City vs liverpool

BAGI KAMI FANS MU, LEBIH BAIK CITY JUARA DARIPADA LIVERPOOL

Memang sepertinya Liga Inggris tahun ini milik City dan Liverpool. Dari awal musim kedua tim itu terlalu kuat. Bahkan tidak terkalahkan hingga beberapa pertandingan. Liverpool dan City yang sama-sama ngegas sejak awal, sama-sama juga bertengger di papan atas klasemen. Peringkat satu dan dua pula. City sempat drop di akhir tahun lalu, tapi sekarang bangkit lagi dan menyusul Liverpool yang juga mulai drop di awal tahun ini.

Sialnya kedua tim yang menghuni peringkat satu dan dua itu adalah keduanya rival MU. Yang satu rival sekota yang satunya lagi rival bersejarah. Saya tidak tahu jelas penyebab rivalitas MU dan Liverpool di north-west derby. Kalau soal City saya tahu dengan jelas. Rival sekota, tetangga berisik sudah setiap tahun menggema di telinga saya. Ya dimaklumi saja, bagaimana tidak tim semenjana di jaman dulu kemudian berubah menjadi raksasa bola sejak uang arab mengalir. Benar-benar tetangga yang berisik.

MU dan Liverpool sendiri setahu saya memulai rivalitas akibat sejarah pelabuhan. Kalau tidak salah dulu kala pelabuhan Manchester sempat membuat arus pelabuhan Liverpool memburuk.

Kalau memang disuruh berharap, saya tentu berharap MU juara ketimbang dua tim semenjana itu. Yang satunya tim kecil yang kemudian dapat investasi berlebih. Satunya lagi tim papan tengah yang selama saya hidup, saya belum pernah melihat mereka sekalipun mengangkat trofi Liga Inggris.

Kalau dibilang memang Liverpool ini tim papan tengah. Sejak dulu hingga sekarang. Sebut saja pemain-pemain yang menghuninya. Benar-benar tidak ada yang world-class. Sebut saja Glen Johnson. Ada lagi Jordan Henderson, Adam Lallana, Dejan Lovren. Ya pantas saja kalau prestasinya segitu-segitu saja. Akhirnya fansnya cuma bisa membanggakan sejarah. Giliran mau mencapai puncak klasemen, sang kapten terpeleset. Sial benar nasibmu Bangau.

Beralih ke tim tetangga Manchester CIty. Ya mereka ini pantas kalau juara. Melihat modal yang mereka keluarkan, akan salah besar jika tidak mendapatkan prestasi apa-apa. Masa iya seorang Pep Guardiola dengan filosofi saklek sepakbola menyerangnya yang membutuhkan pemain berkeahlian olah bola tinggi ditambah lagi didukung kekuatan finansial mumpuni tidak bisa mengalahkan tim semenjana Bangau merah yang tidak bisa berjalan sendirian. Liverpool memang baru saja belanja jor-joran untuk seorang bek tengah dan kiper, tapi ya begitulah, tetap tidak bisa dibandingkan dengan city yang sudah belanja besar sejak era Roberto Mancini.

Sejak era Ferguson pun MU lebih sering melihat City berjaya ketimbang Liverpool. Dimulai dari pertama kali Manchester City menjuarai Liga Inggris dengan dramatis dengan hanya unggul selisih gol. Di musim itu MU memang sudah berjuang sekuat tenaga hingga match terakhir. Ya apadaya kualitas Aguero memang di atas rata-rata. Sejak saat itu City berkali-kali menjuarai Liga Inggris. Dan sepertinya MU tetap adem ayem saja menanggapinya. Tetap bangga dengan zona liga champions. Mungkin sudah tertular Arsenal.

Puncak kekesalan kami para fans MU pada Liverpool tentunya terjadi musim lalu saat mereka berhasil melaju hingga ke final Liga Champions. Saya tidak habis pikir. Squad yang tidak seberapa itu dan bahkan cenderung diisi nama-nama yang tidak bisa dibilang world-class berhasil menantang Madrid di final. Ya walaupun mentalitas Madrid masih jauh lebih superior ketimbang Bangau. Lihat saja betapa menyedihkannya Karius di laga final itu. Saya sejujurnya kasihan dengan Karius. Di balik layar pasti dia menjadi bulan-bulanan teman satu timnya hingga saat ini memilih pindah. Tapi tentunya final Liga Champions masih menjadi bahan ejekan saya untuk mereka para fans Liverpool.

Mungkin fans Liverpool terlalu semangat untuk bermimpi. Mereka ingin mengulang kembali masa-masa dulu terutama di tahun 2005 saat menjuarai Liga Champions. Ah tapi tunggu dulu, mereka punya Xabi Alonso waktu itu. Bandingkan dengan sekarang yang hanya seorang Jordan Henderson. Ra mashoook.

Saya mengakui untuk musim ini performa Liverpool jauh di atas MU. Tapi saya lebih mengakui kalau itu semua karena Jurgen Klopp. Pelatih favorit saya waktu dulu dia masih melatih Dortmund. Sekarang tentu tidak karena dia melatih Bangau. Filosofi sepakbolanya benar-benar indah. Lihat saja Dortmund saat era Kagawa, Reus, Gotze, Lewandowski, dkk. Benar-benar mematahkan dominasi Bayern di Liga Jerman.

Hanya saja filosofi sepakbola yang dianut Klopp benar-benar menghancurkan fisik pemain. Pemain menjadi rentan cedera terutama di paruh kedua musim. Dari Dortmund juga sudah terlihat seberapa sering Reus bermain di akhir-akhir era Klopp melatih di Jerman. Nah saya rasa performa Liverpool di paruh kedua musim ini juga akan sama.

Bagi saya yang selama hidup di dunia belum pernah melihat Liverpool juara Liga Inggris dan juga seorang penggemar MU tentunya tidak ingin melihat mereka juara. Akan menjadi situasi yang benar-benar canggung bila pada akhirnya Liverpool juara. Beberapa kawan yang menjadi fans Bangau sudah pasti akan besar kepala dan mengolok-olok saya di dunia nyata ataupun media sosial. Saya tidak ingin itu terjadi. Tunggu sampai saya ganti generasi dululah baru boleh juara liga Inggris.

Akan lebih mudah bagi saya untuk melihat City juara. Beberapa alasan untuk mendebat para fans City yang sombong sudah saya siapkan. Terlebih lagi saya sudah sering melihat mereka juara dalam beberapa tahun terakhir ketimbang MU. Jadi mental saya sudah kuat. Tapi kalau Liverpool yang juara, saya lebih baik mengingat-ingat kenangan masa lalu daripada harus melihat Henderson mengangkat trofi.

Please follow and like us:

Mana Komentarnya? Jangan diem-diem bae