi anggota Paskibraka sempat berlalu lalang dalam pikiran. Aku membayangkan memakai baju putih dan celana putih yang menutup aurat. Kemudian di telapak tangan ada sarung tangan yang melekat dan tetap berwarna putih juga. Mungkin jika berwarna hitam dan menunjukkan jari-jari akan dianggap sebagai rider motor yang siap untuk touring. Di kepala ada peci. Tidak hanya untuk laki-laki, tapi untuk perempuan juga. Di situ aku baru tahu kalau pakaian laki-laki bisa dipakai perempuan, tetapi pakaian perempuan tidak bisa dipakai laki-laki. Rok dan celana misalnya. Oh betapa kerennya.

Tidak hanya soal pakaian, tapi juga kebanggaan bisa bertemu orang-orang besar. Mungkin jika dilihat hanya pembawa baki saja yang bisa bertatap muka langsung dengan Presiden. Seperti mba Tarrisa Maharani Dewi yang berkesempatan tatap muka dengan Pak Jokowi di upacara tahun ini. Tapi aku yakin, Paskibraka yang lainnya sebenarnya juga berkesempatan (paling tidak foto-foto) bertemu orang-orang besar atau pejabat. Wah betapa kerennya karena kesempatan itu hanya untuk mereka yang berprestasi.

Bergabung bersama salah satu sekolah menengah favorit di Semarang sebenarnya membuka jalan yang lumayan lebar untuk menjadi Paskibraka. Setidaknya itu yang terlintas saat melihat foto-foto alumni yang telah berhasil menjadi pasukan pengibar bendera di ruang BK. Mereka terlihat gagah dan keren di foto itu. Mengenakan pakaian putih-putih seperti yang aku jelaskan tadi. Wah bagaimana jika aku yang ada di foto itu. Ibu pasti bangga.

Impian menjadi Paskibraka memang hanya sebatas bunga tidur. Melihat para siswa yang mengambil ekstrakurikuler Paskibar latihan rutin saja aku sudah ogah-ogahan. Latihan paskibar sangat berat. Ada lari, push-up, dan berbagai macam latihan fisik lain. Pikirku mungkin itu latihan untuk membentuk badan agar muat jika memakai pakaian ketat. Kalau dulu aku menjadi Paskibar, mungkin badanku sekarang sudah sixpack dan tidak seperti sekarang ini.

Mempersiapkan tetek bengek untuk upacara rutin Hari Senin juga jadi bagian dari tugas siswa-siswa Paskibar. Kalau yang satu ini tidak terbayangkan. Datang lebih pagi tiap Hari Senin dimana sebelumnya adalah Hari Minggu. Tentunya kita semua tahu beratnya beraktifitas setelah hari libur. Aku rasa aku tidak siap. Tapi aku ingin se-keren siswa paskibar. Tidak, aku rasa aku tidak siap.

Ekstrakurikuler Paskibar ini masuk ke ekstrakurikuler 4P. Bersama tiga ekstrakurikuler berawalan huruf “P” lainnya, ini termasuk yang senior-juniornya kelihatan sekali. Tekanan dari para senior yang bertujuan untuk membentuk mental disiplin para juniornya tidak tertahankan jika aku lihat. Bahkan merasakan temanku yang dipersulit dalam proses keluar dari ekstrakurikuler paskibar saja membuat aku geleng kepala. Mau keluar kok susah amat.

Memang benar kalau kita ini hanya melihat kesuksesan orang lain tanpa mau merasakan bagaimana dia mencapai suksesnya itu. Segala sesuatu itu ada prosesnya. Ingin meniru orang hanya agar terlihat keren? Sebaiknya jangan jika tujuannya hanya ingin dipuji. Jangan, prosesnya terlalu berat!

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae